
HOEKK
HOEKK
HOEKK
Haahh......
Dini menghela nafasnya setelah memuntahkan isi perutnya, rutinitas paginya masih seperti ini.
Konon katanya ini hanya terjadi di awal-awal saja.
''Maafin aku sayang..'' ucap Fryan sembari memijit-mijit tengkuk Dini.
Dini masih terlihat lemas karena baru saja mengeluarkan isi perutnya.
''Anakku sayang, sehat terus ya..'' ucap Dini sembari mengelus perutnya yang masih rata.
Masih berusia sebulan, belum menonjol, namun rasanya sangat nikmat.
Hanya perempuan yang tau rasanya dan suami yang peka tentu akan memberikan perhatian kepada wanitanya.
Dini sangat bersyukur Fryan yang notabene masih sangat muda untuk ukuran laki-laki yang akan menyandang gelar ayah.
Tetapi, ia tau bagaimana cara memperhatikan wanitanya.
''Jangan nakal-nakal ya diperut mama, nanti dicubit loh sama mama..'' bisik Fryan diperut sang istri.
Dini terkekeh melihat tingkah sang suami.
''Papanya aja yang dicubit..''
''Aww sakit sayang.'' pekik Fryan.
''Ih disenggol dikit bilang sakit..'' protes Dini.
''Cubit beneran nih..'' ancam Dini sudah bersiap-siap.
''No no no.. hahaha''
''Udah-udah, malah main cubit-cubitan.. udah enakan belum?''
''Udah, tapi, aku laper..'' keluh Dini.
Semenjak hamil, tingkat laparnya semakin meningkat, mungkin faktor hormon.
__ADS_1
Sekarang sehari bisa lima kali makan nasi, belum ngemilnya.
Dan setelah melalui musyawarah, akhirnya Dini menyetujui untuk mencari asisten rumah tangga.
Awalnya ia tetap ingin melakukan semuanya sendiri saat Fryan sibuk, tetapi Fryan tidak mengizinkan hal itu, sebagai suami tentu saja ia merasakan khawatir.
Belum ada seminggu Mbak Linda berada dirumah Fryan dan Dini, ia juga masih bersaudara dengan Mila.
Adanya Linda juga atas rekomendasi Mila yang sebelumnya sempat diberi penawaran, namun ia menolak karena takut tidak bisa maksimal dan memilih fokus di cafe saja.
Fryan dan Dini turun ke bawah menuju meja makan, Fryan langsung menyiapkan segelas susu untuk sang istri, lalu menyiapkan roti tawar.
Linda sudah mulai bersih-bersih.
Ada perasaan rikuh bagi Dini sendiri, ia merasa bingung memiliki asisten.
''Kalau capek istirahat loh Lin..'' ujar Dini.
''Hehe iya Kak.'' jawab Linda.
Saat awal datang, Linda memanggil Fryan dan Dini dengan sebutan Bapak Ibu.
Mereka berdua langsung menolak karena seperti sudah tua, dan Dini tidak ingin ada perbedaan diantara mereka, meskipun peran Linda membantu bukan berarti harus direndahkan.
Setiap pagi setelah memuntahkan isi perutnya, Dini lanjut mengisi perut dengan segelas susu dan roti.
Saat sudah cukup menikmati udara pagi, mereka akan membersihkan badan dan lanjut sarapan nasi.
Selain untuk membantu kegiatan dirumah, tentu saja dengan adanya Linda bisa membuat Fryan lebih tenang saat menjalani aktivitas diluar.
Ia tak harus khawatir sang istri akan ditinggal sendirian tanpa ada yang menemani.
''Ayo Lin kita sarapan bareng.'' ajak Dini.
''Iya Kak saya nanti aja.'' jawab Linda.
''Udah nggak papa bareng-bareng malah enak, nanti tinggal yang lain.'' ujar Dini tetap memaksa dan akhirnya Linda nurut meskipun malu-malu.
Dini sendiri sebenarnya juga bingung bagaimana harus bersikap kepada asisten, ia belum terbiasa, ada rasa khawatir dirinya tidak bisa bersikap baik dan membuat Linda tidak betah.
''Aku jalan dulu ya sayang, hati-hati dirumah, jangan kemana-mana.'' ucap Fryan.
''Bilangin mama jangan bandel ya sayang..'' bisik Fryan diperut sang istri.
''Iya Papa, Mama nggak bandel, yang bandel kan Papa..'' jawab Dini menirukan suara anak kecil.
__ADS_1
''Yeee malah emaknya yang jawab.'' protes Fryan.
''Lah gimana ceritanya kalau anaknya yang jawab, kan masih didalam perut..'' jawab Dini nggak mau kalah.
''Hehehehehe iya juga, udah ah mau jalan dulu, pokoknya awas kalau kecapean..''
"Iya Kapriiii, enggaakkk.."
Fryan menc1um kening sang istri dan perutnya dengan lembut.
Rasanya selalu pingin bersama-sama terus dengan sang istri tercinta.
Namun, sekarang mengingat beberapa bulan kedepan akan menyambut kelahiran anak, Fryan harus lebih giat lagi dalam menjalani hari-harinya.
"Linda.." panggil Dini.
"Iya Kak.." jawab Linda langsung sigap mendekati Dini.
"Udah beresan kan?" tanya Dini.
"Itu masih nunggu cucian Kak."
"Udah santai aja, temenin aku nonton tv ya." ajak Dini.
"Tapi Kak? apa ini termasuk ngidam juga?" tanya Linda serius.
"Oh iya tentu ini termasuk, jadi kamu harus menuruti."
Mendengar kata ngidam membuat Linda menuruti karena tak ingin anak Dini kenapa-kenapa gara-gara penolakannya.
Meskipun Dini ingin sekali tertawa karena melihat ekspresi Linda.
Linda dan Dini sama-sama masih sungkan, mungkin dengan cara seperti ini pelan-pelan akan bisa lebih mencair lagi.
Televisi dirumah sudah terhubung dengan internet, Dini mencari channel untuk menonton drama kesukaannya, yaitu drakor.
"Kamu suka drakor nggak?" tanya Dini.
"Wah suka banget Kak, dari SMP aku udah suka banget, aktor favoritku itu Lee Jong Suk, aktrisnya Han Hyo Joo.." Linda menceritakan dengan semangat tentang kesukaannya ini, ia benar-benar paham secara detail.
"Kalau gitu, mari kita nonton drakor bersama.." seru Dini.
"Tapi, cucianku Kak.."
"Santai aja disini mah, yang penting waktunya mau makan sudah siap." jawab Dini memastikan keraguan dari Linda.
__ADS_1
Pemutaran drama sudah dimulai, Dini dan Linda mulai fokus dengan layar televisi didepannya.
Melihat adegan demi adegan membuat mereka panas dingin dan terbawa ke perasaan.