Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 49 : Vitamin Pagi


__ADS_3

''Kita berangkat dulu ya..'' pamit mama mertua.


''Iya Ma.'' jawab Fryan.


Hari ini ayah Wildan dan mama Tia akan mengunjungi putrinya yang sedang menimba ilmu di pesantren. Rencana mereka akan menginap di kota itu selama tiga hari.


''Hati-hati dirumah.'' ujar ayah.


''Iya ayah.'' jawab Dini dan Fryan kompak.


Fryan dan Dini menatap kepergian orangtuanya yang mengendarai mobil sembari melambaikan tangan.


''Huffttt sepi lagi deh.'' gumam Dini.


''Wahh asik dong.'' goda Fryan seraya mengedipkan satu matanya.


''Isshh ganjen.'' cibir Dini.


''Ganjen sama istrinya sendiri nggak papa dong..'' protes Fryan sembari mengejar sang istri yang sudah berjalan lebih dulu.


''Duduk, sarapan dulu.. tadi ayah sama mama udah sarapan duluan.'' ujar Dini.


''Iya sayang.'' jawab Fryan dengan senyuman manisnya.


Dini membuka dua piring untuk dirinya dan juga Fryan yang hendak sarapan.


''Satu piring berdua.'' ujar Fryan.


''Kenapa?'' tanya Dini.


''Kamu nggak mau?'' tanya Fryan balik


''Di tanya malah balik nanya.'' sulut Dini.


''Makan sepiring berdua buat pasangan suami istri itu pahala loh Yang.'' jawab Fryan.


''Iya tau, tapikan..'' kata Dini ragu.


''Udah, sini aku aja yang ambil.''


''Eh eh pake tangan kanan dong, biar aku aja, kecuali kalau emang kamu kidal atau lagi sendirian baru di maklumi, biar aku aja, kamu duduk diam.'' suruh Dini langsung merebut centong nasi yang sudah di pegang oleh suaminya.


Fryan menuruti apa yang di perintahkan oleh istrinya, ia senang melihat sikap sang istri yang selalu berhasil membuatnya gemas.


''Berdo'a dulu.'' kata Dini.


Fryan dan Dini kompak menunduk sesaat membaca do'a sebelum makan.


Meskipun Dini kadang merasa aneh dengan tatapan sang suami kepadanya, ia tetap telaten memberikan suapan sesuai dengan tanggungjawab yang ia janjikan.

__ADS_1


Fryan sangat bahagia dengan momen ini, ia ingin cepat-cepat sembuh total dan menjalani hari-harinya dengan normal.


"Sayang."


"Hem.."


"I love you.."


"He'em iya, makan dulu baru ngomong." protes Dini lalu memberikan suapan lagi.


"Hehe"


Fryan terkekeh ketika sang istri memprotes dirinya .


Beberapa menit kemudian, Dini sudah selesai menyuapi Fryan dan juga dirinya sendiri, sekarang tinggal membersihkan.


Setelah selesai, Dini mengajak Fryan untuk berjemur di depan rumah dengan berolahraga ringan jalan sehat.


"Nanti kalau abis kontrol kita tinggal di rumah ya.." pinta Fryan di sela-sela kegiatannya.


"Apa boleh?" tanya Dini.


"Ya kalau kondisinya sudah baik pasti boleh, nggak enak kalau sudah nikah tinggal bareng mertua." jawab Fryan.


"Lah itu kan orangtua kamu sendiri, nyindir aku ya?" tuduh Dini.


"Haha bukan gitu sayang, aku aja nggak mau kok kalau di suruh lama-lama serumah sama orangtua atau mertua dengan kondisi yang sudah menikah. Kecuali memang ada faktor yang mendesak untuk kita nggak bisa jauh. Aku ingin kita mandiri sayang, kamu juga bisa leluasa bergerak, mengatur dalam kegiatan rumah tangga kita. Meskipun orangtua kita nggak neko-neko, tapi ya lebih enak kan kalau kita coba mandiri, toh kita bisa berkunjung kapan aja kan.." ujar Fryan.


"Tapi, kamu jangan maksa." kata Dini tiba-tiba setelah bermonolog di dalam pikiran.


"Hah apasih sayang? kamu mikirin apa hayo? diih mesum banget istriku.." goda Fryan berhasil membuat pipi Dini merona karena malu.


