Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 92 : Perasaanku Nggak Enak


__ADS_3

Pak supir langsung menoleh dan mendekati laki-laki yang yang turun dari motornya tersebut dengan wajah sama paniknya.


''Mas nya kenal sama mbak nya?'' tanya pak supir dengan nafasnya yang memburu.


''Iya Pak, teman saya.'' jawab Bagas dengan berjalan cepat.


Mereka langsung menghampiri Dini yang sempat menoleh lalu kembali mengeluarkan isi perutnya.


Kini seperti ada yang membantu memijit tengkuknya.


''Ba-''


Belum sempat melanjutkan panggilannya, Dini sudah tak sadarkan diri. Ia pingsan tepat di pangkuan Bagas.


Iya, jalan ini memang jalan umum yang setiap harinya di lewati oleh banyak orang, salah satunya Bagas.


Bagas panik melihat Dini yang tiba-tiba ambruk di pahanya.


Ia menoleh ke pak supir yang melihat mereka, sama-sama bingung.


''Pak, tolongin Pak..'' pinta Bagas panik, tentu saja ia khawatir melihat kondisi Dini.


''Saya harus bagaimana Mas?'' tanya pak supir.


Bagas sudah tak memiliki cara lain lagi.


''Tolong bukain pintunya Pak.''


Pak supir menuruti apa yang di minta oleh Bagas, dengan sekali angkatan Bagas mampu mengangkat tubuh Dini yang lemas, ia langsung membawa Dini ke dalam mobil dengan sangat hati-hati.


Beberapa detik ia menatap wajah Dini, seseorang yang pernah menjadi cinta dalam diamnya.


Apakah mungkin rasa itu bisa tumbuh lagi? Jangan sampai!!


Fryan langsung kembali keluar setelah memastikan posisi Dini sudah enak.


''Pak, tolong bawa ke klinik sana ya, paling deket, saya ikutin dari belakang.'' pinta Bagas langsung memakai helmnya dengan cepat.


''Baik Mas.'' jawab pak supir setengah berlari.


Di tempat lain, ayah Wildan dan Fryan sedang melakukan perbincangan dengan beberapa orang.


Fryan merasa tidak fokus dalam perbincangan kali ini, ia terus gusar.


Sampai acara selesai, ia tak begitu nangkap apa yang di bicarakan.

__ADS_1


''Kamu kenapa?'' tanya ayah.


''Perasaanku nggak enak Yah.'' jawab Fryan jujur.


Ayah tersenyum.


''Kamu sangat mencintai istrimu, jadi bawaannya selalu kangen.'' tutur ayah becanda.


''Nggak Yah, bukan itu, ini beda, kemarin-kemarin aku bisa fokus, ntah kenapa sejak tadi aku nggak bisa Yah..'' ungkap Fryan.


''Coba telpon istrimu.'' suruh ayah.


Fryan langsung mengambil ponselnya dan mencari kontak sang istri.


Deringan pertama, kedua, ketiga, sama saja tidak ada jawaban.


Fryan semakin panik, sedangkan ayah bisa merasakan hal itu juga.


''Sabar nak, tenang dulu, mungkin Dini sedang sibuk..'' ujar ayah berusaha menenangkan.


''Mungkin, tapi, perasaanku nggak enak Yah..'' keluh Fryan lagi.


Ayah menarik nafasnya dalam dan mengajak Fryan untuk duduk.


--


Dini masih belum sadar juga.


''Ya ampun Din..'' gumam Bagas.


Dengan bantuan petugas klinik, Bagas ikut mendorong ranjang masuk ke dalam agar Dini segera di periksa.


''Maaf anda siapanya pasien?'' tanya dokter.


''Saya temannya dok, tidak sengaja ketemu dia sedang muntah-muntah lalu pingsan.'' jawab Bagas dengan wajah paniknya.


''Mohon tunggu disini, biar kami periksa.''


''Baik dokter.'' jawab Bagas pada dokter perempuan tersebut.


Bagas menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.


''Ohh tas Dini!''


Bagas langsung beranjak dan berlari keluar, di saat yang sama, pak supir juga sedang menuju masuk sembari menenteng tas Dini.

__ADS_1


''Pas sekali Pak, saya juga mau ambil tas ini.'' ujar Bagas.


''Iya Mas.''


''Ohya Mas, jadi ini saya tungguin atau gimana?'' tanya pak supir memastikan, tentu saja ia mempertimbangkan semuanya.


''Emmm, gini aja Pak, gimana kalau bapak saya carter hari ini, sampai bener-bener teman saya dibawa balik ke rumah, karena suaminya masih ke luar kota, mungkin malam atau sore baru sampai.'' tutur Bagas, ia langsung mengambil dompet.


''Ini DP untuk bapak, sebagai tanda janji saya tidak akan PHP.'' ujar Bagas sedikit tersenyum.


''Boleh deh Mas, saya sebenarnya juga kasian loh Mas, cuma kan nganu.. saya lagi bekerja juga toh Mas hehe..'' ujar pak supir sungkan.


''Amaan Pak, saya paham kok.. yaudah sekarang bapak boleh deh ngopi-ngopi di depan, saya harus nunggu teman saya dulu di dalam.'' ujar Bagas.


''Yaudah kalau gitu, terimakasih ya Mas..'' pak supir langsung keluar dan menuju kantin, kebetulan rasa paniknya tadi membuatnya kembali lapar.


Bagas kembali bergegas masuk ke dalam, kembali duduk di depan ruangan tempat Dini di periksa.


''Fryan!'' gumamnya.


''Aku harus memberikan kabar ke dia.'' ujarnya lagi lirih.


Di saat ia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel, tiba-tiba ponsel milik Dini berdering.


Bagas bingung karena takut lancang membuka tas milik orang lain.


Namun, ia teringat sosok Fryan. Dengan hati-hati, Bagas membuka tas milik Dini, ia mengambil ponselnya.


Dan benar saja nama ''SUAMIKU'' muncul di layar tengah melakukan panggilan.


Dengan ragu, Bagas memberanikan diri menjawab telpon dari Fryan.


''Ha-lo Bos.'' ucap Bagas.


''Bagas?!!!'' seru Fryan sampai membuat Bagas menjauhkan ponsel Dini dari telinganya.


Kalau saja Fryan sedang tidak bersama ayah, mungkin ia sudah marah-marah dan memikirkan yang tidak-tidak.


''Mana istriku?!'' seru Fryan lagi.


''Tenang dulu Bos, gue lagi di klinik, gue tadi nggak sengaja lihat bini lu pingsan di tepi jalan.'' jelas Bagas dengan cepat karena khawatir penyampaiannya agar di potong oleh Fryan.


''APA?!!''


''ASTAGHFIRULLAH HAL'ADZIIM''

__ADS_1


Bagas mengusap dadanya yang kembali terkejut dengan seruan Fryan yang memekakkan telinganya.


__ADS_2