
Cahaya remang-remang menemani suasana yang dingin hingga menusuk ke tulang.
Dini merasakan tubuhnya menggigil kedinginan karena selimut yang ia gunakan semakin melorot, ia terbangun dan tidak begitu jelas melihat sekitar.
Ia bisa merasakan tangan yang memeluknya erat.
''Hah aku nggak pa-ke..'' gumam Dini terpotong saat mencoba mengingat kejadian semalam.
Mencuri pandang di tubuhnya sendiri yang polos, rasanya tidak percaya.
Dini menggelengkan kepalanya berkali-kali agar lebih tersadar.
Dini menarik selimut sampai ke atas lalu membuka kembali dengan perlahan.
Dilihatnya sosok yang tengah memeluknya, dia masih terpejam. Dini mencoba menyingkirkan tangan itu pelan-pelan.
''Fryann!!'' pekik Dini.
''Kenapa kamu bangun hem?'' bisik Fryan membelai rambut Dini yang sedikit menutupi wajah.
''A-aku kedinginan.'' jawab Dini.
''Aku mau pake baju, boleh?'' izin Dini ragu.
Fryan menyimpulkan senyumnya lalu melihat jam, ternyata masih dinihari, masih lebih dua jam lagi menuju Subuh.
''Lanjut ya..'' pinta Fryan dengan suara beratnya menahan sesuatu.
Dini mengatur nafasnya yang belum teratur dan akhirnya mengiyakan permintaan suaminya.
Permainan kembali dimulai.
Dini menatap wajah Fryan yang tengah tersenyum kepadanya.
''Nanti kalau aku hamil gimana?'' tanya Dini lirih.
Fryan langsung terkekeh mendengar pertanyaan konyol Dini.
''Kau mengandung, melahirkan, menyusui...'' jawab Fryan dengan menirukan sebuah lagu, namun di akhiri dengan dirinya praktik seperti bayi yang sedang menyusu.
''Fryan ih! bukan gitu konsepnya....'' sungut Dini melirik ke arah bayi gedenya.
''Hmmmm..''
Fryan tidak bergeming, ia melanjutkan aksi praktik menjadi seorang bayi.
''Jadi kamu takut hamil?'' tanya Fryan setelah lepas dari dot alaminya.
''Bukan gitu..''
''Jadi kenapa?''
''Masa di hamili adek..'' lirih Dini melirik wajah Fryan sekilas dan menunduk malu.
Hahahahahaha
Seketika tawa Fryan pecah, andaikan ia sedang berada di ruangan yang tidak kedap suara, pasti sudah mengganggu istirahat orang lain.
__ADS_1
Sekarang saja sudah berhasil membuat Dini langsung menutup telinga.
''Fryan.. kalau ada yang denger gimana??'' bisik Dini.
''Biarin aja sayang.'' goda Fryan.
Fryan mengusap-usap rambut Dini.
''Selama ini kamu menganggap aku adik, tapi, aku tidak pernah menganggap kamu kakak.'' ujar Fryan.
''Jadi?''
''Jangan takut, aku akan berusaha untuk selalu membuatmu bahagia sayang.''
''Kalaupun nanti kamu hamil, sudah jelas suamimu itu siapa, dan jelas suamimu yang akan selalu ada untuk kamu. Soal umur kita, sekarang umur tidak menjamin, semua tergantung orang itu sendiri.'' jelas Fryan lalu memeluk sang istri.
''Tapi, aku selalu di hantui rasa bersalah sama kamu.'' kata Dini lalu mendongak menatap Fryan.
''Kenapa hem?''
''Aku selalu berusaha untuk menerima jalan ini, tapi, yang ada di bayangan ku kamu tetap adikku, rasanya seperti aku sedang membeli berondong untuk menemani.'' ungkap Dini mengeluarkan uneg-unegnya.
''Tapi, cemburu juga..'' lanjut Dini dalam hati.
