
Usia masih muda tidak membuat Bagas panik ketika teman-temannya sudah memiliki pasangan, termasuk saudara kembarnya yang kerap mengajak kekasihnya pergi berdua.
Bagas kerap melakukan perjalanan sendirian, ke mall atau keluar untuk sekedar mencari makanan.
Sebelum Fryan menikah, mereka sudah seperti partner yang kemana-mana sering bersama.
Bagas memahami situasi ini, apalagi sekarang ditambah Fryan sudah mengetahui siapa seseorang yang pernah ia taksir di masalalu.
Sebisa mungkin Bagas untuk menjaga semuanya, menjaga pertemanan yang sudah seperti persaudaraan.
Sore hari Bagas menghabiskan waktunya ke suatu tempat dengan mengendarai sepeda motornya.
Namun, gerimis semakin deras, ia memutuskan untuk berhenti di sebuah cafe sekalian makan dan nunggu reda.
''Untung udah sampai sini.'' batin Bagas, lalu menata rambutnya sebentar karena habis tertutup helm.
''Apa-apaan ini cafe rame banget..'' gumamnya melihat kendaraan yang penuh roda dua.
Namun, meskipun begitu, Bagas tetap masuk ke dalam karena hujan semakin deras.
Setelah masuk ke dalam, bola mata Bagas benar-benar ditunjukkan suasana yang sesak.
Ia mencari tempat duduk, tak ada yang benar-benar kosong.
Di sudut ruangan ada satu meja hanya di tempati oleh satu orang perempuan, Bagas menoleh ke kanan dan ke kiri.
''Yah daripada nggak ada tempat lagi..'' gumamnya.
Dengan langkah kerennya, Bagas melaju ke meja sudut tersebut.
''Permisi, maaf boleh saya duduk disini? soalnya nggak ada tempat lagi..'' ujar Bagas kemudian tersenyum.
Gadis itu yang mungkin masih menunggu pesanan sambil melihat ponselnya langsung mendongak.
''Boleh Kak.'' jawabnya ramah.
Bagas tersenyum sekilas lalu menarik kursi.
''Terimakasih..'' ucap Bagas.
Gadis itu hanya tersenyum sekilas lalu kembali menunduk.
Tak lama kemudian pesanan gadis itu datang, Bagas langsung memesan minuman hangat dan juga makanan.
__ADS_1
''Maaf Kak saya makan dulu.'' ucap gadis itu.
''Oh iya iya silahkan..'' jawab Bagas.
Sesekali Bagas menatap gadis itu, gadis itu berjilbab panjang membuat Bagas sungkan sehingga ia memutuskan untuk membuka ponselnya.
Tidak lama kemudian, pesanan Bagas menyusul datang, untuk mengurangi rasa gugupnya sendiri, ia langsung fokus pada pesanannya.
''Kenapa gue jantungan gini, mana kagak berani liatin dia, gue kayak merasa berdosa..'' batin Bagas serba salah.
Hujan semakin deras, makanan mereka sama-sama sudah habis, tinggal minuman saja.
''Emm, kamu sendirian aja?'' tanya Bagas memberanikan diri.
''Iya Kak, abis cari keperluan buat sekolah.'' jawabnya.
''Hah? eh maaf.. oh gitu..'' kata Bagas bingung sendiri.
''Masih anak sekolahan ternyata..'' batin Bagas.
''Sekolah dimana dek?'' tanya Bagas.
''Di kota X Kak.'' jawabnya.
''Loh kok sekarang disini?'' tanya Bagas mulai kepo.
Bagas manggut-manggut.
''Apakah aku terjebak perasaan ukhti?'' batinnya.
''Tobat dulu lu Gas..'' batinnya lagi.
''Dih apaan! gue kan anak bae-bae, anak sholeh nih..'' batinnya lagi menyangkal batinnya sendiri.
Tidak ada percakapan lagi diantara mereka, mereka hanya saling diam melihat ponsel masing-masing, lalu melihat kearah luar hujan sudah mulai reda.
Gadis itu berdiri dari tempat duduknya.
''Mau kemana Dek?''
''Mau pulang Kak, nanti dicariin mama.'' jawabnya.
''Duh anak mama.'' batin Bagas.
__ADS_1
''Oh, Kakak juga mau pulang.'' Bagas langsung ikut berdiri dan berjalan mengikuti gadis itu.
Saat gadis itu sudah lebih dulu berada di depan meja kasir, Bagas langsung mensejajarkan, namun gadis itu langsung spontan bergeser memberi jarak diantara mereka.
''Berapa Mbak?'' tanya gadis itu pada kasir.
''Mbak, gabungkan sama punya saya, berapa?'' tanya Bagas.
''Nggak usah Kak, terimakasih..'' ucap gadis itu.
''Nggak papa, sebagai tanda terimakasih karena sudah memberikan tempat duduk tadi..'' jawab Bagas.
Mbak kasirnya hanya bengong melihat percakapan mereka berdua.
''Jadi gimana Mas dan Mbak?'' tanya kasirnya.
''Saya sendiri..'' ucap gadis itu.
''Udah Mbak ini gabungkan aja.'' timpal Bagas.
''Adek buruan pulang aja, nanti mama nyariin.'' ucap Bagas.
''Tapi Kak, saya tidak enak, tapi, yasudah terimakasih sebelumnya.. semoga rezeki yang Kakak dapatkan selalu diberikan keberkahan.'' ucap gadis itu.
''Aamiin..'' jawab Bagas.
''Saya duluan Kak, assalamu'alaikum..'' ucapnya.
''Wa'alaikumussalam..'' jawab Bagas lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bagas memandangi kepergian gadis itu sekilas lalu kembali menatap kasir.
''Kenata liatin saya begitu Mbak? naksir ya?'' tanya Bagas pede.
''Dasar cowok kalau sudah ketemu perempuan cantik suka nggak fokus.'' umpat kasir.
''Masnya bayar pake uang 10 ribu Maaass, kurang..'' kesal kasir.
Bagas langsung menoleh-noleh ke pengunjung cafe lainnya, ada beberapa yang menoleh kearahnya.
''Husstt maaf napa Mbak jangan keras-keras.. salah ngambil, ini udah nggak salah lagi, ambil aja kembaliannya, terimakasih..'' ucap Bagas langsung melenggang pergi untuk menutupi rasa malunya.
Bisa-bisanya ia tidak fokus mengambil uang di dalam dompet, harusnya mengambil lembaran 100 ribu, justru Bagas mengambil lembaran 10 ribu.
__ADS_1
''Lah terus gadis tadi namanya siapa?'' gumamnya saat hendak mengenakan helm.
''Kebiasaan buruk!'' umpatnya pada dirinya sendiri.