
Fryan sudah kembali beraktivitas, ia tengah membahas pembangunan proyek barunya yang sempat terhenti setelah musibah yang ia alami beberapa waktu yang lalu bersama dengan Dini.
''Mohon maaf atas penundaan pembangunan gedung ini karena musibah yang saya alami saat itu. Untuk Bapak-bapak saya ucapkan terimakasih karena tetap bersedia kembali bekerja untuk kami, semoga untuk selanjutnya pembangunannya berjalan dengan lancar dan selesai sesuai dengan waktu yang di perkirakan.
Tetapi, saya himbau untuk kita semuanya agar tetap menjaga prosedur dalam bekerja, jangan lengah.''
''Untuk kapan waktunya saya harap sesuai dengan yang sudah di tentukan oleh Bagas yaitu lusa sudah bisa di mulai kembali, karena jika tidak ada halangan hari ini material-material tambahan akan datang lagi.''
Semua mengangguk setuju dengan apa yang sudah di tentukan.
Meskipun hari ini hanyalah rapat membahas mengenai kelanjutan pembangunan, Fryan tetap memesan katering makanan untuk siang ini karena waktunya memang sudah menuju jam makan siang.
''Makasih banget loh Gas, udah selalu setia bantuin gue..'' ucap Fryan setelah tersisa hanya mereka berdua.
''Sama-sama bos.. sejauh ini gue juga nyaman kerja sama lu.''
''Terharu banget gue, asli..'' lanjut Bagas.
''LEBAY!'' celetuk Fryan.
Di tengah-tengah perbincangan Fryan dan Bagas, Dini datang membawa minuman.
''Eh istriku, sini sayang..'' ucap Fryan lalu menggeser duduknya.
Dini meletakkan gelas berisi minuman untuk suaminya dan juga Bagas yang sedang mengobrol lalu duduk di samping suaminya.
''Gimana? jadi kapan mulai di kerjakan?'' tanya Dini.
''Lusa sayang, do'ain semuanya lancar ya..'' ucap Fryan.
''Aamiin, selalu di do'akan.'' jawab Dini seraya tersenyum.
''YA ALLAH.. HAMBA MAU YA ALLAH.. KASIH SATU AJA YANG CAKEP, MAU YA ALLAH, HATI INI SUDAH CUKUP PANAS MELIHAT PASANGAN SUAMI ISTRI TAK BERPERIPERJOMBLOAN INI''
''Dih ngapain lu?'' celetuk Fryan.
''Lu yang ngapain sayang-sayangan di depan gue?''
''Hahaha''
''Kalian berdua ngeledek gue, jahat ya lu pada..'' sungut Bagas.
''Sabar brother.. suatu saat bakal ada cewek yang mau sama lu.'' ucap Fryan lalu terkekeh.
''Kurang ajar! lu pikir kagak ada yang mau sama gue gitu..''
''Haha canda.. gue yakin jodoh lu nanti perempuan sesuai keinginan lu.''
''Aamiin.. nah gitu dong.. kan gue jadi seneng.'' jawab Bagas.
''Emang perempuan idamanmu yang gimana Gas?'' timpal Dini.
''Kayak kamu Din hehehehe'' jawab Bagas dengan cengengesan.
''Huuu enak aja lu nyama-nyamain!'' protes Fryan lalu melempar bantal sofa ke arah Bagas.
Namun, dengan sigap Bagas menangkapnya.
Bagas menyeruput minumnya yang hangat.
''Eh btw gue mau pamit dulu.'' ucap Bagas.
''Lah buru-buru amat?'' tanya Fryan.
''Ada urusan mendadak.''
''Yaudah hati-hati, thanks ya..''
''Sip..''
Bagas langsung bergegas keluar dari rumah Fryan dan melaju ntah kemana.
__ADS_1
Fryan mengajak Dini kembali masuk ke dalam rumah setelah Bagas sudah tidak terlihat lagi.
''Sayang.''
''Iya..''
''Apa jangan-jangan Bagas suka sama kamu ya?''
''Haha ngawur''
''Bagas itu cuma becanda, itu ngeledek kamu aja biar ngomel-ngomel terus.'' imbuh Dini.
''Masa sih?'' tanya Fryan.
''Iyaaa, percaya deh..'' jawab Dini meyakinkan suaminya.
Dini memahami keakraban Fryan dan juga Bagas, ia tak mau hanya karena sebuah perkiraan membuat mereka menjadi bermasalah dan menghancurkan sesuatu yang sudah terjalin dengan baik.
''Aku cinta banget sama kamu.'' ucap Fryan lalu menc1um kening sang istri dengan lembut.
Penantian lamanya tak ingin hancur karena hadirnya orang ketiga.
Fryan selalu berjanji dan berusaha untuk menjaga dan memastikan bahwa dirinya dan sang istri memang ditakdirkan untuk berjodoh, meskipun bersatunya harus di awali dengan suatu musibah.
