Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 59 : Mulai Genit Ya


__ADS_3

''Sayang, nanti ikut ya please.. sekalian agak sore kita main ke rumah ibu.'' pinta Fryan.


''Bisa nggak kalau anterin langsung tempat ibu?'' tawar Dini.


''Nggak bisa sayang, nanti bolak balik, sekali-kali nggak papa..''


''Tapi, aku malu..''


''Nggak usah malu, ada aku.'' Fryan langsung memeluk Dini berusaha untuk menenangkan.


''Iya kamu sukanya malu-maluin.'' umpat Dini.


Fryan menahan senyum, meskipun suaranya sangat pelan, tetapi Fryan bisa mendengar dengan jelas suara Dini.


''Malu-maluinnya gimana sayang?'' tanya Fryan mengurai pelukannya.


''Hah apa maksudnya?'' tanya Dini gelagapan membuat Fryan gemas.


''Jangan sering mengumpat, nanti bisulan.'' ujar Fryan lalu menangkup kedua pipi Dini.


''Mana ada begitu..'' protes Dini.


''Bisa, makanya di ucapin langsung ke orangnya, nih.'' jawab Fryan sembari menempelkan hidungnya ke hidung Dini.


''Udah ih, keburu siang.'' ujar Dini.


Fryan memberikan vitamin paginya terlebih dulu sebelum melepaskan Dini.


''I love you, terimakasih sayang..''


Rasa syukur yang tak pernah berhenti Fryan rasakan, hidup bersama dengan orang yang ia selama ini harapkan.


..


''Naik motor aja ya sayang, kayaknya seru.'' ajak Fryan yang sudah lama tidak membonceng Dini sejak beberapa bulan yang lalu sebelum menikah.


''Terserah.'' jawab Dini.


''Aku kangen pas kita ke pantai naik motor, hujan-hujanan, pas aku masih jadi sad boy.'' ujar Fryan menatap langit-langit rumah lalu tertawa sendiri membayangkan betapa sedihnya dulu.


''Jadi kamu mau ngajakin aku hujan-hujanan?'' protes Dini.


''Ya enggak sayang, mana ada yang tau bakal hujan apa nggaknya..''


''Ya sudah kamu siap-siap ya sayang, aku manasi mesin dulu ya..'' imbuhnya seraya mengusap rambut sang istri.


Dini mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.


Detak jantung yang Dini rasakan semakin lebih kencang, apakah rasa yang berbeda sudah tumbuh dihatinya.


Apalagi saat mengingat momen yang di ucapkan Fryan saat mereka kehujanan.


Dini menghela nafasnya dan membuangnya dengan kuat untuk menetralkan detak jantungnya.


Setelah selesai siap-siap, Dini menutup pintu kamar dan menyusul Fryan yang sudah menunggu di depan.


''Sudah selesai sayang?'' tanya Fryan sambil memainkan gas motornya.

__ADS_1


''Sudah.''


Fryan menyudahi memanasi mesin motornya lalu kembali masuk ke dalam rumah mengambil dua helm untuk dirinya dan juga Dini yang sudah berdiri di samping motor.


''Oh iya lupa tadi, maaf.'' kata Dini saat melihat suaminya keluar menenteng dua helm.


''Iya nggak papa.'' jawab Fryan.


Dini mengulurkan tangannya untuk menerima helm yang masih berada di tangan sang suami, tetapi Fryan tidak langsung memberikan, ia meletakkan helm tersebut di atas motor terlebih dahulu.


''Kok nggak langsung di pakai?'' tanya Dini deg-degan menatap mata suaminya.


Fryan merengkuh pinggang Dini agar semakin dekat, lalu meraih tengkuknya untuk mempermudah c1um4nnya.


Beberapa saat saling beradu, meskipun belum bisa dikatakan piawai.


Mereka masih sama-sama dalam tahap pembelajaran.


Fryan melepaskan pugutannya dan membenamkan kepala sang istri di dadanya.


''Terimakasih sudah menjadi istriku.'' ucap Fryan lalu menc1umi puncak kepala Dini.


Dini tersenyum, meskipun Fryan belum mengetahui itu karena masih di dalam pelukannya.


''Kalau gini jadi pengen masuk kamar aja deh.'' ujar Fryan menggoda istrinya.


Dini langsung mengangkat kepalanya dan memberikan tatapan tajam.


''Jadi nggak nih ke tempat ibu?'' protesnya.


''Iya jadi sayang, ayok.. lanjut nanti malam ya.'' jawab Fryan lalu kembali menc1um bibir Dini sekilas dan segera memakaikan helm untuk sang istri.


