
Menurut anjuran dokter, Dini memang belum diizinkan untuk melakukan kegiatan yang berat-berat terlebih dahulu sampai kandungannya benar-benar sudah kuat dan kondisinya tidak mual setiap hari.
Setiap pagi setelah selesai dengan mualnya, Dini dan Fryan hanya berjalan santai di halaman depan untuk sekedar menggerakkan tubuhnya agar tidak kaku.
Dini masih dirumah, sudah diberi pesan oleh Fryan agar benar-benar patuh untuk tidak kemana-mana dulu.
Sedangkan Fryan izin keluar.
Tanpa sepengetahuan Dini, Fryan pergi ke sebuah toko pakaian, tanpa rasa malu ia mencari pakaian longgar untuk sang istri yang tengah hamil.
''Mbak, baju untuk perempuan hamil, buat sehari-hari gitu, jangan celana.'' ujar Fryan tanpa ragu pada penjaga toko tersebut.
''Oh sebentar Mas saya ambilkan beberapa contohnya..'' kata penjaga dengan ramah.
Tak berselang lama, penjaga itu kembali dengan membawa beberapa lembar pakaian dan ditunjukkan pada Fryan.
Beberapa model simpel, motifnya dominan polos dengan sedikit tulisan didada dan sepertinya cocok dibadan Dini, mungkin panjangnya se betis dan bahannya melar sehingga bisa tetap terpakai sampai perut Dini membesar nanti
''Untuk siapa Mas?'' tanya penjaga toko.
''Istri saya.'' jawab Fryan.
''Ohh..''
''Saya ambil semuanya, kalau model ini ada warna lain boleh juga..'' ujar Fryan.
''Oh, ada Mas, sebentar saya ambil..''
Setelah memantapkan pilihan tanpa memilih karena akhirnya diambil semua dan masih ditambah dengan underwear, Fryan membayar hasil belanjaannya lalu memasukkan ke dalam mobil.
Sekarang beralih membeli stock susu ibu hamil, vitamin dan berbagai makanan.
Fryan juga membeli buah-buahan untuk persediaan.
Kursi belakang kemudi sudah nampak penuh dengan hasil belanja Fryan.
Ia pun menatap dengan pandangan puas karena berhasil belanja kebutuhan meskipun seorang diri.
''Istriku pasti suka..'' gumamnya lalu melajukan mobil arah pulang.
__ADS_1
Fryan tiba dirumah dengan keadaan sepi, Dini tidak menyambutnya.
''Kemana kok sepi?'' gumam Fryan sembari celingukan.
''Sayang..''
''Sayang..''
Fryan langsung ke kamar, ia tersenyum saat melihat sang istri ternyata tengah tidur nyenyak.
''Ternyata lama juga belanjanya, jam sebelas lebih..'' gumam Fryan.
Fryan melangkahkan kakinya mendekati sang istri, lalu mencium keningnya dengan lembut.
''Aku bahagia sayang, bahagiaaa banget, meskipun kadang masih nggak nyangka kalau beberapa bulan lagi mau jadi orangtua..'' ucap Fryan lirih.
''Terimakasih ya sayang sudah menerimaku untuk menjadi ayah dari anak-anak kita.''
Dini mengerjapkan kedua matanya saat merasa ada yang mengusap-usap dipipinya.
''Udah pulang? jam berapa ini?'' Dini langsung duduk karena mengira sudah sore.
''Kok udah pulang?'' tanya Dini.
''Iya, aku kangen jadinya pulang deh..'' jawab Fryan.
''Hilih gombal..''
''Aku tadi ketiduran.'' imbuh Dini.
''Nggak papa sayang, makan yuk, aku tadi beli lauk buat makan siang..''
''Iya bentar, aku mau ke kamar mandi dulu..''
Dan seperti biasa, Fryan langsung cekatan memapah Dini turun dari ranjang dan menuntun ke kamar mandi, Dini membiarkan hal itu.
Fryan menyiapkan wadah untuk makan siang mereka dan juga menu makanan diatas meja, dan tidak memberikan izin kepada sang istri untuk membantu.
''Apa itu?'' tanya Dini setelah mereka selesai makan siang dan menuju sofa.
__ADS_1
Dini melihat beberapa paper bag dan beberapa plastik diatas meja.
''Mari kita unboxing..'' seru Fryan sudah tidak sabar, padahal ia sendiri yang berbelanja.
Dini membuka satu persatu paper bag lalu plastik, ia menggelengkan kepalanya, antara senang dan juga terkejut sang suami bisa membelanjakan ini semua.
''Kamu belanja ini sendiri?'' tanya Dini.
Fryan mengangguk bangga.
''Gimana? suka kan?''
''Iya, iya aku suka, makasih banget..'' jawab Dini.
''Tapi, ini kenapa harus banyak banget, kan bisa nanti-nanti lagi..'' ujar Dini.
''Kalau bisa sekarang kenapa harus nanti-nanti sayang..'' balas Fryan.
Ya sudahlah Dini menerima jawaban itu.
Dini merentangkan baju-bajunya satu persatu, satu model dengan berbagai warna, begitupun dengan model lain, Fryan mengambil tanpa kira-kira.
Setelah selesai memeriksa satu persatu, Dini menumpuk pakaian tersebut jadi satu.
''Kamu harus pake baju itu untuk setiap hari, nggak boleh pake celana yang nggak molor, pokoknya nggak boleh.'' larang Fryan.
''Iyaa boskuh..'' jawab Dini.
Dini langsung beralih ke plastik-plastik yang berisikan susu ibu hamil beserta vitamin.
''Nggak sekalian tokonya dibawa pulang?'' goda Dini.
''Tadinya sih mau begitu, tapi, duitnya belum cukup haha..'' jawab Fryan diikuti gelak tawanya.
Dini ikut tertawa melihat sang suami tertawa.
''Nanti biar aku yang nyuci, sayang.'' ujar Fryan yang sudah paham jika pakaian baru harus dicuci terlebih dahulu, ia langsung memasukkan pakaian baru milik sang istri ke satu tempat.
Dini mengangguk, kali ini ia tak merengek lagi.
__ADS_1