
Sejak obrolannya tadi pagi dengan sang suami, Dini masih terlihat belum ceria. Ia sudah berusaha menutupi, namun tetap saja bayangan hari itu hadir dan membuatnya merasa canggung sendiri.
Semua barang-barang sudah di persiapkan, mereka berempat naik ke perahu untuk kembali ke pelabuhan.
Hanya satu malam waktu yang mereka ambil untuk menginap di pulau ini.
''Yuk Dini bisa yuk lupakan itu....'' ujar Dini dalam hati.
Sekuat tenaga ia menanggapi dengan asik banyolan Bagas, tetapi seperti tidak masuk ke kepalanya.
Dini justru kerap melirik sang suami, seperti memiliki salah yang teramat besar.
''Lain waktu kita liburan lagi ya..'' lirih Fryan.
Sama halnya dengan Dini, Fryan juga merasa bersalah atas kalimatnya tadi.
Ia menganggap diamnya Dini karna ceritanya yang mengorek luka lama.
Dini membalas dengan mengangguk sambil tersenyum.
''Makasih ya..''
Fryan terus menggenggam tangan sang istri sembari mendengarkan Bagas dan Bagus yang terus bercerita.
Namun, fokus Fryan dan Dini tidak pada banyolan Bagas dan Bagus, pikiran mereka sibuk masing-masing.
Hingga tak terasa perjalanan yang terasa lama akhirnya sudah tiba di pelabuhan.
''Mau disini aja lu bos?'' tanya Bagas menepuk pundak Fryan.
Menyadari suara Bagas, Fryan dan Dini justru terperanjat dan spontan menoleh ke kanan kirinya.
''Loh udah sampai ya?''
''Lah malah ngelamun, laki bini sama bae.. masih mau lanjut apa gimana nih?'' ejek Bagas.
Fryan dan Dini langsung saling pandang sekilas, ternyata mereka sama-sama bengong.
''Enak aja lu..'' sungut Fryan seraya membantu sang istri untuk naik ke atas.
Dini menatap hamparan laut di depan matanya, bibirnya tersenyum melihat keindahan yang diberikan Sang Pencipta.
''Ayo sayang''
''Oh iya..''
Fryan menggandeng tangan Dini menuju ke arah mobilnya yang terparkir rapi.
Sedangkan Bagas memanasi mesin mobil terlebih dahulu sebelum kembali digunakan perjalanan jauh.
''Kamu tadi ngelamun?'' akhirnya Dini berani mempertanyakan.
''Tadi kapan sayang?''
''Ya tadi, waktu sampai kan baru ngeh pas Bagas negur..''
''Oh itu hehe.. aku merasa bersalah banget sama kalimatku tadi ke kamu, maafin aku ya..'' ucap Fryan lirih takut di dengar orang lain.
Dini menjadi salah tingkah sendiri, ternyata Fryan juga sedang di penuhi rasa bersalah, walaupun beda persepsi.
__ADS_1
''Aku nggak marah kok, aku cuma kayak lagi masuk angin.'' ucap Dini kemudian tersenyum.
Biarlah kejadian hari itu cukup ia simpan dengan rapat, selain menyakiti suaminya, tentu juga sangat menyakiti dirinya sendiri.
Sekarang fokusnya hanya untuk belajar bagaimana menjadi istri yang baik, fokus pada yang mencintainya dengan tulus.
Kali ini Dini memang seperti sedikit sedang meriang, kepalanya terasa sedikit pusing, baru terasa saat berada di perahu tadi.
''Jangan-jangan kamu hamil?'' celetuk Fryan.
''Ih ngawur!'' bantah Dini.
''Lah kok ngawur? kan udah jebol sayang.''
''Baru juga kemarin, ini mah karna gara-gara tidurnya nggak pake apa-apa jadi masuk angin, gara-gara kamu tuh..'' sungut Dini.
Fryan langsung terkekeh mendengar pengaduan sang istri, sampai lupa sedang dimana.
''Sssttt jangan keras-keras ketawanya!'' bisik Dini.
''Ayoo''
Belum sempat Fryan menjawab, Bagas sudah meneriaki mereka untuk segera melanjutkan perjalanan.
''Oke.'' jawab Fryan.
''Nanti aku pijitin di dalam mobil.'' ujar Fryan.
Dini mengangguk
''Gila gue udah laper lagi nih, hemmmm..'' sindir Bagas sambil memegang perutnya yang seakan belum makan lima dekade.
Karena untuk ukuran seorang laki-laki, Bagas sangatlah memiliki pembawaan yang cerewet dan lebay. Tapi, bagi yang paham tentu tau Bagas memiliki sisi kedewasaan dan juga kecerdasan yang tidak di ketahui banyak orang.
