
Ali hendak menelpon kembali sang adik, tetapi ia penasaran dengan sosok yang sedang duduk tak jauh darinya.
''Kamu siapa?'' tanya Ali.
''Saya temannya Fryan Kak, kebetulan dari jenguk saudara saya baru melahirkan dan tidak sengaja ketemu kalian di depan..'' jawab gadis itu.
''Siapa nama kamu?'' tanya Ali lagi.
''Saya Felly.'' jawabnya seraya mengulurkan tangan.
''Saya Ali, kakak sulungnya Fryan.'' jawab Ali menerima uluran tangan gadis itu sesaat.
Ali menanti kabar dari adik iparnya yang tengah berusaha menolong Dini.
Di ponselnya hanyalah panggilan tak terjawab dari Nita, ia masih belum siap berbicara dengan adik perempuannya, ia khawatir sang adik menjadi shock dan melupakan kesehatannya.
Ali menundukkan kepalanya sambil memijat pelipisnya yang terasa berat, menunggu dokter yang sedang menangani Fryan dan juga memikirkan kedua adiknya yang saat ini tidak ada disisinya.
Suara pintu ruangan terbuka membuat Ali langsung berdiri.
''Gimana keadaan adik saya Dokter? adik saya baik-baik saja kan dok?'' cerca Ali.
''Luka tusukan di lengan adik anda lumayan dalam, dan sepertinya ada hantaman yang sangat keras ditubuhnya sehingga terjadinya luka di bagian dalam, kami harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut, jadi untuk saat ini belum diizinkan pulang demi kebaikan adik anda..'' jelas dokter.
''Baik dokter, lakukan yang terbaik untuk Fryan.. sekarang apa boleh saya menjenguk adik saya?''
''Boleh, silakan..''
''Dan anda siapa?'' tanya dokter melihat gadis berdiri di belakang Ali.
''Ah saya temannya dokter, tadi tidak sengaja dari menjenguk saudara saya terus berpapasan di depan..'' jawab Felly sedikit gugup.
''Oh.. silakan masuk tapi tetap perhatikan kesehatan pasien, saya permisi dulu..'' ujar dokter.
Ali langsung masuk ke dalam ruangan untuk memastikan keadaan sang adik, sementara Felly terus saja membuntuti.
''Fryan..'' panggil Felly dengan nada sedih.
Fryan masih belum sadar, Felly mendekati ranjang tersebut dan mengusap kening Fryan.
''Kamu benar temannya Fryan?'' tanya Ali.
''Iya Kak..'' jawabnya.
''Saya minta tolong jagain adik saya sebentar karena saya harus mengabari keluarga..'' ujar Ali.
''Baik Kak, saya akan disini disisi Fryan..'' jawab Felly.
Ali pergi meninggalkan mereka berdua tanpa rasa curiga.
Felly memastikan Ali benar-benar sudah menjauh dari ruangan itu.
__ADS_1
''Haha bodoh! akhirnya kita bisa berduaan sayang..'' gumamnya seraya mengusap pipi Fryan.
Felly tak mengalihkan pandangannya dari wajah Fryan yang belum tersadar.
''Jangan pernah remehkan Felly, dia bisa berbuat nekat untuk apa yang dia mau.. dan kamu sayang, jangan harap bisa bersanding dengan si Dini itu, dia sekarang sedang bermesraan dengan Dito, menikmati dinginnya malam ini, duh senangnya, nanti kita juga begitu sayang..'' gumamnya dengan senyuman licik.
Tiba-tiba jari-jari Fryan bergerak dan kedua matanya terbuka secara perlahan.
''Felly! NGAPAIN KAMU DISINI?! MANA KAK DINI? MANA??!'' seru Fryan dengan nafasnya yang berat, ia sangat terkejut saat membuka mata yang ia lihat si nenek lampir.
''Tenang sayang, tenang.. aku tadi tidak sengaja lihat kamu di depan, aku juga dari rumah sakit ini jenguk saudaraku, tapi, aku senang bisa nemenin kamu disini..'' ujarnya seraya tersenyum menggoda.
''Aww''
Fryan merasakan sakit di seluruh badannya saat hendak beranjak pergi karena ia tidak ingin bertemu dengan Felly.
''Fryan kamu masih sakit, jangan dipaksakan duduk, ayok baringkan lagi..''
''Singkirkan tanganmu Felly!'' bentak Fryan tetapi gadis itu tidak bergeming.
''Pergi dari sini Felly! aku tidak butuh kamu ada disini!'' usir Fryan.
''TIDAK! aku tidak akan pergi Fryan, pertemuan tak sengaja kita hari ini menjadi sebuah anugrah, aku tidak akan menyia_nyiakan hal itu, aku akan menjaga dan merawat kamu.'' ungkap Felly.
