
Perjalanan sore hari kembali di lanjutkan dengan menaiki kapal Ferry, kendaraan sangat ramai berdatangan dan berjalan ke arah sesuai kendaraannya.
Suara hiruk pikuk para penumpang memenuhi kapal, tangisan anak-anak yang tidak mau di gendong orangtuanya, mereka menginginkan berlari kesana-kemari dan melihat air laut di pinggir.
Jika bukan di atas laut, mungkin akan di bebaskan untuk sang anak berlarian, namun situasi yang mengharuskan orangtua harus memiliki ketegasan demi sebuah kebaikan.
Menjaga anak kecil tidak semudah yang orang lain anggap remeh, rasa sayang dan tanggung jawab atas apa yang sudah Tuhan titipkan sangatlah besar.
Sesekali Dini menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya, terutama ibu-ibu yang terlihat juga tengah menatapnya.
''Kamu kenal?'' tanya Fryan.
Dini menggeleng sambil tersenyum.
''Enggak kenal.''
''Ohh kirain, kayak udah kenal cara nyapanya.'' ujar Fryan.
''Iya, ibunya tadi ramah jadi meresponnya enak.'' jawab Dini.
''Tapi, kalau di sapa laki-laki cuekin aja, awas kalau sok akrab.'' ancam Fryan setengah berbisik di telinga sang istri.
''Dih cemburu ya..'' ejek Dini.
''Ya jelaslah sayang.'' jawab Fryan yakin.
Dini mencubit pelan pinggang Fryan dengan wajahnya yang sudah merona.
''Aww sakit sayang..'' pekik Fryan sambil memapah Dini untuk duduk terlebih dahulu, kemudian ia duduk di samping sang istri.
''Masa sih?''
''Gitu aja sakit..'' gerutu Dini sambil menahan senyumnya.
''Pokoknya harus tanggung jawab.'' bisik Fryan menggoda.
''Hustt!!'' Dini langsung menepuk paha Fryan karena pikirannya sudah melayang ntah kemana dan takut suara Fryan di dengar orang-orang yang tidak jauh dari mereka.
''Mereka juga nggak paham sayang.. kamu tuh yang pikirannya terlalu jauh, menyamakan pikiran orang-orang seperti apa yang lagi kamu pikirin.
Enak kan sampai kepikiran terus??'' goda Fryan lalu mencubit gemas hidung Dini.
Dini membelalakkan kedua matanya dan langsung mencubit paha Fryan.
''AWWW''
''KDRT loh ini..'' kata Fryan pura-pura bersedih sambil mengusap bekas cubitan yang tertutup celananya.
''Kalau ngomong jangan sembarangan, enak aja.'' sungut Dini lalu melengos.
Melihat sang istri melengos, membuat Fryan semakin senang menggodai.
Ia tau jika wajah sang istri yang sudah memerah karena menahan malu.
__ADS_1
''Iya juga nggak papa sayang, aku hanya untukmu kok.'' ucapnya ringan.
''Fryan ih diem aja deh, malu tau kalau di denger orang lain..'' gerutu Dini melihat penumpang di sekitar mereka.
''Haha iya iya aku diem, sandaran sini..'' Fryan menepuk bahunya sendiri agar Dini menyandarkan kepalanya disitu.
''Belum ngantuk.'' jawab Dini.
''Kamu masih pusing kah?'' tanya Fryan.
''Sudah lumayan nggak kok.'' jawab Dini.
''Syukurlah sayang, tapi, mata kamu udah sayu banget, kayaknya efek minum obat tadi..'' ujar Fryan menatap mata sang istri.
''Hehe iya.'' balas Dini.
''Yaudah di bawa tidur aja, jangan di paksa melek, malah nggak baik, nanti dede bayinya ikut sakit haha..'' kata Fryan diikuti tawanya yang ditahan.
''Dedak dedek, kamu tuh dedek..'' gerutu Dini.
''Canda sayang.. cup'' bisik Fryan lalu mendaratkan kecup4n di kening sang istri.
Fryan memilih ruang yang ber AC karena tidak terlalu ramai dan kursinya yang memanjang bisa untuk di pakai selonjoran.
''Malu tau dilihat orang lain.'' bisik Dini.
Fryan menoleh ke arah penumpang lainnya, semuanya sibuk dengan ponselnya masing-masing, ada juga yang sudah memejamkan matanya menunggu perjalanan tiba pada tujuan.
