
Pukul 20.00 WIB
Salah satu pegawai KaDin menginformasikan bahwa tempat dan menu-menu yang sebelumnya dipesan sudah siap.
Fryan beserta keluarga langsung bergegas ke cafe, tidak ketinggalan juga Linda.
''Bagus sekali Kak, ramai juga..'' ucap Kia yang berada di samping Dini.
''Alhamdulillah Dek, do'ain usaha Kakak-kakakmu lancar ya..'' ucap Dini.
''Aamiin, pasti Kak, aku do'ain..'' jawab Kia.
Sayangnya, saat dikabari tadi siang, kedua orangtua Dini langsung mengatakan akan berhalangan hadir karena ayah Wahyu masih ada kegiatan dan sudah terlanjur membuat janji, meskipun terdengar mereka sangat ingin sekali berkumpul.
Namun, meski begitu, nuansa keluarga yang harmonis tetap tampak walaupun jauh dari kata lengkap.
Bergabung dengan para pengunjung lainnya, mereka terlihat sangat menikmati suasana yang ada.
''Ayo-ayo pesan lagi, hari ini ditraktir sama obos Fryan..'' canda Dini.
''Haha boleh deh demi bumil tercinta, ayo semuanya jangan sampai pulang-pulang kelaparan.'' ujar Fryan.
Candaan mereka langsung disambut tawa renyah oleh semuanya.
Makanan yang sudah dihidangkan diatas meja sudah sangat penuh dengan berbagai menu.
--
Cukup satu malam ayah Wildan menginap dirumah putranya, beliau rencananya akan menengok kerumahnya dan juga mampir ke rumah besan.
''Kami pulang dulu ya..'' ucap mama berpamitan.
Dini langsung memeluk mama mertua.
''Makasih ya Ma..'' ucapnya.
''Sehat-sehat ya sayang..'' balas mama.
Dini melepaskan pelukannya lalu tersenyum.
''Mama juga..''
__ADS_1
Keadaan rumah kembali sepi setelah ayah, mama, dan juga Kia pamit.
Dini, Fryan, dan Linda kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil ayah Wildan sudah keluar gerbang.
Masih pukul 09.00 WIB
''Jalan-jalan yuk sayang..'' ajak Fryan.
''Kemana?'' tanya Dini.
''Kemana aja.. aku lagi pengen jalan-jalan.'' ujar Fryan.
''Yaudah kita siap-siap sekarang.'' balas Dini.
Mobil melaju ke suatu tempat yang Dini belum tau kemana arah tujuan Fryan, ia hanya mengikuti suaminya.
Mengingat cerita hari itu Dini mabok ketika naik mobil, hari ini Fryan tidak menghidupkan AC nya.
''Kita mau kemana sih?'' tanya Dini penasaran.
''Ke tempat yang sangat bersejarah..'' jawab Fryan kemudian terkekeh. Mengingat kekonyolannya kala itu.
''Kamu ikut aja sayang..''
''Iya juga ya.. uluh-uluuhh masa istriku mau ditinggalin dijalanan, ya kagak mungkinlaah..'' ujar Fryan lalu mengusap rambut sang istri.
Dini mencoba mengingat-ingat arah jalanan yang ia lewati sekarang, seperti tidak asing dan sepertinya pernah melewati daerah ini. Tapi, ntah kapan waktunya.
''Kayaknya aku pernah lewat jalan ini, nggak asing..'' ujar Dini.
''Hayoo coba diingat-ingat, kapan lewat sini..'' ujar Fryan.
Dini terus berpikir untuk menemukan jawaban atas rasa penasarannya sendiri.
''Naahhh aku ingat sekarang.'' seru Dini.
''Kemana coba?'' tanya Fryan.
''Ke pantai.'' jawab Dini cepat.
''Haha iya betul, udah deket baru inget..'' ledek Fryan.
__ADS_1
''Biarin..''
Beberapa menit kemudian mereka tiba di lokasi pantai yang beberapa waktu lalu pernah mereka kunjungi bersama dengan Nita dan juga komunitas Aldo.
Fryan tidak melupakan kejadian itu, dimana ia bisa memeluk seseorang yang ia cintai dalam diam.
Dan kini, ia kembali ke tempat ini lagi dan telah berhasil menjadikan cinta dalam diamnya selama ini sebagai cinta wujud nyata.
Fryan menggandeng tangan sang istri menuju dermaga.
''Moment apa yang kamu ingat tentang tempat ini sayang?'' tanya Fryan menggenggam kedua tangan sang istri agar saling berhadapan.
Dini berpikir sejenak.
''Aku ingat tidak bisa turun dari dermaga, naiknya juga susah, ditinggal pulang sama Nita dan bang Aldo. Pulangnya kehujanan dan kamu modus terus..'' ungkap Dini.
Fryan langsung tertawa terbahak-bahak.
''Kok kamu tau sayang kalau aku lagi modus?'' tanya Fryan setelah berhasil menghentikan gelak tawanya.
''Iya sekarang baru sadar, dulu belum..''
Hamparan laut yang luas nan indah menjadi saksi ungkapan cinta Fryan.
''Dulu, di tempat ini, aku masih menjadi sad boy yang mendambakan cinta seorang bidadari. Bukan hanya satu hari dua hari, tetapi bertahun-tahun menunggu waktu dan kepastian.
Dan di tempat ini, sedikit aku berani nekat menunjukkan kalau aku bukan anak kecil, aku juga bukan adik kecil. Aku sudah mengerti cinta.
Sekarang, hari ini.. kita kembali, dan kamu sudah resmi menjadi milikku, menjadi tanggungjawabku yang selama ini sering aku katakan.
Kita kesini sudah menjadi sepasang suami istri dan kita akan semakin lengkap dengan buah cinta kita, sayang..''
Fryan menatap lekat pada kedua bola mata Dini.
Dini sudah tidak bisa membendung airmatanya, ia menitikkan air mata mendengar ucapan sang suami yang membuatnya haru.
''Terimakasih suamiku, karena kamu sudah sabar dalam penantian panjangmu.
Semoga aku akan tetap menjadi bidadari yang selalu kamu dambakan.''
Fryan mengusap airmata sang istri lalu memeluknya erat.
__ADS_1
''Kamu akan selalu menjadi bidadariku, sayang..''