Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 80 : Sebuah Buku


__ADS_3

Belum puas berada di kediaman Nita yang hanya beberapa hari, dengan terpaksa mereka harus kembali karena kegiatan masing-masing.


Merasa lega karena Nita memiliki mertua yang menyayanginya sehingga tidak khawatir jika Nita memerlukan bantuan.


Bagi seorang ibu yang masih baru, tentu saja banyak hal yang belum di ketahui oleh Nita.


Mobil di kendarai oleh Fryan, sedangkan ayah duduk di sampingnya.


Mereka akan bergantian saat yang satu sudah mulai lelah.


Sementara ibu dan Dini duduk di bangku belakang.


Obrolan sedang berlangsung antara Fryan, ayah, dan ibu. Sementara Dini berperan sebagai pendengar setia.


Ntahlah, pikirannya sedang tidak fokus merespon obrolan tiga orang yang sedang bersamanya.


Perkataan ibu-ibu kemarin selalu terngiang-ngiang di kepalanya.


''Kenapa sakit banget rasanya..'' batin Dini.


''Dini, tidur aja nak kalau ngantuk..'' ujar ayah saat menoleh ke belakang melihat Dini menyandarkan kepalanya.


''Iya Yah belum kok, nanti sekalian abis dari rest area.'' jawab Dini.


''Oke deh..''


Ayah kembali melanjutkan obrolannya yang tampak seru, sesekali membahas cucu barunya yang sangat menggemaskan.


Walaupun beberapa bulan lagi, ayah akan memiliki bayi sendiri.


Perbincangan ayah seakan semakin membuat Dini tertekan karena membahas cucu yang menggemaskan.


"Huhh sabar.." batin Dini.


Sementara itu di kediaman Nita dan Aldo


Pasangan orang tua baru ini masih sama-sama fokus untuk belajar menjadi orang tua yang baik.


''Kemarin ada yang ngomong ke Dini soal hamil.'' ujar Aldo sambil menimang-nimang baby Arkhan.


''Terus gimana Bang? pantesan dia kayak sedih gitu.'' tanya Nita yang langsung teringat sikap Dini kemarin.


''Kebetulan pas Abang mau ke belakang jadi denger, terus Abang panggil, yaudah abis itu terhindar dari lanjutan perkataan itu karena Dini ke kamar, tapikan sudah terlanjur beberapa di ucapkan.'' tutur Aldo.


Nita menghela nafas pelan, ia memaklumi perasaan Dini yang sedih jika mendengar kalimat seperti itu.

__ADS_1


Harusnya hal-hal seperti ini sudah bisa di hilangkan dari kebiasaan di masyarakat, karena kalimat yang menurut mereka biasa saja belum tentu si penerima bisa berfikir biasa.


Tak sedikit yang bisa menjadi down karena tuntutan dari orang-orang seperti itu.


''Kita do'ain aja Dini selalu kuat, aku akan pastikan Fryan nggak akan kemakan omongan orang-orang yang kurang support.


Lagian kenapa sih mulut orang tuh jahat-jahat banget..'' gerutu Nita.


''Kuncinya biarin aja, fokus sama orang-orang yang support.'' balas Aldo.


Setelah menempuh perjalanan jauh yang berjam-jam lamanya, akhirnya Fryan, Dini sudah berada di rumah ibu.


Sebelumnya tadi sudah mengantarkan ayah dan mengobrol sekitar 1,5 jam disana.


Dini dan Fryan menginap di kediaman ibu karena ibu dan ayah sudah sangat merindukan moment ini.


Rasanya lama sekali rumah ini terlihat sunyi karena hanya di tempati berdua oleh ibu dan ayah aja.


''Aku tidur sama ibu ya..'' pinta Dini membuat Fryan langsung menoleh karena terkejut.


''Lah suamimu gimana?'' tanya ibu merasa tidak enak dengan menantunya.


''Boleh ya.. aku kangen.'' pinta Dini dengan ekspresi mengiba.


''Emm nggak papa Bu, sepertinya istriku kangen di kelonin hehe..'' canda Fryan.


''Yasudah nak Pryan tidur sendiri ya..'' ucap ibu.


''Iya Bu nggak papa.'' jawab Fryan.


''Ayah tidurnya terserah dimana aja haha..'' ledek ibu.


''Iya iyaaa gampang.'' sahut ayah.


Karena waktu terus berjalan dan semakin larut, ibu dan Dini langsung masuk ke dalam kamar, mereka sama-sama merasa lelah.


Begitupun juga dengan Fryan yang bertugas menjadi supir, meskipun bergantian dengan ayahnya, durasi Fryan tetap lebih banyak.


Fryan masuk ke dalam kamar Dini seorang diri.


Yang tadinya merasa lelah, kini berubah saat ingin melihat jejak-jejak Dini yang mungkin belum ia ketahui.


''Maaf ya sayang aku lancang.'' gumam Fryan sembari melangkahkan kakinya menuju laci-laci.


Banyak sekali koleksi foto-foto Dini dan juga Nita.

__ADS_1


''Mereka bener-bener saling menyayangi ya..'' gumamnya.


''Ohhh wow..''


Fryan menemukan sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari seorang Dini.


Sebuah buku yang memperlihatkan hasil tulisan Dini dalam bentuk puisi.


Sementara itu, Dini yang sudah berada di kamar bersama dengan ibunya merasa bentuk mengantuk.


''Bu..''


''Apa nak? kamu belum ngantuk kah?'' tanya ibu yang sudah mengantuk.


''Sedikit Bu, aku mau tanya sesuatu, bentar aja..''


Ibu langsung berbalik menghadap Dini.


''Bu, kalau sampai sekarang aku belum juga hamil, apa itu termasuk sebuah kesalahan?'' tanya Dini.


''Kenapa nanya begitu?''


''Nggak papa Bu, kan Ibu sering candain kita soal cucu. Nah.. banyak kan yang menikah sesudah kami malah sudah pada hamil? terus apa aku ini nggak wajar kalau sampai sekarang belum hamil?'' tanya Dini.


Ibu menghela nafasnya lalu mengusap rambut Dini.


''Ibu minta maaf kalau sudah bikin kamu tersinggung, Ibu dan juga ayah nggak pernah menuntut untuk semua terjadi cepat, nak.. yang penting pastikan kalian sehat dan ada usahanya, manusia kan tinggal nunggu hasil dari apa yang sudah di usahakan, yang penting ikhlas.'' tutur ibu.


''Iya Bu, aku juga nggak menyalahkan Ibu kok..'' ucap Dini lalu memberikan senyumnya.


''Ya sudah sekarang tidur.''


Dini mengangguk lalu perlahan memejamkan kedua matanya yang merasakan ada sesuatu yang kurang.


Sedangkan ibu sudah kembali berbalik arah memunggungi Dini lalu tidur.


Sudah beberapa bulan terakhir ia selalu tidur di temani oleh seorang suami.


Rasanya seperti ada yang kurang saat terpisah seperti ini meskipun hanya terpisah kamar.


''Kamu sudah tidur belum..'' batin Dini.


Ingin keluar dari kamar sang ibu dan menemui suaminya, tetapi takut jika kepergok ayah atau ibunya. Malu doong....


Fryan juga merasakan hal yang sama, sembari menggenggam sebuah buku milik sang istri, ia berbolak balik arah, membuka tutup selimut, tetapi tetap saja kedua matanya sulit terpejam.

__ADS_1


''Sayang, kenapa sih kamu harus tidur sama ibu? aku nggak bisa tidur..'' gumamnya melirik jam di dinding yang semakin larut.


__ADS_2