
Pria itu pacar Kakak kan? kenapa Kakak nggak jujur?" tanya Fryan dengan tatapan menyelidik.
Dini melihat foto itu dan kedua bola matanya langsung terbelalak karena terkejut.
Bukan terkejut kepergiannya dengan Ardi di ketahui oleh Fryan, tetapi pikirannya kini melayang akan keamanan aktivitasnya sendiri.
''Siapa pelakunya? atau jangan-jangan pak Ardi yang sengaja merencanakan semua ini agar Fryan membenciku?'' Dini bertanya-tanya di dalam hatinya, namun masih belum menemukan suatu keyakinan atas jawaban pertanyaannya sendiri.
''Kenapa Kakak diam? berarti semua ini benar?'' tanya Fryan serius di barengi dengan tatapan lekatnya.
Dini dan Fryan saling menatap.
''Soal foto itu, Kakak hanya menghormati ajakan pak Ardi, soal tangannya.. itu diluar kendali, ada saus yang belepotan, dia reflek membersihkan, itu saja, bahkan setelah itu kita pulang..'' jelas Dini.
''Duuh kenapa aku jadi semakin merasa bersalah dan wajib menjelaskan ya?'' batin Dini gelisah.
Fryan terdiam beberapa saat.
''Apa benar Kakak ke hotel setelah itu?'' tanya Fryan.
Plak
Dini merasa kesabaran sudah diambang batas, sehingga tangannya spontan melayangkan sebuah tamparan keras di pipi kanan Fryan.
''Kak Dini.. aku hanya bertanya.'' ujarnya
''Oh begitu? apa kamu tidak sadar pertanyaan kamu itu bikin sakit hati? kamu pikir Kakak ini wanita murahan hah?!'' Dini sudah tersulut rasa emosi dihatinya.
__ADS_1
''Aku hanya bertanya tentang perkataan Felly.''
Dini memicingkan matanya ke arah Fryan.
''Felly??''
Fryan tersadar telah kelepasan dalam berbicara, saking hatinya di tutup rasa amarah dan cemburu yang begitu dalam.
''Siapa Felly?'' tanya Dini tegas.
''Dia yang ngirim foto itu.'' jawab Fryan berbalik menjadi bingung sendiri.
''Ohh jadi kamu cari orang buat mata-matain Kakak?''
''Bukan Kak, bukan.. sumpah aku tidak mengutus siapapun untuk mengawasi gerak gerik Kakak, tiba-tiba ada nomor baru mengirim gambar dan setelah itu orangnya nelfon aku..'' jelas Fryan mulai merasa bersalah.
''Apa hubunganmu sama si Felly itu? apa tujuan dia melakukan hal ini?'' cerca Dini.
''Dia hanya teman sekolahku dulu yang nggak penting.''
''Kalau nggak ada hal penting, nggak mungkin dia melakukan itu Fryan..'' cerca Dini lagi.
''Memang dia pernah bilang menyukaiku, tapi aku nggak.. sudahlah Kak itu bukan hal penting buat aku.'' jawab Fryan merasa kalah.
''Sekarang dengan gampangnya kamu bilang sudahlah setelah bikin malu Kakak? mau di tarok dimana muka Kakak kalau tadi kalian beneran berantem?! suka nggak mikir kalau mau bertindak.'' protes Dini lalu membuang arah pandangannya ke samping.
''Haduuuhhh bod*h sekali sih lu Fryan!! kalau kayak gini kak Dini lihat lu jadi makin kayak bocah.. bod*h! bod*h!!!'' gerutu Fryan di dalam hati.
__ADS_1
''Iya Kak maaf, memang aku salah.. nggak seharusnya aku bertindak seperti tadi kepada laki-laki itu. Aku hanya terlalu cemburu melihat kalian berdua, sesaat setelah foto itu masuk, rasanya tidak tenang, apalagi ditambah kata-kata yang bikin panas.'' ungkap Fryan.
''Apakah semua rasa cemburu itu harus dilakukan dengan kekerasan Fryan??"
"Tidak Kak." jawab Fryan sambil menggelengkan kepalanya.
"Maaf Kak.. aku hanya takut Kakak di miliki orang lain, dan itu nggak boleh terjadi, aku cinta sama Kakak." Fryan langsung meraih bahu Dini dan membawa ke pelukannya.
Fryan memeluk Dini sangat erat dan tidak membiarkannya berontak.
Pelukan itu sangat menenangkannya dan membuat candu.
Fryan mengurai pelukannya dan menangkup kedua pipi Dini dengan telapak tangannya. Keduanya saling beradu pandang tanpa kata.
"Sampai kapanpun hanya Kak Dini satu-satunya perempuan yang aku cinta.." ucap Fryan.
Meski bibir selalu menolak, ntah mengapa airmata Dini tiba-tiba menetes mendengar ucapan Fryan, sehingga membuatnya tak mampu berkata-kata.
Cup
Fryan kembali mendaratkan kecupan di kening Dini.
"Maaf." ucap Dini seraya menghindar.
"Maaf Kak." ucap Fryan langsung kembali menghadap ke arah kemudinya.
"Aku antar pulang sekarang, soal motor nggak usah khawatir." ucap Fryan dan di jawab anggukan oleh Dini.
__ADS_1