Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 89 : Maaf Atas Rasa Cemburuku


__ADS_3

''Ada masalah kah?'' tanya Dini saat melihat suaminya menjadi pendiam sejak baru datang tadi sore.


Dini mencoba mengingat-ingat apakah ia membuat kesalahan kepada suaminya.


Namun, yang ada di pikirannya adalah tentang kisah Bagas yang baru ia sadari.


''Tidak mungkin gara-gara itu.'' batin Dini.


Fryan membelai rambut sang istri dengan lembut.


''Nggak papa sayang, aku cuma sedikit pusing aja mikirin kerjaan.'' jawab Fryan beralasan.


''Ohh, yaudah di minum dulu kopinya.'' suruh Dini.


Fryan mengangguk lalu menyeruput kopi favoritnya.


''Sayang, kalau nanti ayah ngajak aku buat ke luar kota, boleh nggak?'' tanya Fryan sembari meletakkan kembali gelas di meja.


''Kalau ada urusan yang penting, kenapa tidak..'' jawab Dini.


''Tapi, nanti pulangnya bisa malem baru sampe rumah sayang, karena ayah ada rencana mau buka usaha di kota X.''


''Aku sih nggak papa, toh rame juga kan di samping, tapi, ya terserah kamu mau gimana biar nggak khawatir kalau aku ditinggal..'' ujar Dini.


''Memangnya kapan?'' tanya Dini.


''Mungkin sekitar dua minggu lagi sayang.''


''Emm, gimana kalau pas aku pergi, ibu kita jemput buat nemenin kamu di rumah?'' usul Fryan.

__ADS_1


''Kasian ibu bolak balik, nanti ayah sendirian, lagian kamu nggak akan nginep kan? cuma pulang malem?''


''Iya, tapikan aku khawatir sayang..'' jawab Fryan dengan raut wajah cemas.


Jika pikiran tidak tenang, tentu saja apa yang dikerjakan bisa tidak maksimal. Dan Dini tidak ingin membuat sang suami mengalami hal itu.


Dini masih mencari cara gimana memiliki teman tanpa meminta ibunya untuk datang ke rumah karena kasihan.


''Gimana kalau Mila aja?'' usul Dini.


''Mila?''


Dini mengangguk.


Sedangkan Fryan nampak berfikir tentang gadis yang bekerja di cafe itu.


Ia harus meyakinkan terlebih dahulu bahwa Mila gadis yang baik-baik.


Dini tersenyum lalu kembali menatap buku yang sedari tadi ia baca karena sang suami terus menjadi pendiam.


Sementara Fryan, ia sangat ingin terbuka tentang apapun kepada sang istri


Karena masih bingung, ia terpaksa berdiam diri tanpa kata-kata, begitupun dengan Dini yang sibuk dengan tulisan-tulisan di buku.


''Sayang..'' panggil Fryan lirih.


Dini kembali menutup bukunya lalu menoleh ke arah Fryan.


''Iya..'' jawabnya.

__ADS_1


''Kamu jangan marah ya kalau aku bahas ini..'' ujar Fryan.


Dini mengernyitkan keningnya belum mengerti maksud dari ucapan Fryan.


''Kamu mau bahas apa?'' tanya Dini.


''Soal Bagas.'' kata Fryan menatap sang istri.


Nama yang sudah membuatnya terus kepikiran karena takut membuat sang suami marah.


Tentu saja Dini terkejut saat Fryan menyebutkan nama Bagas.


''Kenapa dengan Bagas?'' tanya Dini lirih.


''Aku yakin kamu paham dengan semua ini.'' ucap Fryan.


Dini berusaha untuk tetap tenang, apalagi sang suami tidak menunjukkan kemarahan seperti yang ia khawatirkan.


Mendengar kalimat dari suaminya, Dini menghela nafas agar lebih tenang.


''Kalau pun yang di maksud Bagas itu adalah aku, jujur aku nggak ngerti sama sekali, bahkan aku sudah lupa kalau waktu itu yang nggak sengaja aku tabrak itu Bagas, aku juga kaget waktu dengar cerita kamu.


Dan selama ini, seperti yang kamu lihat, nggak ada sama sekali sikap aneh dari dia. Dia tetap bersikap baik layaknya teman, bahkan sudah kamu anggap saudara. Dia juga nggak ada kok sekali pun deketin aku, aku yakin waktu itu hanya rasa penasaran aja dari Bagas, bukan rasa cinta yang sebenarnya.''


Fryan masih berusaha mendengar penjelasan dari sang istri, apakah seimbang dengan apa yang dijelaskan oleh Bagas.


''Kalau pun itu aku dan kamu mau marah ya silahkan, aku sudah berusaha menjelaskan hal yang sebenarnya nggak ingin aku jelaskan karena takut ternyata itu bukan aku dan kejadian itu juga sudah sangat lama, bisa jadi kebetulan ada kisah yang sama di alami sama Bagas.'' imbuh Dini.


Fryan tidak akan marah, ia sudah belajar untuk mengendalikan emosi pada dirinya.

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari sang istri, Fryan langsung memeluk erat tubuh Dini dan menc1um puncak kepala sang istri dengan lembut.


''Sayang, aku percaya kamu, begitupun dengan Bagas, kalian sangat berharga untukku. Terkhusus kamu sayang, maaf atas rasa cemburuku..'' ucap Fryan membuat Dini tersenyum lega.


__ADS_2