Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 41 : Aku Kuat Kok


__ADS_3

Aldo membuka pintu ruangan Fryan dengan hati-hati, kemudian Ali melanjutkan langkahnya dengan mendorong kursi roda setelah pintu terbuka lebar.


''Fryan'' panggil Dini.


''Kak Dini..''


Fryan mengerang kesakitan saat hendak duduk.


Tatapan Fryan dan Dini saling bertemu, Dini terkejut melihat seorang gadis cantik berada di samping Fryan.


Gadis itu juga tak kalah terkejutnya dengan kedatangan Dini, ia terlihat tidak tenang.


''Pelan-pelan dek, Fryan.. kamu kenapa bisa kayak gini?'' Nita langsung melangkah cepat memeluk adiknya, diikuti Aldo yang berdiri di sampingnya.


''Aku nggak papa Kak, aku senang kak Dini ada disini. Kak Dini maafin aku..'' ucap Fryan.


''Maafin Kakak, semua ini gara-gara Kakak..'' ucap Dini sendu, lalu melirik sekilas pada gadis yang terlihat gelisah itu.


''Hay.. terimakasih sudah menemani Fryan.'' Dini mengulurkan tangannya di depan Felly.


''Oh iya, sama-sama..'' jawabnya gugup, Dini belum mengetahui jika gadis itu bernama Felly.


''Siapa namamu?'' tanya Dini penasaran.


''Felly.'' jawabnya cepat.


''Felly?'' Dini langsung menoleh ke arah Fryan seolah mencari jawaban apakan Felly yang pernah Fryan ceritakan dulu.


Seolah paham dengan maksud Dini, Fryan langsung mengangguk.


''Aku juga nggak tau kenapa dia tiba-tiba ada disini..'' sahut Fryan cuek.


''Em maaf sepertinya saya harus permisi dulu karena ada pekerjaan pagi ini, maaf, permisi semuanya..'' ucap Felly langsung melangkah keluar dengan gugup.


Di dalam ruangan semua menatap kepergian Felly lalu saling melempar pandangan.


''Cie yang dijagain cewe cantik..'' goda Dini.


''Kakak cemburu ya?''goda Fryan balik dengan kondisi masih berbaring dan sedikit memiringkan badannya.


''Nah adek gue langsung sembuh nih kayaknya..'' ledek Nita.


''Kagak bisa akting gue, beneran sakit semua ini..'' sahut Fryan.


''Kakak minta maaf..'' ucap Dini.


Ucapan Dini membuat Nita tidak jadi melanjutkan ejekannya, Dini terlihat sedang serius.


Dini merasa ragu ingin memegang lengan Fryan, ia menyaksikan secara langsung bagaimana benda tajam itu menusuk lengan laki-laki yang sedang berusaha menolongnya.


''Gimana lukanya?'' tanya Dini lirih, sesaat kemudian airmata menetes.

__ADS_1


''Kakak akan bertanggungjawab, ini gara-gara Kakak..'' imbuhnya.


Kepalanya terasa berat, ntah pertanggungjawaban dalam bentuk apa yang tepat yang akan ia berikan untuk Fryan, Dini hanya merasa semua terjadi gara-gara dirinya.


''Dini, jangan nyalahin diri kamu terus, musibah nggak ada yang tau..'' sahut Nita sebelum di jawab adiknya.


''Gimana aku nggak nyalahin diri sendiri Nit? kalau pelakunya..''


Belum sempat Dini melanjutkan perkataannya, seorang dokter masuk ke dalam ruangan Fryan.


''Permisi, periksa dulu ya..'' ucap dokter dengan ramah.


''Silakan dokter..'' jawab mereka.


Dini memperhatikan dokter yang sedang mengecek keadaan Fryan.


''Gimana dokter?''


''Seperti yang saya sampaikan tadi malam, pasien harus selalu di dampingi guna memperhatikan kegiatannya, luka tusukannya yang lumayan dalam dan beberapa titik luka di bagian dalam mengharuskan pasien untuk tidak boleh sembarangan bergerak, untuk makan dan minum sebaiknya ada yang membantunya. Jika bisa pakai tangan kiri sih tidak apa-apa. Tapi, kalau pasien terbiasa beraktivitas dengan tangan kanan pasti ini membuatnya kesulitan.'' jelas dokter dengan ramah.


