Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 30 : Pengen di Grebek


__ADS_3

"Aaaa hmmpp"


Dini sangat terkejut ketika balik posisi setelah mencabut kunci pintu, ia dihadapkan dengan tubuh Fryan yang ntah sejak kapan berdiri di belakangnya. Sebuah teriakan hampir saja memenuhi ruangan itu, tetapi Fryan langsung membungkam dengan telapak tangannya.


''Jangan teriak..'' lirih Fryan.


Tatapan mereka saling beradu, tubuh Dini yang hampir terjatuh ke belakang karena terkejut langsung direngkuh pinggangnya oleh Fryan.


Dini semakin mundur, tetapi posisinya sudah sangat mepet dengan dinding membuatnya tidak bisa bergerak lagi, sedangkan Fryan terus menatap mengikutinya penuh arti.


Dini hanya bisa memejamkan kedua matanya, tubuhnya gemetar saat Fryan kembali mendaratkan kecupan di keningnya.


"Bisa mund- hmmmmp'' seru Dini namun langsung terpotong karena lagi-lagi mendapat serangan mendadak.


Dini terus memukuli dada Fryan, namun pemiliknya sama sekali tidak bergeming dan malah semakin mengeratkan pelukannya dan juga semakin bernafsu menciumi bibirnya.


Fryan kembali kehilangan akal sehatnya, ia tak mempedulikan Dini yang terus memukulinya dan memintanya berhenti melakukan serangan itu.


"STOP FRYAN!" seru Dini saat Fryan tiba-tiba melepaskan bibirnya.


Untung saja para penghuni di sekitar Dini sedang bekerja, sehingga tidak ada yang mendengar suara mereka, apalagi kondisi pintu yang terbuka.


"Nggak bisa sayang, aku hanya melakukan ini untuk seseorang yang aku cintai, hanya Kakak yang ku cinta. Selama ini Kakak selalu menolakku, mengabaikan perasaanku, dan sekarang aku nggak akan melepaskan Kakak lagi.." ujar Fryan masih tetap belum melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Kakak ini kakak kamu, Fryan!" seru Dini.


"Ohya? kalau gitu berarti nggak papa dong ya sebagai adik yang sayang sama kakaknya, si adik nyium kakak mmuuah.. nyium lagi mmuuah.. pelukan hangat begini, emm terus biasanya adik sama kakak itu tidur seranjang juga hal biasa, bener kan?" goda Fryan yang langsung mendapat pukulan-pukulan dan juga omelan dari Dini


"Udahlah Kak, paling bener emang kita nikah aja dah.." lanjut Fryan.


"Enak bener ngomong nikah.. pergi duluan sana, Kakak mau naik motor aja!"


"Eh eh enak aja, ya nggak bolehlah."


"Hmmmmm.. yaudah kita keluar sekarang, pengen di grebek eh penghuninya pada nggak ada." imbuh Fryan.


"GILA!" seru Dini.


Dini dan Fryan langsung berjalan ke arah mobil setelah memastikan pintu terkunci rapat.


Para tetangga sudah memahami jika setiap akhir pekan Dini selalu pulang ke rumah orangtuanya.


''Kak Dini..'' panggil Fryan ingin memulai percakapan.


''Hmm..''


''Kak..''

__ADS_1


''Apasih Kapri?!!'' sahut Dini kesal.


''I love you hehe..''


Dini langsung mendengus kesal dan kembali menatap ke arah luar.


''Jangan marah, aku yakin suatu hari nanti kita akan bersama..'' ujar Fryan lalu mengusap puncak kepala Dini.


Dini hanya terdiam tak berniat merespon apapun perkataan Fryan.


''Jika benar adanya Fryan telah menungguku selama ini dan akan tetap menunggu lagi sampai aku menerima, lalu kapan waktu itu?


sedangkan aku menyayanginya hanya sebatas kasih sayang dari kakak untuk adiknya, sementara Fryan memiliki rasa yang berbeda.


Apa aku jahat?'' batin Dini terus bermonolog, kemudian menatap Fryan sekilas.


Hatinya tiba-tiba merasa perih membayangkan Fryan yang harus kehilangan sosok ibu.


''Apa ini penyebab Fryan tidak mudah untuk jatuh cinta? apa hanya karena aku akrab dengan kakaknya dan dia otomatis ikut nyaman sehingga takut tidak akan menemukan kenyamanan pada orang lain..'' bayangan Dini sedang berlari-lari membayangkan perasaan Fryan.


"Udah jangan curi-curi pandang, nanti beneran jatuh cinta loh.." kata Fryan langsung membuat Dini gelagapan.


"Dih PD sekali.." sahut Dini.

__ADS_1


"Jatuh cinta perlu kepercayaan diri, dan aku cinta sama Kak Dini dari dulu, sekarang, hingga nanti.. percaya kalau suatu hari nanti kak Dini juga akan mencintaiku." kata Fryan menatap Dini seraya mengusap puncak kepalanya sekilas dan kembali fokus pada kemudinya.


__ADS_2