''Nggak ada yang lihat tuh..'' tambah Fryan dengan santai lalu kembali menatap sang istri.
Fryan menepuk-nepuk pahanya agar Dini menidurkan kepalanya disana.
''Emang kamu nggak capek? nggak mau tidur juga?'' tanya Dini.
''Nggak kok, udah sini, nanti keburu nyampe kamu belum jadi tidur.''
Dini mengulum senyumnya lalu menidurkan kepalanya di paha sang suami.
''Kalau pegel bilang ya..'' ujar Dini mendongak ke arah sang suami.
''Iya sayang.''
Dini memejamkan matanya perlahan, obat yang ia minum tadi memang sangat memberikan efek kantuk yang tinggi, sedangkan sedari tadi terus berusaha menahan.
Perlahan deru nafas Dini terdengar teratur, sepertinya elusan lembut tangan Fryan di rambutnya membuat Dini terasa nyaman.
''Aku bersyukur penantianku tidaklah sia-sia, menemukan cinta, memperjuangkan cinta, dan mempersatukan dua manusia yang di awali cinta sebelah.''
''Ntah ini di sebut ambisi atau ketulusan cinta, yang ku tau titik kemantapan hatiku tidak pernah berubah sejak hari itu.'' (Kacang Kapri aka Afryan)
Fryan bermonolog dalam hatinya sembari terus mengusap wajah sang istri yang tengah terlelap dalam tidurnya.
..
__ADS_1
Akhirnya tiba di rumah ketika sudah dinihari, perjalanan darat membuat Fryan meminta untuk sering-sering istirahat meskipun yang menyetir sudah bergantian.
Dini mengusap wajahnya ketika mobil sudah berhenti di depan rumah.
''Alhamdulillah sudah sampai.'' ujarnya.
''Iya sayang, ayo turun..''
Dini mengangguk lalu membuka pintu mobil.
Saat Fryan sedang memasukkan mobil ke dalam garasi, Dini membuka pintu rumah dan menghidupkan lampu-lampu yang kemarin di padamkan karena mau di tinggal.
''Barang-barangnya nggak di ambil dulu?'' tanya Dini saat Fryan menyusul masuk setelah menutup pintu garasi.
''Ambil dari pintu dalam aja.'' jawab Fryan.
''Ohh, yaudah.''
Fryan menuju pintu samping yang langsung terhubung dengan garasi, lalu menurunkan barang-barang yang ada di dalam mobil.
''Beresin besok aja ya sayang, bersih-bersih badan aja, ganti baju terus bobok.'' ajak Fryan.
''Iya.''
Dini menuruti sang suami, selain itu ia juga masih mengantuk, apalagi saat ini masih dinihari, jamnya enak untuk tidur.
Dini bergegas ke kamar mandi terlebih dahulu dan tak lupa sekalian membawa piyama , ia menolak untuk di ajak bareng oleh Fryan.
Ia yakin jika bersama-sama akan menjadi lebih lama karena keisengan Fryan.
''Udah?'' tanya Fryan saat Dini membuka pintu.
''Udah.''
Cup
Fryan meng3cup pipi istrinya sekilas lalu langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Tanpa disadari senyum mengembang di bibir Dini yang manis. Setelah terdiam sebentar ia langsung naik ke atas ranjang sambil mengecek sosial media.
''Udah mainannya, ayo tidur..''
Seketika Dini membalikkan tubuhnya karena terkejut dengan suara sang suami yang tiba-tiba datang dan memeluknya dari belakang.
''Iya, bentar..'' ujar Dini lalu meletakkan ponselnya di atas nakas.
Fryan mengeratkan pelukannya kepada Dini dan memberikan c1uman berkali-kali.
Namun Dini menatapnya penuh arti, ia khawatir sang suami menagih ingin minta jatah.
Sedangkan kondisinya belum benar-benar baik.
''Aku libur dulu, jangan cemas gitu dong, lekas sehat ya sayang..'' ucap Fryan seolah paham dengan ekspresi kekhawatiran sang istri.
__ADS_1
''Aku nggak cemas, ini pengaruh kurang fit aja Fryan..'' sangkal Dini sambil menghindari tatapan sang suami.
''Iya deh iya percaya..'' ejek Fryan lalu membenamkan tubuh mereka di dalam selimut tebal.