Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 79 : Ehh Bocah


__ADS_3

Di salah satu RSIA (Rumah Sakit Ibu dan Anak), Nita sedang berjuang untuk melahirkan anak pertamanya.


Ayah Wildan, Fryan, Dini, ibu Hasni serta beberapa keluarga dari Aldo yang ikut menunggu di depan ruang persalinan tak henti-hentinya menangkupkan kedua tangan masing-masing seraya berdo'a agar di berikan kelancaran.


Mama Tia yang tengah hamil muda tidak di izinkan ikut oleh ayah karena perjalanan tidaklah sebentar, ayah sendiri pun tidak akan berlama-lama berada disini.


Rombongan akan kembali setelah syukuran pemberian nama kepada anak pertama Aldo dan Nita.


Ceklek


Pintu ruang persalinan terbuka membuat mereka spontan mendekat.


Yang tadinya sayup-sayup terdengar suara tangisan bayi, kini semakin jelas suara itu.


Seorang perawat yang mendampingi proses kelahiran Nita muncul dari balik pintu.


''Bagaimana Bu?''


''Alhamdulillah sudah melahirkan dengan lancar dan bayi laki-laki.''


''ALHAMDULILLAH..''


Ucap mereka secara kompak.


..


Kelahiran putra dari Nita memang sangat di nantikan oleh mertuanya.


Kedua orangtua Aldo tampak begitu posesif terhadap cucunya, mereka benar-benar tidak ingin orang-orang sembrono.


Nanti malam adalah acara aqiqah dan syukuran pemberian nama.


Para kerabat dari Aldo sudah berdatangan, membantu mempersiapkan segala sesuatunya.


Ibu Hasni yang sudah menganggap Nita seperti anaknya sendiri tentu saja menganggap anak Nita juga seperti cucunya sendiri.


''Ibu, Nita.. aku ke belakang dulu ya mau bantu-bantu.'' ujar Dini.


''Oh iya Din, maaf ya udah bikin repot.''


''Amaaan..'' jawab Dini lalu keluar dari kamar Nita.


Sedangkan Dini memilih bergabung di belakang bersama dengan kerabat Aldo lainnya.


Awalnya tampak ramah dengan obrolan-obrolan khas ibu-ibu rumpi jika sedang berkumpul.


''Sampean adik ipare Nita to?'' tanya salah satu seorang wanita yang jelas sudah ibu-ibu.


Pertanyaan ibu itu otomatis membuat yang lainnya ikut menoleh menghadap ke arah Dini.


''Iya Tante.'' jawab Dini dengan memberikan senyuman.


''Udah ngisi belum?'' tanya ibu itu lagi.


''Hehe belum Tante.'' jawab Dini kikuk.


''Lah kok belum to? nunggu apa? jangan di tunda-tunda nanti kebablasan.'' ujar ibu itu dengan ekspresi seriusnya.


''Belum di kasih Tante.'' jawab Dini yang mulai tidak nyaman dengan posisinya sekarang.


''Laahh jangan-jangan kopong kui.. (kosong itu)'' sahut ibu di sebelahnya yang yang mendapatkan pengiyaan dari ibu tadi.


Ingin rasanya Dini menangis dan menjerit saat ini, namun, sekuat tenaga ia menahan demi kedamaian situasi saat ini.

__ADS_1


''Do'akan aja Tante.'' ucap Dini dengan senyum yang berat.


''Ya pas- ''


''Din, sini dulu..''


Belum sempat ibu tadi melanjutkan kata-katanya, Aldo datang memanggil Dini membuat kalimat itu terpotong.


''Maaf Tante, saya permisi dulu..''


Dini langsung bergegas meninggalkan sekumpulan ibu-ibu itu dan menghampiri Aldo yang sudah berpindah tempat.


''Ada apa Bang?'' tanya Dini.


''Nggak usah balik kesana lagi, nggak usah di ladeni, yang sabar ya..''


''Bang Aldo denger?'' tanya Dini.


''Iya, kalau di ladeni makin jadi tuh.. udah kamu jalan-jalan kek sama suamimu kemana gitu, refreshing biar seger.'' usul Aldo.


''Nggak enaklah Bang kalau mau keluar, yaudah aku mau balik ke Nita lagi.'' ujar Dini.


''Btw makasih udah di bantuin.'' imbuhnya.


''Yaudah terserah kamu, sama-sama..''


Sebelum masuk ke dalam kamar Nita, Dini melipir ke arah toilet terlebih dahulu.


Ada sesuatu yang sudah ia tahan sejak tadi.