Ali, Aldo, dan Nita langsung saling melempar pandangan, sedangkan Dini hanya diam menunduk.


''Baik dokter, terimakasih.'' ucap Ali.


Aldo yang merupakan seorang dokter tentu saja memahami hal ini. Tetapi disini bukanlah tempatnya.


''Kalau begitu saya permisi dokter Aldo, mari..''


Dini masih duduk di kursi roda di samping ranjang tempat Fryan terbaring, ia masih bergelut dengan pikirannya sendiri.


Melihat Dini seperti sedang merenungkan sesuatu, Nita memberikan kode kepada suami dan juga kakaknya untuk keluar dari ruangan itu.


..


''Bagaimana ini? kita kan tidak mungkin ada disini terus?'' ujar Nita memulai perbincangan setelah keluar dari ruangan Fryan.


''Iya, jadwal Kakak lusa pulang, Kakak sudah pesan tiket pesawat.'' jawab Ali dengan pandangan sendu.


''Sama dong kalau gitu..'' sahut Aldo.


''Sebaiknya kita kabari ayah kita semua..'' ujar Nita.


''Ya sudah Kak Ali kabari ayah Wildan ya.. aku mau mengabari ibu, kalau langsung ke ayah takut, nanti biar ibu yang kasih tau pelan-pelan ke ayah.'' ungkap Nita.


''Oke siap..'' Ali langsung bergegas meraih ponselnya untuk menghubungi ayah Wildan.


Sedangkan Nita mengambil ponselnya di dalam tas untuk memberikan kabar kepada ibunya Dini.


..


Sementara di dalam ruangan, Dini masih tertunduk lesu.

__ADS_1


''Kak Dini..'' panggil Fryan menolehkan kepalanya ke arah Dini, ranjangnya sudah di atur agar tidak berbaring.


''Hmm iya?'' jawab Dini kaget.


Fryan langsung terkekeh melihat ekspresi Dini.


''Mereka pada kemana sih?'' tanya Fryan celingukan.


Dini hanya mengangkat kedua bahunya.


''Kakak kok pake kursi roda? Kakak di sakiti juga ya? di apain aja sama mereka?'' tanya Fryan khawatir.


''Enggak! Kakak tuh bisa jalan, tapi tadi mereka ngelarang, maksa Kakak buat duduk disini, nihh bisa..'' Dini langsung beranjak berdiri memberikan bukti.


Fryan kembali terkekeh melihat tingkah Dini.


''Malah ketawa lagi..'' gerutu Dini.


''Tapi, Kakak masih pucat, itu kenapa tangan Kakak?'' Fryan langsung menatap serius pada kedua pergelangan tangan Dini yang terlihat merah.


Dini reflek menyembunyikan kedua tangannya di belakang badan.


''Nggak kenapa-kenapa.'' jawab Dini.


''Mana?'' Fryan menengadahkan tangan kirinya.


''Apa sih.. nggak papa ini.''


''Iya mana mau lihat.'' paksa Fryan.


Dengan berat hati, Dini melepaskan sembunyian tangannya dan ragu mengulurkan kepada Fryan.


''Sampai merah begini? kurang ajar! maaf Kak.. maaf aku gagal nolongin Kakak..'' ujar Fryan sedih.


''Sudah-sudah, Kakak nggak papa.. ini semua salah Kakak, gara-gara Kakak kamu harus nanggung sakitnya..'' Dini terus merutuki dirinya.


Suara pintu menghentikan perdebatan Fryan dan Dini yang saling menyalahkan dirinya sendiri.


''Nanti jam 9 jadwal operasi Fryan, karena dokternya baru ada pagi ini..'' ujar Aldo.


''Operasi?'' Dini langsung menatap sendu kepada Fryan.


''Hah separah itu?'' batin Dini.


''Iya, karena hasil rontgen memperlihatkan ada tulang yang terkena tusukan, meskipun hanya sedikit, lebih baik di operasi biar tidak terjadi hal-hal yang nggak diinginkan.'' jelas Aldo.


Dini mengangguk paham dan semakin menyalahkan dirinya atas insiden ini, ia hanya bisa tersenyum kecut.


''Aku kuat kok Kak..'' ucap Fryan seraya tersenyum.


Dini membalas senyuman itu, meskipun terlihat dipaksakan, karena Dini sedang menahan airmata agar tidak kembali jatuh.

__ADS_1


__ADS_2