
''Nikahkan aku dengan Fryan.''
''APA??!!''
Semua mata tertuju pada Dini yang sedari tadi terdiam dengan wajah sendu, tiba-tiba mengeluarkan suara yang membagongkan.
Dini sehat kan? nggak abis kena benturan kan kepalanya?'' Nita mendekati Dini dan memeriksa kening sahabatnya berkali-kali untuk memeriksa apakah ada bekas benturan.
''Kak Dini jangan ngelawak.'' timpal Fryan.
Aldo dan Ali hanya diam menyimak menunggu hasil keputusan ucapan Dini.
''Aku serius!'' seru Dini membuat semua terdiam dan saling melempar pandangan.
Tentu saja di hati Fryan ada rasa bahagia, tetapi mengingat Dini menganggapnya hanya sebagai adik membuatnya bingung.
Begitupun juga dengan keluarga Fryan yang sudah mengetahui isi hati Fryan selama ini.
''Dini, bukannya kamu menganggap nak Pryan itu adik kamu sendiri? kenapa tiba-tiba bilang mau menikah? kamu jangan main-main sama pernikahan..'' ujar ibu cemas putrinya tidak akan serius menjalani pernikahan ini.
''Aku nggak main-main Bu.'' kata Dini tegas.
''Dengan menikah, aku akan menjaga Fryan setiap waktu tanpa di batasi waktu.. jika dulu masih ada Nita di rumah, aku ada temannya, kalau sekarang aku nginap di rumah ayah Wildan dengan alasan merawat Fryan, yang ada jadi bahan omongan orang kalau setiap hari serumah. Aku mohon.. apapun yang ada di pikiranku, aku tidak akan pernah main-main dengan pernikahan..'' jelas Dini menatap ayah Wildan dan juga ayah Wahyu, lalu ibunya.
''Jujur saja ayah senang kalau memang Dini benar-benar mau sama anak ayah, bagaimana tidak? kita sudah saling mengenali, nggak ada yang perlu diragukan dari keluarga kita kan?'' ujar ayah Wildan.
__ADS_1
''Bagaimana Pak Wahyu? Bu Hasni?'' tanya ayah Wildan.
Dini mengikuti pandangan ayah Wildan yang sedang menatap ayahnya.
''Saya terserah anak-anak saja pak Wildan gimana baiknya.'' jawab ayah Wahyu.
Senyum mengembang di bibir Fryan, seseorang yang ia nanti datang dengan sendirinya.
Apakah ini yang dinamakan hikmah di balik musibah?
Fryan menatap Dini yang sedang menatap kedua orangtua mereka.
''Nak Fryan gimana?'' tanya ayah Wahyu.
Cieee calon istri🤭
''Gimana dengan permintaan Dini?'' tanya ayah.
''Aku sih yes banget Yah..'' jawabnya sumringah tanpa rasa malu, ia tidak bisa menutupi kebahagiaan yang selama ini ia nanti.
Selama ini Fryan fokus kepada satu titik, yaitu Dini.
Ia yakin dengan pilihannya tidak akan pernah salah, meskipun sulit karena terbentur hubungan kekeluargaan, Tuhan akan menghadirkan yang baik di waktu yang tepat.
''Tapi, setelah aku sembuh, aku mau meresmikan pernikahan kita secara negara.'' imbuh Fryan.
__ADS_1
''Baiklah, kalau begitu besok setelah Subuh, ayah akan kesini lagi mengajak bapak penghulu.'' ujar ayah.
Setelah berbincang-bincang dan melakukan izin kepada pihak rumah sakit, orangtua Dini pamit untuk kembali ke rumah terlebih dahulu, di susul dengan Nita dan Aldo.
Dini yang sudah lepas perawatan beralih menjadi penunggu pasien, ia istirahat di kamar Fryan yang VIP sehingga tersedia tempat istirahat bagi penunggu pasien, Dini hanya perlu makan dan konsumsi obatnya dengan teratur.
--
Di tempat lain sedang terjadi perdebatan.
''Lu gobl*k apa gimana sih Kak? nahan cewek satu aja nggak bisa!''
''Enak lu ngomong gitu hah! lu pikir Dini lari sendiri apa?! segerombolan noh maksa masuk rumah ini! para penjaga si sekap semuanya, sedangkan gue sendirian.''
''Lu sudah apain tuh si Dini? sudah bikin dia kebobolan belum?''
''Gila lo! baru juga nyicip bibirnya dikit doang udah di dobrak pintu kamar gue.''
''Astagaaa!! parah lo Kak nggak gerak cepat!''
"Lu sendiri aja nggak pernah berhasil deketin si Fryan itu.''
''Kita harus bikin rencana lagi!''
''Jangan sampai gagal!''
__ADS_1