Hahahaha
Lagi-lagi uneg-uneg Dini berhasil membuat tawa Fryan pecah.
''Tapi, kamu benar-benar tidak akan main-main kan dengan pernikahan ini?'' tanya Fryan mencari kepastian.
''Aku tidak akan pernah main-main.'' jawab Dini.
''Semua butuh proses sayang, aku yakin suatu hari nanti kita akan saling mencintai.'' ujar Fryan mencoba memahami perasaan Dini.
''Maafin aku ya..'' ucap Dini.
''Emmmm maafin nggak ya..''
''Please..'' Dini menatap Fryan serius dengan permohonannya.
''Ada syaratnya..'' kata Fryan.
''Jangan yang rumit.'' pinta Dini.
''Sangat mudah sayang.''
Senyum Fryan mengembang di bibirnya.
''Apa?'' Dini menatap Fryan yang tengah senyum-senyum.
Fryan membopong tubuh Dini.
''Aaa FRYANN..'' pekik Dini dengan menutup d4danya dengan kedua lengannya.
''Ini syaratnya.'' kata Fryan.
''Ini maksudnya apa?''
__ADS_1
''Sekarang gantian aku yang menerima permainan kamu sayang, pasti nggak kalah seru.'' ujar Fryan.
''Tta-tapi mana aku paham..'' ujar Dini gugup.
Fryan memberikan pengarahan kepada sang istri untuk memulai permainannya. Ia sudah siap menerima dengan lapang dada.
Dengan perlahan Dini memulai pacuannya, mereka sesekali tertawa geli karena merasa sedang bermain-main, sama-sama masih belajar.
''Terus sayang, lanjut..''
Dini sekuat tenaga menggigit bibirnya agar tidak meloloskan suara seperti sang suami yang semakin menggila.
''Fryaaann..''
Semburan hangat kembali terasa, Dini mengerang.
Tak tega melihat sang istri, Fryan mengambil alih memegang kendali.
''Huuhh''
Fryan menghela nafas beratnya lalu memeluk erat sang istri.
''Terimakasih sayang.'' ucap Fryan memberikan k3cupan di kening Dini berulangkali.
Dini mengembangkan senyumnya, menatap wajah sang suami yang ternyata memang tampan.
''Jadi males ke pulau deh kalau kayak gini, disini aja yuk lanjutin..'' bisik Fryan menggoda Dini.
''Enak aja!'' sungut Dini.
''Aku jadi nggak mau lepas sama kamu, gimana dong..'' tambah Fryan.
''Mesum!!'' pekik Dini.
''Hahaha.. tandanya normal kan, apalagi ke istriku sendiri yang cantik ini..''
''Udah lepasin.. aku mau mandi, bentar lagi Subuh.'' ujar Dini menyingkirkan tangan Fryan yang malah semakin erat memeluknya.
Fryan mengangkat tubuh Dini dan membawanya ke kamar mandi.
''First time..''
Fryan sengaja menghentikan langkahnya begitu di depan cermin, tubuh mereka yang polos nampak begitu jelas.
Dini membulatkan kedua matanya karena shock dan juga malu setengah mati. Ia terus meronta agar Fryan menurunkan tubuhnya.
Fryan menuruti, namun memepetkan tubuh Dini pada dinding. Ia mendapatkan ide untuk mencoba dengan posisi berdiri.
''Olahraga pagi sayang.'' bisik Fryan kembali dengan pacuannya.
..
Dini masih sesekali menguap, tidurnya tadi malam tidaklah normal. Bahkan ia sudah kembali terbangun pada dinihari, dilanjutkan dengan olahraga pacuan kuda atau penyusuran ke dalam goa miliknya yang membuatnya tak bisa tidur lagi.
Namun terpaksa mereka harus melakukan check out dari hotel, karena tujuan utamanya memang bukan disini.
...##########...
__ADS_1
Maaf.. part ini juga banyak revisinya karena terus ditolak😢🙏