Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 47 : Kalau Nggak Khilaf


__ADS_3

''Jangan gitu lihatinnya, sana lanjutin.'' suruh Dini.


Fryan kembali terkekeh, ternyata istrinya benar-benar sedang merasakan kegugupan.


''Emang nggak boleh suami lihatin istrinya sendiri hem?'' tanya Fryan sambil mengusap kepala Dini.


''Ya-ya bo-boleh.'' jawab Dini sambil menunduk untuk menyembunyikan kegugupannya.


Fryan tersenyum gemas melihat kegugupan istrinya.


''Sekarang kita sudah menikah, sudah sah jadi suami istri. Kamu sendiri kan sayang yang minta nikah sama aku?


Namanya sudah jadi suami istri nggak mungkin dong kita cuma duduk-duduk gini aja..''


Dini langsung bergidik ngeri, tentu saja ia paham kemana arah pembicaraan Fryan, apalagi tangan kiri sang suami tak henti menyusuri area wajahnya.


''I-iya, tapi Kakak belum siap..''


''Kakak?'' tanya Fryan.


''Stop membahasakan Kakak untuk aku, aku suamimu.'' imbuhnya.


''Iya-iya maaf, lanjutin kerjamu sekarang, jangan begadang.'' ujar Dini agar pembahasan Fryan teralihkan.


Fryan tersenyum lalu menarik dagu Dini pelan sambil memajukan wajahnya.


Cup


Fryan meraih tengkuk Dini untuk memperdalam c1um4nnya.


''I love you sayang.'' ucap Fryan setelah melepas c1um4nnya lalu mengecup kening Dini sekilas.


Dini masih merasa gugup dan bingung, ia sudah tidak melakukan pemberontakan, tetapi juga belum mau membalas.


''Aku kenapa sih..'' batin Dini.


Fryan sudah kembali menghadap laptop untuk melanjutkan kerjanya, sedangkan Dini masih setia duduk di sebelah Fryan dan ikut mengawasi pekerjaan yang pernah ia handle itu.


Dini sudah merasakan kantuk, beberapa kali menutup mulut karena menguap.


''Ayok tidur.'' ajak Fryan.


''Udah selesai?'' tanya Dini.


''Udah sayang.'' jawab Fryan lalu menarik gemas hidung istrinya yang sudah memerah karena menahan nguap.


''Aduhh sakiittt!!'' pekik Dini.


''Jangan manyun gitu.. apa sengaja biar suaminya tergoda hem?'' tanya Fryan sambil menaikkan dagu sang istri.

__ADS_1


''Enggak! yaudah kamu duduk, Kakak beresin dulu.'' Dini langsung beranjak dari duduknya.


''Kakak lagi..'' protes Fryan.


''Maaf lupa..''


Dini membawa nampan ke dapur untuk langsung di bersihkan.


''Belum tidur?''


''Eh Ma, belum.. abis nemenin Fryan ngerjain laporan cafe yang kemarin belum ke handle.'' jawab Dini.


''Jangan begadang ya..'' ujar mama sambil menuangkan air minum dari dispenser.


''Iya Ma, Mama juga ya..''


''Iya sayang.''


Setelah mencuci gelas suaminya dan berbincang sedikit dengan mama mertua, Dini langsung kembali masuk ke dalam kamar.


Langkahnya tiba-tiba terhenti, pikirannya takut. Sebagai manusia normal tentu ia merasakan hal yang berbeda, untuk pertama kalinya berada di dalam satu kamar dengan suami.


''Berarti tidur satu ranjang?'' batin Dini bertanya-tanya.


Perasaannya semakin takut memikirkan masa depannya.


''Sekarang waktunya istirahat, bukan ngelamun.'' ujar Fryan lalu menciumi pipi sang istri.


''Aaaaa!! sejak kapan kamu disini? ngapain sih?'' gerutu Dini.