"Enak aja! pokoknya terserah kamu, Kakak cuma bisa ikut."


Fryan langsung meraih dagu Dini yang menunduk karena malu.


"Fryaann." pekik Dini.


"Hukuman karena menyebut Kakak lagi." kata Fryan setelah melepas c1um4nnya.


"Kan nggak sengaja, namanya juga lebih lima tahun di banding beberapa hari, ya kan jauh, masih perlu adaptasi." protes Dini setelah mengusap bibirnya.


"Aku nggak perlu adaptasi tuh, langsung bisa manggil sayang, sayangku, istriku cantik.." ujar Fryan kembali mendaratkan c1um4nnya berkali-kali di wajah sang istri.


"Fryaann ih malu.'' gerutu Dini sembari menutupi wajahnya dengan tangannya.


"Tuhan yang lihat, nggak papa kan udah halal.'' ujar Fryan santai.


''Dulu kamu suka maksa nggak inget dosa.'' gerutu Dini.

__ADS_1


"Haha iya ya, duh sekarang mau cari pahala deh c1um-c1um istri aku yang suka gengsi ini.'' kata Fryan kembali menc1um pipi istrinya sekilas.


Dini berhasil melepaskan diri dari genggaman sang suami dan menjaga jarak agar tidak kembali mendapatkan serangan.


Sedangkan Fryan tersenyum bahagia karena mendapatkan vitamin paginya, melihat sang istri menggerutu justru semakin membuatnya tertantang.


--


Sudah dua minggu paska insiden itu, hari ini jadwal kontrol kedua untuk Fryan.


Ia sudah bisa berjalan normal dan tinggal menyisakan bekas luka tusukan benda tajam pada lengannya yang mengharuskan Fryan untuk melakukan kontrol sesuai anjuran dokter.


Meskipun kondisinya sudah jauh lebih baik karena ia sudah tidak perlu memakai penopang lagi, tetapi Fryan tetap harus memastikan sampai benar-benar baik-baik saja dan tidak perlu melakukan kontrol lagi.


''Perkembangannya cukup bagus, sepertinya benar-benar dalam pengawasan yang baik.'' puji dokter.


''Iya dok, istri saya sangat telaten dan sabar.'' jawab Fryan lalu memberikan senyuman kepada Dini yang duduk mendampinginya.


Dini hanya bisa mengangguk lalu tersenyum ke arah dokter.


''Semoga mas Fryan segera sehat dan kalian segera diberikan momongan ya..'' ucap dokter itu tanpa rasa berdosa.


''Hah! eh.. hehe'' Dini terkejut mendengar kalimat yang dilontarkan pak dokter lalu langsung menutup mulutnya.


''Aamiin dok, istri saya masih malu-malu, terimakasih dokter.. saya juga sudah tidak sabar memberikan cucu lagi untuk ayah kami yang sedang menunggu diluar ruangan.'' jawab Fryan santai.


Mendengar jawaban santai Fryan, Dini hanya bisa nyengir dan bingung harus memberikan kalimat apa lagi, ingin rasanya langsung mencubit pinggang sang suami sekarang juga.


''Bisa-bisanya anak ini ngomong kayak gitu.'' gerutu Dini dalam hati.


''Kalau begitu terimakasih dokter, kami permisi dulu.'' ucap Fryan lalu beranjak dari duduknya dan di ikuti oleh Dini.


''Sama-sama, silakan..'' jawab dokter.


Fryan berjalan dengan menggandeng tangan istrinya untuk menghampiri orangtua mereka yang menunggu di luar.


''Gimana hasilnya?'' tanya ibu.


''Alhamdulillah sudah jauh lebih baik Bu.'' jawab Fryan.


''Alhamdulillah..'' jawab mereka serempak mengucap kata syukur.


''Tinggal masa pemulihan aja kok, cuma belum boleh buat angkat beban berat dulu.'' imbuh Fryan.


''Ohh, iya-iya.''


Dini, Fryan, ayah Wildan, mama Tia, ayah Wahyu, dan ibu Hasni berjalan menuju parkiran rumah sakit.


Fryan berada dalam satu mobil bersama istri dan kedua orangtuanya, sedangkan sang mertua membawa mobil sendiri.

__ADS_1


Setelah dari rumah sakit, mereka sudah membuat janji untuk mampir ke salah satu restoran seafood.


__ADS_2