''Sakit banget ya.. sabar sabar...'' gumam Dini lalu mengusap dadanya dengan menghembuskan nafasnya dengan keras.


Dengan segera ia mengusap airmata yang sudah terlanjur mengalir di pipinya.


''Huufff huh!!''


Dini sangat gemas dengan keponakannya, ia terus-terusan berada di dekatnya.


Ingin rasanya menciumi terus menerus, tetapi harus di tahan karena masih sangat kecil.


''Nanti ke rumah Tante ya.. iya sayang, iyaaaa..'' ucap Dini yang juga ia jawab sendiri.


Di kamar tinggal Dini, Nita dan anaknya karena ibu sedang mengobrol dengan orangtua Aldo di luar.


''Din..'' panggil Nita yang masih bersandar di kasurnya.


Dini yang masih menggendong ponakan barunya langsung mendekat ke arah Nita.


''Apa Nit..''


''Kamu yang sabar ya..'' ucapnya.


''Iya Nita, aman kok..'' jawab Dini.


''Nggak usah sok kuat lu haha..''


''Nanti kalau udah gede jangan kayak emakmu ya Nak..'' ucap Dini pada keponakannya.


''Eh Nit anakku haus..''


Nita menggelengkan kepalanya lalu tersenyum dan memaklumi perasaan Dini.


''Sini-sini..''

__ADS_1


Dini langsung menyerahkan anak Nita kepada ibunya yang hendak memberikan asi.


''Nggak papa, nanti pas kamu lahiran kan pas anakku udah bisa di bawa kemana-mana.'' ujar Nita.


''Bisa aje nenanginnya haha..'' jawab Dini.


Sementara Fryan yang tadi masih mengobrol bersama dengan keluarga Aldo tiba-tiba ingin melihat keponakannya.


''Bang, aku mau ke kamar kak Nita dulu..'' pamit Fryan.


''Oke.'' jawab Aldo.


Setelah mendapatkan jawaban, Fryan langsung bergegas ke kamar kakaknya.


''Ehh bocah!'' seru Nita karena terkejut dengan kedatangan adiknya.


Meskipun dengan adik kandung, Nita juga tetap merasa malu jika bagian tertutupnya terlihat.


Dengan spontan ia meraih kain di sampingnya untuk menutupi.


''Hehe maap.. boleh kan aku masuk?'' tanya Fryan yang masih di dekat pintu.


''Boleh.'' seru Nita.


''Kok nggak nangis sih.. buruan nangis dong.. cepetan..'' goda Fryan yang mengusap-usap pelan kepada ponakannya.


''Fryaannn!! nangis beneran tak suruh nen3nin loh!'' sungut Nita sambil menepuk-nepuk tangan adiknya yang jahil.


''Mana bisa!! Om Fryan biasanya di nen3nin.'' jawab Fryan santai.


''Kapriii!!''


''Hahahaha ups''


''Awwhhh.'' Fryan meringis kesakitan karena pada lengannya di tabok oleh sang istri.


Sedangkan Nita yang reflek terbahak-bahak langsung menutup mulutnya.


''Ngawur kalau ngomong!'' gerutu Dini.


''Susunya cocok ya bund hahaha..'' ledek Nita.


''Jangan di dengerin ya sayang, Om Fryan suka ngawur ya, emakmu juga..'' bisik Dini pada keponakannya.


..


Putra pertama Nita dan Aldo di beri nama ''Arkhando Malik''


Proses acara di mulai potong rambut sudah berjalan dengan lancar, baby Arkhan tadi tampak tenang dalam gendongan sang ayah.


Iringan sholawat nabi mengiringi perputaran para kerabat yang turut mencukur rambutnya.


''Beneran pulang besok Din?'' tanya Nita setelah acara selesai dan kembali masuk ke dalam kamar.


''Iya Nit, andaikan kita tuh nggak jauhan..'' keluh Dini, rasanya masih ingin berlama-lama bersama dengan keponakannya.


''Yaahhhh.. lama nggak ketemu, ketemu nggak lama.'' keluh Nita.


''Yaudahlah nggak papa, sukses ya buat bisnis kalian..'' ujar Nita.


''Aamiin, Thankyou kakak ipar.'' ucap Dini.


''Haha ternyata geli ya kamu panggil kakak haha''

__ADS_1


Nita tertawa kecil karena putranya sudah tidur pulas, ia tak ingin gara-gara mendengar tawanya menjadi bangun.


''Sama haha..'' Dini juga ikut tertawa kecil.


__ADS_2