
Sudah lima hari di rumah sakit paska operasi, hari ini Fryan di jadwalkan boleh pulang ke rumah.
Ali, Aldo, dan Nita sudah pulang ke rumahnya masing-masing, sehingga yang ikut menjemput hanya kedua orangtua Fryan dan Dini.
Dua hari yang lalu, Dini menyempatkan diri untuk kembali ke kantor dengan mengajukan pengunduran diri. Statusnya yang masih tercantum sebagai karyawan training tentu tidak menyulitkan prosesnya, namun keputusan itu membuat teman baiknya terkejut.
''Ceritanya sangat panjang Kak Dira, terimakasih atas kebaikan kakak selama aku disini, semoga kita bisa berjumpa lagi ya, tetap jaga komunikasi kita.'' ucap Dini hari itu.
--
Untuk sementara, Fryan dan Dini pulang rumah ayah Wildan.
Awalnya Fryan memaksa untuk langsung pulang ke rumahnya sendiri, tetapi kedua orangtua masing-masing melarang sampai ia benar-benar sembuh baru di beri izin untuk mandiri, pilihannya dari rumah sakit hanya dua yaitu pulang ke rumah ayah Wahyu atau ayah Wildan, akhirnya mau tidak mau Fryan harus nurut dan memilih rumah ayah Wildan terlebih dahulu.
Meskipun sudah sering berada di rumah ini, ntah kenapa perasaan Dini sekarang berbeda, sekarang menjadi canggung. Apakah faktor status yang membuatnya berbeda.
''Kenapa kamu senyum-senyum?'' ujar Dini dingin karena merasa aneh dengan senyuman Fryan yang terus memperhatikannya.
''Dosa loh ketus sama suaminya.'' sahut Fryan dengan nada santai.
Dini langsung melengos kembali fokus mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam kopernya.
''Bener juga, kok jadi gini sih rasanya.. awas aja kalau dia macem-macem!'' batin Dini merasa waspada.
''Jangan di batin terus sayang, ngomong aja deh..'' ujar Fryan langsung membuyarkan batin Dini.
__ADS_1
''Aaaaa Kaprii!! seru Dini terkejut dengan ciuman yang didaratkan Fryan di pipinya karena saking sibuk dengan batinnya sehingga tidak menyadari Fryan mengambil kursi dan membawa di belakang Dini yang sedang sibuk mengeluarkan barang-barang, ditambah lagi drama batin yang tak kunjung selesai.
Sejak masuk ke kamar tadi, Fryan langsung duduk di tepi ranjang tidurnya, sedangkan Dini di lantai masih sibuk dengan barang-barangnya, tetapi tepat di depannya ada kaca lemari, saat ia tidak sengaja menatap kaca tersebut, ternyata Fryan sedang menatapnya dengan senyuman.
Tentu saja Dini merasa aneh, ia langsung kembali fokus dan tidak mau menatap kaca lagi saat memergoki Fryan sedang memandanginya.
Fryan terkekeh melihat ekspresi terkejut Dini, rasanya ingin memeluknya, tetapi ia belum bisa leluasa bergerak.
Jika berjalan ia masing terpincang, untuk jongkok saja masih terasa sakit. Maka dari itu, untuk mendekati sang istri, ia mengambil kursi dengan tangan kirinya tanpa di sadari oleh Dini yang sibuk beberes sambil membatin.
''Nggak boleh gitu sama Kakak, Kaprii!'' pekik Dini karena takut suaranya terdengar sampai keluar kamar, mengingat orangtuanya masih disana.
''Kakak?? kagak salah tuhh??'' tanya Fryan mengkoreksi.
''Auk..'' jawab Dini cuek dan langsung berdiri untuk memasukkan pakaiannya ke dalam lemari.
''Mas Fryan, Mbak Dini.. makan siang dulu, sudah ditunggu tuh..'' ujar ART dirumah ayah Wildan setelah mengetuk pintu.
Dini langsung membuka pintu yang memang tidak di kunci itu.
''Iya Bu, sebentar lagi ya, habis beresin pakaian.'' jawab Dini.
''Oke Mbak, kirain lagi ngapain hehe..'' ucap ART tersebut lirih.
''Belum bisa Bu, masih sakit nih..'' timpal Fryan yang tiba-tiba muncul dan langsung menunjukkan lengannya.
__ADS_1
Dini langsung memberikan tatapan tajam kepada suaminya.
''Oh iya, semangat ya Mas..'' ucap ART ya bernama Bu Mina itu lalu menutup mulutnya.
''Ya sudah saya permisi dulu.'' imbuhnya.
''Oke Bu, makasih ya..''
''Sama-sama Mas.."
-
Sore hari kedua orangtua Dini berpamitan dari rumah besan.
''Yang sabar, yang telaten ngurusin orang sakit, apalagi pasangan, pahalanya besar..'' ujar ibu sebelum masuk ke dalam mobil.
''Iya Bu.'' jawab Dini.
''Hati-hati ayah, ibu..'' ucap Fryan.
''Cepat sehat ya adiknya kak Dini eh anak mantu..'' ledek ayah.
''Haha bisa aja ayah mertua..'' jawab Fryan.
Dini hanya bisa tersenyum melihat interaksi mertua dan menantu itu.
__ADS_1
''Senang lihat ayah sekarang sudah bisa becanda, semoga jantungnya akan selalu sehat terus.'' batin Dini sambil membalas lambaian tangan kedua orangtuanya.