''Nggak papa kan sama istri.'' bela Fryan lalu naik ke atas motor seraya tersenyum nakal kepada Dini.


Dini mengikuti naik ke atas motor setelah Fryan sudah siap dengan posisinya.


''Pegangan sayang.'' ujar Fryan.


Dini melingkarkan tangannya sampai ke perut Fryan membuat pasangan ini terlihat sangat serasi.


Meskipun masih termasuk pagi, cuaca sudah sangat panas dan menyengat, di tambah lampu merah memaksa menghentikan laju motornya.


Fryan mengusap-usap betis Dini sembari menunggu lampu merah selesai. Sedangkan Dini melepaskan tangannya mengitari pemandangan sekitar.


Beberapa pasang mata yang sama-sama terjebak lampu merah menatap ke arah Fryan dan Dini, bahkan ada seorang ibu-ibu yang menatap sinis, mungkin mengira Dini dan Fryan merupakan pasangan anak muda yang masih pacaran.


''Ada yang liatin.'' bisik Dini.


''Biarin aja.'' jawab Fryan tidak mau menggubris.


Jawaban Fryan bersamaan dengan lampu hijau, Fryan kembali tancap gas menuju tempat tujuan.


Dini bernafas lega karena tidak menjadi objek pemandangan di jalan lagi.


..


''Selamat datang nyonya Afryan..'' ucap Fryan setelah turun dari motor dan melepaskan helmnya sendiri lalu melepaskan helm Dini.

__ADS_1


''Terimakasih bos Kapri..'' canda Dini menahannya senyumnya.


''Ihh sayangku senyum-senyum loh..'' ujar Fryan menarik gemas hidung istrinya.


''Haissh malu..'' bisik Dini.


Fryan menggandeng tangan Dini masuk ke dalam ruangannya. Dini menyapa anggota Fryan sekilas dengan sedikit menundukkan kepalanya.


''Kan.. nggak ada yang bikin malu, lagian kan kamu nunggunya disini, bukan di luar sana sayang..'' ujar Fryan sambil melepaskan jaketnya.


''Iya maaf.'' jawab Dini.


''Aku juga nggak ikhlaslah kalau kamu diliatin banyak orang, yang datang kesini kan kebanyakan laki-laki.'' imbuh Fryan mendekati sang istri.


''Ganteng-ganteng nggak?'' canda Dini berusaha menahan senyumnya.


''Mulai genit ya??'' Fryan langsung menghadap Dini dengan memberikan tatapan seperti ingin menerkam.


''Ih nggak, nggak.. cuma becanda, Fryan tolong, lepassiiiinnn.''


Fryan tidak mau tau, ia menahan tangan Dini yang berusaha membungkam bibirnya.


Dini mendengus kesal saat rambutnya terasa acak-acakan, sedangkan Fryan tertawa puas setelah berhasil menerkamnya.


''Nggak malu apa kalau ketahuan sama mereka?'' sungut Dini.


''Hahaha.. maaf ya sayang, kamu sih mancing-mancing.'' ujar Fryan.


''Becanda doang itu, alasan kamu aja.'' gerutu Dini membuat Fryan kembali tidak bisa menahan gelak tawanya.


..


Sesuai janjinya dengan sang istri, Fryan melajukan motornya menuju rumah mertua.


Sedangkan Dini sudah tidak sabar ingin cepat-cepat melepas rindu.


Sebelum berangkat, Dini sudah menghubungi ibunya terlebih dahulu.


Sementara itu, ibu menunggu kedatangan putri dan juga menantunya.


Baru juga di telpon, ibu sudah sibuk menyiapkan. Bahkan sejak pagi tadi ketika Dini memberi kabar akan datang berkunjung, ibu sudah membuat kue spesial untuk anak dan mantu.


Selain itu, ibu juga menyuruh ayah untuk pulang waktu Dzuhur dan melarang untuk keluar lagi


''Assalamu'alaikum..''


Ibu langsung berhambur ke depan mendengar suara salam.


''Wa'alaikumussalam..'' jawab Ibu yang langsung di peluk oleh Dini, di susul juga menantunya.


''YAAAHH..'' seru ibu memanggil suaminya.


''Udah Bu biarin aja kalau ayah masih istirahat.'' ucap Fryan.


''Nggak kok, lagi santai-santai aja, itu..'' tunjuk ibu melihat kedatangan ayah.


''Oh Alhamdulillah..'' ucap ayah.

__ADS_1


Mereka langsung menuju ke ruang keluarga agar lebih santai untuk mengobrol.


__ADS_2