''Aku juga cinta sama kamu, suamiku..''
Fryan langsung memeluk erat sang istri, ia sangat bahagia dengan berjalannya waktu, Dini sudah semakin luluh dan tidak menutupi perasaannya.
''Belum sembuh ya?'' tanya Fryan dengan sedikit mengurai pelukannya.
''Apanya?'' tanya Dini yang belum ngeh.
''PMS nya.''
''Baru juga tiga hari..'' jawab Dini.
''Biasanya berapa hari?''
''Lamanyaaaa..'' keluh Fryan dengan tatapan sedihnya.
''Gimana rasanya? sakit ya keluar darah?'' tanya Fryan penasaran setelah mereka duduk di ruang keluarga.
''Sakit pas menjelang sama masih hari pertama dan kedua, setelah itu nggak. Mungkin sedikit gampang capek aja, terus mudah kepancing emosi.'' jelas Dini.
''Itu yang aku rasain, nggak tau kalau orang lain, siapa tau beda-beda.'' imbuh Dini.
Fryan manggut-manggut memahami penjelasan dari sang istri.
Tentu saja ia baru mengetahuinya saat ini.
''Ohh jadi kalau para kaum perempuan tiba-tiba suka marah-marah itu karna lagi PMS ya?''
''Ya tergantung lah tiba-tiba marahnya karna apa, nggak PMS juga kalau di pancing sikap yang kurang nyaman bakal marah juga, laki-laki pasti juga sama, kecuali kalau punya stok sabar yang tak terbatas baru deh tetap kalem.'' jawab Dini.
''Hehe iya juga sih''
''Sayang, nanti nggak usah masak ya, kita keluar sekalian nonton.'' ajak Fryan.
''Iya boleh.''
Malam harinya Dini dan Fryan sudah bersiap-siap akan pergi ke salah satu mall yang terdekat.
Sebelum menuju ke tempat nonton, Fryan dan Dini mencari tempat makan terlebih dahulu untuk mengisi perut mereka.
''Kita sudah lama ya nggak kesini?'' ujar Fryan.
''Iya.''
''Mau nonton film apa sayang?''
''Romantis aja.''
__ADS_1
''Cari inspirasi ya..'' bisik Fryan menggoda Dini.
''Dih apa sih, yaudah horor aja!''
''Cie ngambek.. ciee''
Dini hanya diam dan melanjutkan langkahnya.
''Iya-iya film romantis.''
Fryan kembali menggandeng tangan Dini yang sempat melepaskan karena ngambek di goda oleh suaminya sendiri.
Sama halnya dengan pengunjung lain, mereka juga membeli minuman dan juga popcorn untuk bekal menonton.
Suasana sudah sangat ramai, film ini memang tengah di tunggu oleh para penikmat film.
Aktor aktris top Indonesia yang aktingnya sudah tidak di ragukan lagi.
..
Dua jam menonton, akhirnya selesai dan pengunjung sudah meninggalkan gedung tersebut.
Begitu pun juga dengan Fryan dan Dini langsung menuju ke mobilnya.
''Bagus kan filmnya?'' tanya Dini setelah mereka sudah di perjalanan.
''Bagus, tapi, masih romantisan kita tau Yang..''
''Masa sih???''
''Iyalah, kita lebih real, mau disini, disini, disini ah mantap nggak pake akting haha''
Dini langsung menampik tangan nakal Fryan yang tiba-tiba menyentuh di beberapa area sensitif miliknya.
''KAPRIIIIIIIII''
Fryan terkekeh.
Fryan menggenggam tangan sang istri, dengan tangan satunya fokus mengendalikan kemudi.
''Fokus nyetir Kapri..'' protes Dini karena Fryan terus mengecup tangannya.
''Iya sayang, ini juga fokus..'' ujar Fryan menatap sang istri sekilas lalu kembali ke arah depan.
''Mau kemana lagi?'' tanya Fryan.
''Pulang aja, ngantuk..''
''Muter-muter dulu yuk..'' ajak Fryan.
''Nanti kalau aku ketiduran gimana?'' tanya Dini yang sering ketiduran di dalam perjalanan mobil.
''Nggak papa.''
''Yaudah terserah kamu aja..''
Fryan memutar musik untuk mengiringi perjalanan mereka.
Sesekali ia mengikuti lantunan dari penyanyinya.
''Suara Kapri emang bagus.'' batin Dini.
Dan benar apa yang di perkirakan oleh Dini, ia sudah terlelap sangat nyenyak.
Melihat sang istri tidur sangat nyenyak dengan posisi yang terlihat tidak nyaman.
Fryan langsung memutar kemudinya menuju jalan ke rumah, untung saja memang sudah tidak jauh.
Sesampainya di rumah, Fryan membopong tubuh sang istri dengan sangat hati-hati dan menidurkannya di atas ranjang.
Cup
__ADS_1
''Tidur nyenyak sayang.'' ucap Fryan lalu menyelimuti tubuh sang istri.