
''Kamu harus kesini ya Din..'' pinta Nita di sambungan telepon video sembari mengelus perutnya yang sudah semakin besar.
''Iya-iya aku sudah mempersiapkan untuk kesana.'' jawab Dini semangat.
Kedua sahabat yang kini sudah menjadi saudara itu melanjutkan obrolannya.
Mengingat jaman dulu yang masih anak remaja ternyata sekarang sudah mau memiliki anak sendiri.
''Yaudah Dini, aku mau istirahat.'' ujar Nita.
''Oke Nita..''
Hari demi hari, semakin dekat dengan hari yang di perkirakan Nita akan melahirkan.
Menurut hasil periksa selama ini, tidak ada masalah pada kandungannya, ia di perkirakan akan melahirkan secara normal.
Namun, jika memiliki kendala yang mengharuskan untuk melalui operasi, Nita juga siap.
Toh sama saja wanita akan merasakan sakitnya melahirkan seorang bayi, baik dari prosesnya maupun efek sesudahnya.
Abaikan saja jika di luaran sana terdapat oknum (bahkan tidak sedikit pula oknum tersebut sesama perempuan dan seorang ibu) yang menyebut kalau seorang perempuan melahirkan melalui operasi sesar tandanya belum menjadi wanita yang sempurna.
Tiga hari lagi Fryan dan Dini akan berangkat, mereka sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk di bawa kesana.
..
Di tempat lain, seorang laki-laki tengah mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
Di tempat yang tidak sengaja, ia bertemu dengan seorang gadis cantik dan sopan.
Kala itu mereka sama-sama berada di acara pameran buku.
Gadis itu seperti sedang buru-buru sehingga tidak sengaja menabraknya dan membuat buku yang sedang ia lihat-lihat terjatuh.
Spontan gadis itu langsung berjongkok yang juga di ikutinya dengan mengucapkan maaf.
''Maaf, maaf saya tidak sengaja.'' ucap gadis itu seraya menyerahkan buku.
Laki-laki itu masih terdiam mematung karena terpesona dengan pandangan pertama.
Gadis tersebut merasa bingung karena tak ada respon, ia melambai-lambaikan tangannya di depan wajah laki-laki muda itu.
''Ah iya..'' ucapnya gelagapan.
''Ini bukunya, sekali saya minta maaf, dan saya harus pergi karena buru-buru.''
__ADS_1
Gadis itu langsung berjalan cepat setelah menyerahkan buku.
''Hei siapa namamu?'' seru laki-laki itu setelah tersadar, sayangnya gadis tersebut tidak mendengar suaranya karena banyaknya pengunjung dan gadis cantik itu juga sudah semakin menjauh.
Ketika hendak mengejar, saudara yang tadi berpencar dengannya menarik lengannya dan memaksa ikut berpindah ke tempat lain.
''Siapa dia? apa mungkin aku akan ketemu dengan dengannya suatu hari nanti? aku berjanji, jika bertemu lagi dengannya, aku tidak akan bersikap bod*h lagi seperti tadi.'' gerutu laki-laki itu dalam hati.
''Iya-iya sabaaarrrr!!'' gerutunya kepada saudaranya.
Di kemudian hari, ia tengah bertukar cerita dengan teman baiknya.
Mereka sama-sama menceritakan tentang kisah percintaan mereka yang sama-sama ngenes.
Di usia muda seperti mereka biasanya sudah mulai berani menggandeng pasangan seperti muda-mudi yang seumuran.
''Gue ketemu cewek bro, selain cakep, dia sopan gitu sama gue.'' ungkapnya dengan membayangkan wajah gadis yang baru pertama kali ia jumpai.
''Kege-eran lu bro, hati-hati..''
''Iya kali ya.. tapi, kalau suatu saat gue ketemu lagi sama cewek itu, gue mau gaspol minta nomornya, alamat rumahnya, sekolah dimana..''
Mereka langsung tertawa bersama menikmati kehaluan.
''Ada pokoknya, gue makin hari makin cinta.''
''Halah ta1k lu b4cot doang hahaha''
''Gue tuh masih menyiapkan mental bro, soalnya secara umur dia di atas gue, gue masih takut dia nganggep gue cuma anak ingusan.''
''Lah ya bener hahaha''
''Kurang ajar!!''
''Pokoknya kalau nanti lu tau siapa cewek yang lagi gue incar, jangan sampai lu ikut naksir juga.'' ancamnya.
''Kagaaaakk.. gue udah punya incaran sendiri.''
''Mari sama-sama kita berjuang melepaskan kejombloan ini!!!!!''
Kemudian mereka kembali tertawa keras.
Di kemudian hari lagi, teman baiknya itu terlihat sumringah menatapnya.
''Apa lu senyum-senyum?''
__ADS_1
''Mau tau cewek incaran gue nggak?''
''Wuiihh mana?''
Dia langsung menampik tangan yang hendak menyerobot ponselnya.
''Woilah sabar napa!''
Ia terbelalak melihat layar ponsel temannya, lalu meraih tanpa izin.
Memperhatikan dengan seksama dan berharap gadis itu sosok yang berbeda dengan gadis yang pernah ia jumpai dan sudah membuat pikirannya terus terikat.
Namun sayangnya harapan itu sia-sia, gadis di foto itu benar-benar sama dengan gadis yang sebelumnya ia jumpai.
''Eiittsss udah lihatinnya.''
''Oh iya sorry.'' ucapnya seraya menyerahkan ponsel sang teman.
''Dia itu sahabat baik kakak gue, lu sih nggak pernah main ke rumah jadinya nggak tau.''
''Oh jadi kalian sering ketemu?''
''Sering banget, yahhh dia kayaknya nganggep gue beneran adiknya, tapi, gue punya rasa yang berbeda ke dia. Gue nggak akan nyerah.''
''Lu juga jangan patah semangat untuk bertemu dengan gadis itu..''
Ia tersenyum kecut mendengar kata semangat yang nyatanya tidak bisa.
''Sepertinya gue nggak perlu mengejar yang tidak pasti, di sekeliling kita kan banyak perempuan yang nggak kalah cantik dan sopan- sopan juga.'' ujarnya beralasan.
''Terserah lu aja, btw gimana menurutmu tentang cewek yang gue taksir?''
''Iya sih nggak kelihatan lebih tua, mukanya awet muda.''
Bagas tersenyum kecut mengingat momen itu, sudah bertahun-tahun berlalu, namun, tak pernah bisa ia lupakan.
Meskipun ia dan Fryan menyimpan rasa kepada gadis yang sama, tak ada niat sedikit pun di benak Bagas untuk merebut apa yang sudah di patenkan oleh teman baiknya itu.
''Mengagumi tanpa dimiliki.'' batinnya.
''Setidaknya aku ikut bahagia bisa memastikan bahwa kamu berada di tangan yang tepat.'' gumamnya.
Biarlah rasa itu ia simpan sendiri, Fryan tak perlu mengetahuinya, apalagi Dini.
Kedekatan yang terjalin di antara mereka sudah sangat baik, Bagas tak ingin merusak hanya karena masalah perasaannya.
__ADS_1