Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 101 : Mau Bikin Surprise Dong


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Felly beberapa waktu yang lalu, Fryan memutuskan untuk beraktivitas di lokasi baru saja yang berada di samping rumahnya.


Bukan tanpa alasan, ia tak ingin hal itu terjadi lagi dan menimbulkan suatu permasalahan. Apalagi dengan kondisi sang istri yang tengah hamil.


Ia juga sudah memberikan peringatan kepada anggotanya untuk tidak sembarangan memberikan informasi kepada orang-orang yang belum mereka kenal.


''Aku bicara jujur karena nggak pengen ada orang lain yang cerita sayang, takutnya bakal beda lagi. Tapi, aku mohon sama kamu, tolong jangan berpikir yang macam-macam, aku benar-benar nggak sengaja ketemu dia, kamu harus percaya supaya anak kita juga tetap baik-baik aja sayang.'' tutur Fryan memohon.


''Aku percaya kok sama kamu.'' jawab Dini.


''Terimakasih sayang.''


Dini mengangguk.


''Terus gimana dengan rencana ayah Wildan yang diluar kota?'' tanya Dini.


''Ayah memutuskan untuk tidak melibatkan aku dulu, karena ayah nggak mau terjadi lagi, kamu kenapa-kenapa tapi nggak ditungguin suami.''


''Ohh, maaf ya aku jadi menggagalkan semuanya.''


''Loh kok kamu jadi merasa bersalah? kan bukan salah kamu sayang..'' Fryan meraih tangan sang istri dan menggenggam dengan erat.


''Sekarang kamu itu tanggung jawabku, kalau kamu ada apa-apa orang pertama yang diminta pertanggungjawaban adalah suaminya, dan kejadian hari itu aku sangat menyesal, aku merasa sangat bersalah karena nggak ada di samping kamu, justru malah orang lain..'' ungkap Fryan.


Dini merasa terenyuh mendengar apa yang dikatakan oleh sang suami, tanpa ragu-ragu ia pun langsung memeluk Fryan dengan sangat erat dan menenggelamkan wajahnya di dada sang suami.


Fryan membalas pelukan sang istri, lalu menc1umi puncak kepala Dini dengan lembut.


Suara bising kendaraan selalu memenuhi area rumah Fryan dan Dini.


Untuk mengurangi kebisingan suara-suara kendaraan, sejak awal Fryan langsung membuat rumahnya agar kedap suara.


Dari lantai dasar dan lantai dua selalu dipenuhi dengan aktivitas masing-masing yang berbeda.


Jika Fryan berada di lantai bawah, Dini mengontrol di lantai atas yang menjadi tempatnya beraktivitas.


Namun, hari ini Fryan sedang menemani Dini yang berada di lantai dua.


Drrtt drrtt


''Linda nelpon, bentar ya..'' ujar Dini kepada sang suami.

__ADS_1


Fryan mengangguk.


''Iya Lin..''


''Dirumah ada tamu Kak..''


''Oh iya sebentar ya..''


''Iya Kak.''


Dini kembali memasukkan ponsel ke dalam sakunya.


''Ada tamu katanya.'' ujar Dini.


''Bagas kali ya..'' tebak Fryan.


Dini mengangkat kedua bahunya dan mereka langsung turun ke bawah untuk kembali ke rumah yang melihat siapa yang datang.


Setelah menebak-nebak siapa tamu yang datang, saat di depan rumah mereka langsung tersenyum lebar ketika melihat ayah Wildan, mama, dan putri dari mama Tia, yaitu Kia.


''Mama..'' panggil Dini dan Fryan secara bersama.


Dini dan Fryan langsung memeluk secara bergantian.


''Alhamdulillah baik Ma..''


Setelah sekian waktu tidak bertemu karena mama Tia sedang memasuki awal kehamilannya.


''Adek.. gimana kabarnya?'' Dini langsung memeluk adik iparnya tersebut, namun tidak dengan Fryan.


''Alhamdulillah baik Kak..'' jawab Kia.


Saling mengungkapkan kerinduan secara bergantian, mereka langsung masuk ke dalam rumah dan berkumpul di ruang keluarga yang tidak terlalu lebar itu.


''Kok nggak ada yang kabar-kabar kalau mau kesini?'' tanya Dini.


''Mau bikin surprise dong..'' sahut ayah.


''Kan jadi nggak ada persiapan apa-apa Yah..'' ujar Dini merasa tidak enak.


''Memangnya mau disiapin apa to? itulah yang bikin mamamu nggak mau bilang-bilang dulu, nanti kamu kecapean.''

__ADS_1


''Hehe.. nggak capek kok Yah, sekarang ada Linda yang bantu-bantu Dini dirumah hehe..'' ujar Dini.


''Oh jadi itu yang kerja disini.. yaa syukurlah biar kamu nggak capek sendiri, biar ada temennya juga kalau suamimu ada kegiatan di luar.'' tutur ayah.


''Iya Ayah.. ohya, adek lagi libur kah?'' tanya Dini beralih kepada Kia.


''Iya Kak, lusa balik lagi, dari kemarin-kemarin sudah rencana mau kesini tapi ayah masih sibuk..'' jawabnya dengan suara yang sangat lembut.


''Nginap kan? nanti malam kita makan malam di cafe..'' ujar Dini.


''Niatnya mau menginap, tapi, nanti Mbaknya tidur dimana sayang?'' tanya mama.


''Emm.. gimana?'' tanya Dini kepada sang suami.


''Gini aja, aku sama ayah tidurnya di ruang kerjaku, atau disini juga biasa kan Yah kita ketiduran sambil nonton tv haha..''


''Boleh deh..'' kata ayah.


''Oke deal..'' ujar Fryan.


Untung saja ranjang yang Fryan beli kala itu berukuran besar, sehingga bisa dipastikan muat untuk ditempati mama, Dini, dan Kia.


Tidak lama kemudian, Linda keluar membawa nampan berisikan minuman hangat dan hidangan ringan.


''Semoga betah ya kerja sama anak saya..'' ujar ayah kepada Linda.


''Betah kok Pak..'' jawab Linda malu-malu.


''Syukurlah..''


Setelah mengobrol berbagai topik, ayah menurunkan koper yang berisikan pakaian dan langsung membawa ke kamar atas.


Lalu mengajak Fryan untuk melihat-lihat usaha yang sudah dijalankan oleh putranya itu.


''Gimana kandungan kamu sayang?'' tanya mama Tia, mereka saat ini bertiga berada di dalam kamar.


''Ya awalnya setiap pagi muntah-muntah Ma, sekarang Alhamdulillah udah nggak muntah-muntah lagi.'' jawab Dini.


''Gimana kalau Mama?'' tanya Dini balik.


''Sama seperti kamu sayang.''

__ADS_1


Usia kandungan mama Tia saat ini sudah mencapai lima bulan, sedangkan Dini baru satu bulan lebih, belum mencapai dua bulan.


__ADS_2