''Kaann.. jangan dibiasakan ngelamun sayang, nggak baik, suaminya nyamperin sampai nggak ngeh.'' sahut Fryan lalu mengecup kening istrinya.


''Ayo gosok gigi dulu.'' ajak Dini.


''Oke sayang.''


Dini dan Fryan sedang melakukan ritual sebelum tidur, yaitu menggosok gigi, cuci muka, cuci tangan, dan cuci kaki.


Dini membantu suaminya untuk mengeluarkan pasta gigi, lalu untuk dirinya sendiri.


Sesekali Fryan melirik sang istri, ia sedang berkhayal akan banyak hal. Menunggu kesembuhan total untuk dirinya.


''Ayok badan cepet sembuh, jangan lama-lama sakitnya, mari kita pergi bulan madu..'' batin Fryan.


''Kamu keluar dulu aja.'' suruh Dini.


Fryan mengernyitkan keningnya.


''Kenapa?''

__ADS_1


''Udah buruan.''


''Kebelet ya?''


''Iya.'' jawab Dini singkat.


Fryan terkekeh dan langsung keluar dari kamar mandi, ia langsung duduk di tepi ranjangnya sembari menunggu sang istri yang katanya lagi kebelet.


''Ka eh aku tidur di sofa.'' ujar Dini sambil mengambil satu buah bantal.


''Mana bisa? ya nggaklah, kita sudah menikah, sudah halal sayang.. dosa kalau tidurnya sendiri-sendiri, kayak kasurnya sempit aja.'' protes Fryan dengan sikap istrinya.


''Tapi..'' ucap Dini takut.


''Aku masih belum leluasa bergerak, jadi jangan takut suamimu ini bisa jebol gawang. Aku tunggu istriku yang cantik ini siap..'' ujar Fryan.


''Awas kalau macem-macem..'' ancam Dini.


''Iya, udah sini bantalnya balikin ke kasur, jangan kayak lagi marahan. Kasian sekali suaminya tidur di kasur, eh istrinya di sofa.''


Dengan langkah ragu, Dini kembali menaruhkan bantal ke atas kasur.


''Tidur, jangan begadang..'' ujar Dini membenarkan posisi bantal milik suaminya.


''Dilarang melewati garis pembatas.'' imbuhnya dengan meletakkan guling di tengah-tengah.


''Haha.. iya kalau nggak khilaf.'' jawab Fryan santai.


''Baca do'a dulu biar nggak khilaf, dah good night.'' ujar Dini lalu merebahkan tubuhnya di ranjang agak pinggir.


Baru beberapa menit, Dini sudah terlelap dan menuju mimpi. Sedangkan Fryan masih terjaga sambil memandang Dini yang membelakanginya.


''Nggak nyangka cara bersatunya kita harus seperti ini, lucu ya..'' gumamnya sambil mengusap kepala Dini dengan tangan kiri.


Fryan menggeser tubuhnya dan menggeser guling yang menjadi penghalang mereka, lalu duduk bersandar, tiba-tiba Dini berbalik arah membuatnya hampir terkejut.


''Masih tidur ternyata, bisa ngomel kalau kepergok.'' batin Fryan.


''Eh eh.. ya ampun dikira guling kali haha.. nggak papa deh rezeki.'' gumam Fryan karena tiba-tiba Dini meringkuk dan memeluk tangan kirinya.


''Tidur nyenyak sayang, mimpi indah.. tunggu aku sembuh, kita mulai dunia pernikahan yang sesungguhnya.'' gumam Fryan lalu menc1um kening istrinya.


Tak lama kemudian, Fryan ikut tertidur dengan posisi tangan kirinya masih di peluk sang istri.


...#######...


Maaf telat up, hari Minggu kemarin habis ada kegiatan sama teman, pulang sore kehujanan jadi kepalanya agak pusing 🤭


Terimakasih yang sudah mampir dan memberikan dukungan, tetap jaga kesehatan yaa🙏💞

__ADS_1


__ADS_2