''Dimana kak Ali? seharusnya aku sama dia? atau jangan-jangan kamu sudah menyuruh orang untuk mengusirnya Felly?!!'' seru Fryan lagi.
Belum sempat Felly menjawab, mereka mendengar suara pintu terbuka.
''Oh Fryan kamu sudah sadar? sebentar-sebentar..''Ali langsung meluncur keluar lagi memanggil dokter.
Beberapa saat kemudian, Ali kembali masuk bersama seorang dokter dan perawat untuk memeriksa keadaan Fryan.
''Gimana dok?'' tanya Ali dan Felly bersamaan.
''Pasien harus melakukan perawatan intensif agar lukanya tidak semakin parah, jangan dipaksa bergerak yang berat terutama di bagian tangan kanan, gerak ringan saja agar badan tidak kaku.
Dan untuk pendamping pasien, saya harap selalu siaga di sampingnya, jadi pada saat jam makan ada yang membantunya karena tangan kanannya belum bisa leluasa untuk bergerak..'' jelas dokter.
''Baik dok, terimakasih..'' jawab Ali.
''Kalau begitu saya permisi dulu, jika ada apa-apa silakan hubungi kami..'' ucap dokter.
''Baik dok, sekali lagi terimakasih..''
Dokter dan perawat sudah meninggalkan ruangan Fryan.
Felly mengambil kesempatan untuk mendekati Fryan yang berbaring menatap kepergian dokter.
''Aku akan selalu ada untuk kamu Fryan, aku akan menjaga kamu, jangan khawatir..'' ujarnya sendu.
Ali dan Fryan langsung menoleh ke arah Felly, namun dengan tatapan dan kesimpulan yang berbeda.
__ADS_1
''Pergi kamu Felly! Kak, dimana kak Dini sekarang? apa kakak dan bang Aldo sudah menemukannya? Kak..'' cerca Fryan.
''Fryan, kamu jangan ketus sama teman kamu, dia yang jagain kamu sejak tadi..''
Felly menyunggingkan senyum kemenangannya.
''Aldo sedang berusaha menemukan Dini, mereka pasti berhasil..''
Bersamaan dengan itu, ponsel Ali menerima beberapa pesan.
"Emm kamu temannya Fryan, saya minta tolong jagain adik saya karena saya ada kepentingan.'' ujarnya.
"Lok Kak mau kemana? aku nggak mau ada dia disini!" seru Fryan.
"Tenang Fryan, kakak juga sedang mengurus hal yang sangat penting."
"Saya akan menjaga Fryan Kak, silakan.." timpal Felly.
"Terimakasih.." Ali langsung meluncur keluar ruangan.
Fryan sangat merasa geram dengan adanya Felly disini, andai saja tenaganya sedang baik-baik saja, ia pasti akan pergi.
--
"Tolong jagain Dini ya Kak, aku harus nemuin istriku dulu, kasian dia masih hamil muda pasti khawatir banget.." ujar Aldo di ruangan lain.
"Iya-iya pulanglah Do, kakak akan jaga Dini.."
"Ohya, jangan kasih tau Fryan dulu, nanti atau besok pagi kalau Dini sudah sadar baru kita yang bawa dia ke ruangan Fryan, karena saat ini kondisi Fryan yang belum boleh banyak bergerak." ujar Aldo lagi.
"Oke Do, kamu buru pulang dan temui istrimu, pelan-pelan kasih tau dia apa yang terjadi, besok pagi kesini lagi.
Kakak juga bingung gimana mengabari orangtuanya Dini, sejak tadi hpnya terus berdering." kata Ali.
"Baiklah Kak, itu biar jadi urusanku sama Nita, karena ayahnya Dini punya riwayat jantung." jawab Aldo.
"Aku duluan Kak, jaga kesehatan.." pamit Aldo.
"Hati-hati di jalan Do.." kata Ali.
Ali menghabiskan malam harinya untuk mondar mandir dari ruangan Fryan dan Dini.
"FRYANN"
Ali langsung terkejut saat Dini tersadar dengan memanggil nama adiknya.
"Dini tenang ya, Fryan baik-baik saja.."
"Dia sekarang dimana Kak? aku harus ketemu." ujar Dini memaksa.
"Jangan sekarang Dini, dokter sedang melarang kami untuk masuk ke dalam ruangan karena masih dilakukan perawatan, besok pagi kita lihat kondisi Fryan ya.. kamu tenang, Fryan baik-baik aja.." jelas Ali mencoba menenangkan Dini yang menangis.
__ADS_1
Akhirnya Dini sudah tidak memaksa lagi setelah seorang perawat memeriksa kondisinya dan memberikan penjelasan.