
''Lalu..'' Ucapan Nita terhenti saat pintu ruangan mereka ada yang membuka.
Ceklek
Semua menoleh ke sumber suara dan ternyata Fryan baru saja tiba dengan langkah tergesa-gesa.
''Maaf semuanya aku telat,'' ucap Fryan lalu menutup pintu lagi
Fryan langsung masuk dan menduduki kursi kosong di sebelah Dini, ia sengaja menggeser kursinya agar dekat dengan Dini, tetapi Dini langsung ikut menggeser kursinya agar lebih jauh.
''Udah jangan mainan kursi..'' Protes Aldo.
Fryan hanya tersenyum jahil kepada Dini.
''Jadi kita mau bahas apa?'' tanya Fryan mulai serius.
Anita menghela nafas, sedangkan Dini hanya diam menunduk.
''Gini Fry, kamu kan tau kalau Kakak mau pergi, kamu juga sudah tau cara handle laporan cafe ini, tadinya Kakak percayakan cafe ini ke kamu sama Dini, kalian bisa bergantian atau saat sama-sama lagi nggak sibuk ya boleh kontrol langsung,'' jelas Anita.
''Tapii-''
''Tapi, apa Kak?'' tanya Fryan bingung, ia menatap Anita, Dini, dan Aldo secara bergantian.
Anita menatap ke arah Dini ragu.
__ADS_1
''Tadi Dini bilang tidak bisa,'' ujar Anita sedih.
''Loh kenapa Kak?'' Fryan bertanya pada Dini seperti tidak ada sesuatu.
''Nggak papa, aku ingin fokus ke pekerjaanku di kantor, aku takut tidak bisa membagi waktu, sedangkan nanti saat urusannya beres, aku akan ngekost, rasanya tidak mampu jika harus kesini,'' jelas Dini.
''Benar begitu Din alasan kamu? kenapa seperti ada yang berbeda? dan kalian?'' Anita memandangi Dini dan Fryan secara bergantian.
''Kalian biasanya selalu becanda, kenapa Dini jadi dingin, ada apa sama kalian? FRYAN JELASKAN?!'' Nita tidak terima jika penyebab semua ini adalah adiknya sendiri.
''E-eeee aku?'' tunjuk Fryan pada dirinya sendiri gugup.
''Siapa lagi? mamang cilok??!''
''Nggak ada apa-apa, ya kan Kak Din??'' Fryan menyenggol-nyenggol kaki Dini untuk memberikan kode.
''Fyuhh syukurlah kalau tidak ada apa-apa,'' jawab Nita meskipun dihatinya masih menyimpan rasa penasaran.
Dini hanya menyimpulkan senyumnya.
Fryan mencuri-curi pandangan kepada gadis yang duduk di sampingnya, ia ingin sekali melontarkan pertanyaan lagi, tetapi masih banyak keraguan.
''Emm Kak Dini, kenapa Kakak milih ngekost? kan bisa PP aja?'' tanya Fryan memberanikan diri.
''Nggak papa Fryan, bukan urusanmu kan?'' tanya Dini dingin.
__ADS_1
Nita dan Aldo langsung saling menatap terkejut, sesuatu hal yang tidak biasa baru saja mereka saksikan.
''Nita, bang Aldo.. sekali lagi aku mohon maaf karena tidak bisa menjalankan amanah kalian, emm selamat sekali lagi atas pernikahannya, dan kalau tidak ada yang mau di bahas lagi, aku mau pulang,'' ujar Dini.
''Jujur kita merasa sedih dan yaah sedikit kecewa, tapi mau gimana lagi kalau ini sudah menjadi keputusanmu, kita nggak bisa maksa, harapannya cuma ada di Fryan, semoga dia nggak bikin kita kecewa,'' jelas Aldo.
''Sekali lagi maaf bang, Nit.. terimakasih banyak sudah melibatkan aku disini, menyaksikan kalian berhasil,'' ucap Dini.
''Ini keberhasilan kita Din, punya kita semua.." timpal Nita.
Dini mengangguk sambil menyimpulkan senyumnya.
"Bang Aldo, Nita, kalau tidak ada yang akan dibahas lagi, aku pamit dulu ya.." ucap Dini.
"Loh kenapa buru-buru?" tanya Nita.
"Aku ada urusan Nit," jawab Dini kemudian tersenyum.
Fryan masih terdiam, ia merasa bersalah atas hal ini.
''Kak Dini benar-benar marah sama aku, gimana ini? aku harus gimana? Kak Nita pasti juga marah sama aku? b*d*h sekali lu FRYAANNNN!!!'' batin Fryan merutuki dirinya sendiri.
"Oh, ya sudah kalau mau duluan, terimakasih ya Din.. hati-hati," ucap Nita lalu memeluk sahabatnya itu dengan erat.
"Terimakasih Nit,"
__ADS_1
Dini pun langsung keluar dari ruangan tersebut tanpa ragu.
"Mau kemana kamu??!"