''Nggak tau kenapa gitu.'' sahut Bagus.
''Gini-gini juga kesayangan lu kan bos??'' timpal Bagas
''Dih nggak tuh..''
''Jangan ada dusta di antara kita bos, sakit hati ini lu gituin..'' ujar Bagas langsung terkekeh sendiri.
''Amit-amit!! lapernya masih berlanjut nggak tuh?''
''Iyalah, cacing-cacing di dalam perut gue sudah meronta-ronta minta jatah.''
''Terserah lu mau makan dimana, yang enak sekalian cari oleh-oleh khas sini ya..'' ujar Fryan.
''Siaapp bosku sayaang..'' ujar Bagas dengan nada lebay.
''Hih lama-lama gue ngeri sama lu..'' sungut Fryan lalu menjitak kepala Bagas dari belakang.
''Hahahaha asem lu, normal gue..''
Dini dan Bagus hanya menyimak pertikaian antara sahabat ini.
Sudah tidak heran bagi mereka, sejak lama mereka selalu seperti itu.
Namun, mereka tetap baik hingga sekarang karena saling memahami satu sama lain.
__ADS_1
Bagas menuju ke lokasi toko oleh-oleh khas Lampung terlebih dahulu karena melintasi. Toko yang menjual berbagai macam olahan pangan dan juga pernak pernik menarik yang khas dengan daerah ini.
Dini yang tadi merasa tidak enak badan, rasa itu menjadi terkesampingkan begitu masuk ke dalam toko.
Dini memilih dengan semangat untuk ia bawa pulang, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga orangtua dan juga akan dikirimkan ke Nita.
Barang pertama yang di ambil oleh Dini adalah kain tapis.
Menurut penjelasan dari pemilik toko yang kebetulan sedang berada di tempat.
Sebagian masyarakat menganggap kain tapis sangatlah mahal. Tidak salah juga dengan anggapan itu, tetapi bagi mereka yang melihat dan tau cara menghargai sebuah proses dan budaya tentu tidak akan mencela, tidak ada paksaan untuk membelinya, cukuplah dengan menghargai.
Dini tertegun mendengar penjelasan dari ibu tersebut, mungkin bukan hanya disini. Di daerah manapun akan tidak jauh berbeda, harga akan menentukan kualitas dan nilainya.
Setelah berbincang dengan ibu tersebut dan tak lupa mengambil beberapa baju yang terdapat motif tapis, tas dan juga pernak perniknya untuk di gunakan sebagai pajangan di rumah.
Dini melanjutkan ke bagian olahan pangan, ada kopi, kerupuk, dan keripik pisang khas daerah yang selalu menjadi daya tarik para wisatawan.
''Udah cukup ya?'' tanya Dini.
''Yakin?'' tanya Fryan memastikan.
''Iya.. buat ibu, mama, di kirim ke Nita.. nanti ponakanku ngencesan kalau nggak keturutan, soalnya emaknya udah ngingetin terus haha..'' jelas Dini menghitung dengan jarinya.
''Wah iya, sampe lupa sama Nita..'' sahut Fryan.
''Kakak!'' protes Dini.
''Hehe gedean aku sih..''
''Iya kamu tumbuhnya kecepetan.''
Selesai membayar, Fryan membawa barang-barang ke dalam mobil.
Bagas dan Bagus tidak ikut masuk, mereka sudah dibawakan oleh-oleh dari neneknya.
''Beuuhhh mborong? apa mau di jual lagi nih..'' celetuk Bagas melirik hasil belanjaan Dini dan Fryan.
''Udah diem aja lu.. ayo cari makan.'' sahut Fryan
''Iya gila gue nungguin lama bener, taunya mborong..'' protes Bagas.
''Udah buru.. keluarga kita banyak, kalau udah nikah tuh gini, semua di pikirin, harus adil sama semuanya, satu di beliin, yang satunya juga..'' jelas Fryan.
''Hehe iya juga, gue harus belajar nih sama suhu..'' sahut Bagas masih fokus dengan kemudinya.
''Haha anjir lu ngeledek gue..''
''Lah begimane sih bos, itu namanya memuji..''
''Terserah lu dah..''
''Haha.. nah kita makan disini ya, endul takendul-kendul kata orang..''
''Nurut aja kita mah..'' jawab Dini.
Bagas membelokkan kemudinya ke arah rumah makan yang tidak jauh dari pusat oleh-oleh tadi.
Tempat parkirannya sangat luas, sehingga memudahkan para pengunjung, ada indoor dan juga outdoor, pilih sesuka pengunjung.
__ADS_1