
''Lah sok tau, memangnya kamu calon suaminya??'' tanya ayah.
Dini dan Fryan langsung kompak saling menatap terkejut dengan candaan ayah Wildan.
''Bukan'' jawab Dini.
''Oh iya lagian kamu kan masih kecil Fryan, mana mungkin Dini mau sama kamu..'' cibir ayah Wildan lalu terkekeh.
Di dalam hati, Fryan sangat tidak terima dikatakan anak kecil oleh ayahnya sendiri. Ia sudah bukan anak kecil lagi, tetapi keluarganya seperti belum menerima kedewasaannya.
''Emangnya kalau seandainya aku calon suaminya kak Dini, ayah setuju?'' tanya Fryan tanpa malu di depan orangtua Dini.
''Setuju aja, kenapa enggak..'' tanya ayah balik.
''Wah kamu ini Fryan, nggak malu apa ada Pak Wahyu sama Ibu Hasni disini ngomong kayak gitu..'' ujar ayah Wilda mengingatkan.
''Enggak,'' jawab Fryan santai.
Ayah hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putra bungsunya itu, ia hanya menganggap hal itu sebuah guyonan semata.
''Maaf ya Pak, Bu.. biasalah anak muda,'' ujar ayah Wildan.
''Iya Pak tidak apa-apa,'' jawab ayah Wahyu.
Setelah merasa cukup berbincang-bincang, Dini dan kedua orangtuanya pamit.
^^^
Pagi hari Dini berangkat lebih awal menuju tempat kerjanya, karena ketika akhir pekan Dini selalu pulang ke rumah dan hari Seninnya berangkat dari rumah orangtuanya.
__ADS_1
Dini membawa sepeda motor yang biasa ia gunakan untuk kendaraan kesehariannya.
''Haduuhh berangkatnya udah pagi masih aja kejebak macet,'' gerutu Dini.
Dengan menempuh perjalanan yang merayap, akhirnya Dini tiba di halaman gedung tinggi itu.
''Hai Dini..''
Dini langsung menoleh ke suara yang memanggilnya.
''Eh iya Pak Ardi,'' jawab Dini kepada seniornya itu.
''Baru datang ya?''
''Iya Pak baru datang,'' jawab Dini canggung.
''Ohya, gimana kerja disini? betah?'' tanyanya.
''Ya sudah ayok masuk,''
''Mari Pak..''
Dini berjalan dengan mengekori seniornya yang bernama Ardi itu, tetapi pria yang bernama Ardi terlihat sangat ramah terhadap Dini sehingga tidak mau berjalan terlebih dahulu, ia memilih untuk jalan beriringan dan sesekali mengajak Dini berbicara, terlihat sangat akrab.
''Siapa laki-laki itu? sepertinya mereka sudah akrab..'' gumam Fryan yang sedari tadi mengikuti perjalanan Dini.
Fryan mencengkram benda bulat di depannya, rasa cemburunya sangat tinggi.
Drtt drrttt
__ADS_1
Deringan telpon membuyarkan amarah Fryan.
''Iya halo, ada apa?''
''---------''
''Ya ampun.. ya ya saya segera kesana,'' jawab Fryan dan memilih langsung tancap gas karena melupakan perjanjiannya dengan seseorang.
Dengan kecepatan tinggi, Fryan menyusuri jalanan yang sudah sedikit lengang karena jam masuk sekolah dan jam masuk kerja sudah terlewati.
..
Pertemuannya dengan seseorang pemilik tanah yang ia beli untuk pembangunan bengkel dan toko sparepartnya sudah selesai.
Ia berhasil memiliki lokasi yang sudah sangat lama ia idamkan dengan hasilnya sendiri, tempat yang sangat luas dan lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat perbelanjaan.
''Sekali lagi terimakasih Pak Andre,'' ucap Fryan sambil berjabat tangan.
''Sama-sama Fryan, anda masih sangat muda, tapi, anda benar-benar bergerak positif,'' jawabnya.
''Ah itu berkat dukungan dari orang-orang di sekitar saya Pak..'' ucap Fryan.
''Sungguh beruntung sekali anda berada di lingkungan yang tepat,'' pujinya.
Fryan hanya mengangguk seraya tersenyum.
''Semoga hari-hari Bapak menyenangkan bersama keluarga di Odense,'' ucap Fryan.
''Oh thank you, kalau begitu saya permisi,''
__ADS_1
''Dan satu lagi, kamu anak muda yang hebat, pasti banyak perempuan yang mau denganmu..'' godanya.
''Terimakasih,'' jawab Fryan tak mau memperpanjang durasi lagi.