
Dini menatap langit-langit kamar kosnya, tiba-tiba sebuah bayangan muncul dipikirannya dan memberikan senyum manis kepada Dini.
Dini terkejut dan langsung bangkit dari rebahannya, mengusap wajahnya berkali-kali agar bayangan itu segera pergi.
Drrttt
Suara dering ponselnya membuyarkan gerutuan Dini tentang sosok bayangan.
''Halo Pak..''
''Dini, apa kamu sibuk?''
''Tidak Pak, maaf ada apa ya?''
''Oh tidak ada apa-apa, saya hanya ingin ajak kamu makan malam''
''Tapi Pak, nanti ada yang marah sama saya.''
''Haha lucu kamu, saya jemput kamu jam 7 ya.''
Tut tut
''Halo Pak, Pak, Pak Ardi..''
''Gimana sih ini orang.. kan aku belum mengiyakan.'' omel Dini kepada ponselnya.
.
Dini lebih memikirkan respon Cintya jika ia akan melihatnya pergi berdua dengan Ardi.
Tetapi ia juga tidak enak untuk menolak ajakan seniornya itu.
''Lagian kan aku nggak aneh-aneh ya.. ngapain juga takut, toh aku nggak ada perasaan apapun ke pak Ardi.'' gumam Dini.
Dini langsung beranjak dari ranjang tidurnya dan pergi mandi, karena ia masih bermalas-malasan sejak pulang kerja.
-
''Kamu cantik sekali malam ini.'' puji Ardi saat menjemput Dini.
''Biasanya jelek ya Pak?'' tanya Dini.
__ADS_1
''Haha bukan begitu, kamu selalu cantik, tapi, malam ini jauh lebih cantik..'' senyum mengembang di bibir Ardi.
Tetapi Dini hanya menyunggingkan senyuman sekilas.
Seperti memiliki rasa tidak nyaman atas pujian itu.
''Kenapa Bapak tidak mencoba dekati kak Cintya sih? dia kan cantik, seksi lagi dan sepertinya dia menyukai Bapak..'' ujar Dini memulai obrolan di dalam perjalanan.
Ardi mengernyitkan keningnya heran.
"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal itu?"
"Emm itu.. pengen tau aja Pak hehe maaf, kan kak Cintya good looking maksimal." jawab Dini menekankan kata-katanya.
''Oke saya jawab biar nanti kamu tidur nyenyak. Pertama, saya tidak menyukainya jadi tidak perlu saya mendekatinya, meskipun bodynya macam gitar spanyol.'' jawabnya lalu terkekeh.
''Dan satu lagi, tolong jangan panggil saya Bapak ya kalau lagi diluar jam kerja kayak gini.. kesannya kok tua banget.'' protes Ardi.
''Terus saya manggil apa Pak?'' tanya Dini polos.
''Sama kayak Dira aja.'' jawabnya sambil menatap Dini sekilas.
''Oh gitu ya.. baik Pak, eh Mas..'' ujar Dini canggung.
Dini ikut tersenyum sekilas.
Dua puluh menit mereka tiba di sebuah restoran mewah.
''Saya belum pernah kesini Pak..'' ucap Dini lirih.
''Pak lagi??'' protes Ardi.
''Eh Mas maksudnya.'' jawab Dini.
Ardi mengusap puncak kepala Dini karena gemas, sedangkan Dini yang merasa terkejut langsung menghindar.
''Maaf kamu lucu..'' ucap Ardi.
Sebelumnya Ardi sudah memesan tempat hingga tempat tersebut tampak romantis untuk mereka.
''Silakan.'' Ardi menarik kursi untuk Dini seraya tersenyum.
__ADS_1
''Terimakasih Pak, eh Mas..'' jawab Dini lalu menutup mulutnya yang selalu salah ketika memanggil Ardi.
Ardi duduk di hadapan Dini, memandangi gadis di hadapannya hingga buyar saat seorang waiters meletakkan pesanan di mejanya.
Mereka menikmati hidangan yang tersaji dengan santai.
''Maaf belepotan..'' Ardi mengusap saus yang ada di sudut bibir Dini.
Dini sangat terkejut dengan sentuhan itu dan langsung menggeserkan kepalanya.
''Oh maaf Mas.'' Dini langsung membersihkan sendiri.
Dini menjadi canggung dengan keadaan seperti ini, seperti ada yang mengganjal di hatinya.
''Kenapa aku tidak tenang? rasanya seperti mengkhianati seseorang, padahal kan aku jomblo.. masa iya karna si Kapri..'' batin Dini.
''Dini, apa ada sesuatu?'' Ardi khawatir melihat Dini yang tiba-tiba terdiam.
''Hah? tidak, tidak Mas, saya baik-baik saja..'' jawab Dini sedikit gelagapan lalu tersenyum.
''Oh syukurlah, saya khawatir..'' ujar Ardi.
Setelah menghabiskan satu jam di dalam restoran, Ardi menawarkan untuk melanjutkan ke suatu tempat.
Tetapi Dini menolak dengan beralasan ibu kosnya sangat galak.
''Maaf ya Pak, eh Mas..'' tolak Dini.
''Iya nggak papa, lain kali aja.'' jawab Ardi.
Ardi membukakan pintu mobil untuk Dini.
''Dini''
''Iya..'' Dini kembali menoleh.
''Terimakasih ya..''
Dini mengangguk.
Dini merasakan keanehan pada Ardi, untung ia langsung sigap masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Apa perasaanku aja kalau tadi pak Ardi mau cium aku? arrghh tidak-tidak.. kamu harus hati-hati Dini, lain kali harus punya alasan untuk menolak." batin Dini khawatir.