Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 67 : Kayak Om-om


__ADS_3

Menikmati matahari terbit dengan pemandangan air yang terbentang luas nan tenang, tentu sangat menyejukkan mata siapa pun yang memandangnya.


Dini duduk di sisi teras penginapan dengan mengayunkan kakinya, sedangkan Fryan dan si kembar berenang sembari olahraga pagi yang sebenarnya, memanfaatkan waktu sebelum kembali nanti.


''Udah berenangnya!'' seru Dini saat Fryan naik ke permukaan.


''Seru tau Yang..'' balas Fryan.


''Mana Bagas Bagus?'' tanya Dini mengedarkan pandangan di depannya.


''Nyari ikan duyung.'' jawab Fryan sambil naik ke tas ke arah sang istri.


''Lumayan tuh di goreng terus di cocol sama sambel terasi.'' sahut Dini.


''Hahaha.. bisa aja istriku.''


Fryan menc1um pipi sang istri lalu duduk di sampingnya.


''Isshh basah semua ini...'' gerutu Dini karena Fryan memang basah kuyup.


''Nggak papa nanti mandi bareng.'' goda Fryan mengedipkan satu matanya.


''Genit banget sumpah, kayak om-om.'' protes Dini berhasil membuat Fryan langsung terbahak-bahak.


Hahaha


''Sayang.''


''Hem, iya..''


''Kamu seneng nggak?'' tanya Fryan menatap serius.


''Seneng banget, makasih ya..'' ucap Dini.


Fryan mengembangkan senyumnya, lalu meraih tengkuk Dini dan mendaratkan c1um4nnya di bibir sang istri.


Meskipun Fryan hanya mengenakan celana kolor dan rambut kusut awut-awutan karena baru berenang, tetapi tidak melunturkan momen sepasang suami istri yang sedang bermesraan.


''Udah-udah, malu kalau dilihat orang.'' ujar Dini lirih.


''Kenapa senyumnya gitu?'' tanya Dini.

__ADS_1


''Aku bahagia, bahagiaaaa banget.'' ucap Fryan.


''Biasanya gimana? kurang bahagia?'' ledek Dini seraya menahan senyumnya.


''Iya, kurang banget, apalagi pas mengejar cinta yang tak kunjung sampai, beuuhh kadang terbesit pengen mundur alon-alon (pelan-pelan), tapiii.. hati dan pikiran selalu berucap maju tak gentar.''


Sebenarnya isi cerita dari Fryan menyedihkan, tetapi Dini malah ingin tertawa melihat ekspresi sang suami.


Fryan mengernyitkan keningnya heran kenapa Dini justru sedang berusaha keras menahan tawa.


''Itu cerita sedih loh Yang, sumpah..'' ujar Fryan menyakinkan ceritanya.


''Hahaha iya-iya aku percaya, maaf, haha ekspresi kamu nggak banget haha''


Fryan langsung meraih hp yang tergeletak di samping Dini dan mencari aplikasi cermin.


Ia menatap wajahnya sendiri dan menoleh ke kanan dan ke kiri.


''Suaminya Nandini ganteng banget ya..'' puji Fryan sambil menyisir rambutnya dengan jari-jari.


''Idih pedenya menantu pak Wahyu..''


''Harus dong.. gini-gini pernah menggagalkan si brengsek Dito mau cium kamu waktu di taman.'' ucap Fryan lalu langsung menutup mulutnya.


''Maksud kamu?'' tanya Dini masih belum connect.


''Maaf ya, kamu inget nggak waktu kalian duduk di taman, terus ada anak kecil nyalain petasan tepat di depan kalian?'' tanya Fryan.


Dini berusaha mengingat momen dulu saat masih bersama Dito, momen yang sudah lama ia hapus dari ingatannya.


Namun, pertanyaan Fryan membuat Dini kembali mengorek dokumen lama.


''Iya, lumayan ingat.'' jawab Dini.


''Itu aku yang nyuruh anak itu, aku mengikuti kalian hehe..''


''Jadi selama ini kamu suka buntutin?''


Hehehe


''Ya ampun Kapri... bisa-bisanya..'' ujar Dini lalu tertawa.

__ADS_1


Dini menggelengkan kepalanya heran membayangkan sikap Fryan dulu.


Namun, tiba-tiba ia berhenti dan gugup mengingat kejadian penculikan waktu itu.


Dini menatap Fryan sekilas lalu kembali menunduk.


''Sayang, kamu kenapa? baik-baik aja kan?'' tanya Fryan panik melihat Dini yang langsung berubah ekspresinya.


Dini hanya menggeleng dan tetap terdiam.


''Sayang, ada apa? kenapa kamu tiba-tiba diem? kamu sakit?'' Fryan menempelkan telapak tangan di kening Dini, dan semuanya baik-baik saja.


Sedangkan Dini berkelit dalam pikiran, ia teringat kejadian waktu di culik. Fryan yang ternyata selalu berusaha menggagalkan aksi Dito.


Namun, pada hari itu, hari dimana membuat Dini sangat takut dan tertekan, justru membuat Dito mampu menyentuh area yang ia jaga.


Beruntung saja bang Aldo dan anggotanya datang lebih cepat, sehingga bisa menyelamatkannya.


''Eng-enggak, nggak papa, jangan bahas dia lagi, aku takut.'' ujar Dini lirih.


Fryan langsung memeluk Dini sangat erat dan mengecup kening sang istri berkali-kali.


''Maaf sayang, aku nggak bermaksud.'' ucap Fryan.


"Maaf aku belum bisa jadi suami yang siaga, aku janji akan selalu ada untuk kamu." imbuhnya.


Fryan tidak menaruh curiga, ia mempercayai sang istri memang ketakutan karena kejadian itu.


Ia tetap mengira bahwa Dito tidak pernah berhasil menc1um istrinya.


''Iya.''


Dari jarak yang tidak jauh, sudah kelihatan Bagas dan Bagus yang sudah semakin mendekat.


''Mandi ya.. abis itu sarapan.'' ajak Fryan lalu memapah sang istri untuk berdiri.


''Iya makasih.'' jawab Dini dengan senyum kecutnya.


''Maaf Fryan, aku tidak bermaksud menyembunyikan hal ini sama kamu, tapi, aku sendiri benci dengan kejadian itu, sangat benci.'' gumam Dini dalam hati.


Sesekali Dini menatap Fryan yang sedang menuntunnya masuk.

__ADS_1


Terbesit rasa bersalah yang teramat besar di hatinya, namun bingung harus bagaimana.


__ADS_2