
Dini meraih satu tangan Fryan yang berada di bahu kirinya dan membawanya ke dalam genggamannya.
''Maaf..'' tiba-tiba Dini menitikkan air mata dan tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Fryan langsung memeluk tubuh Dini dengan erat dan mengusap punggung gadis itu dengan lembut, sesekali ia menciumi puncak kepala gadis itu lalu mengelusnya.
''Nggak perlu merasa bersalah.'' ucap Fryan.
''Kenapa pelukan Fryan sangat menenangkan?'' batin Dini yang masih berada dalam pelukan Fryan.
Setelah merasa tenang, Dini mendongak dan pandangan mereka saling bertemu.
Jarak yang sangat dekat membuat deru nafas mereka saling bersahutan.
Sebagai laki-laki normal, Fryan merasakan temboknya goyah, pikirannya sudah tidak jernih lagi.
Begitupun dengan Dini, persetan apa yang merasukinya saat Fryan terus memajukan wajahnya, ia hanya bisa terpejam tanpa berontak.
Melihat Dini tidak bergeming, tembok Fryan semakin goyah, ditambah Dini malah memejamkan kedua matanya seperti siap menerima apapun yang akan terjadi.
Fryan tak akan menghindari kesempatan emas di depan mata, ia merindukan rasa manis yang baru dirasakannya saat malam itu, meskipun setelahnya harus menerima perlakuan dingin dari Dini.
Fryan meraih tengkuk Dini untuk menjaganya, jarak antara mereka berdua sudah sangat dekat membuat jantung Fryan berdetak semakin cepat, begitu pun dengan Dini.
Dini membuka matanya dan melihat betapa dekatnya jarak mereka, bahkan deru nafas dari Fryan terasa di wajahnya.
''Fry- hmpp''
Dini tak bisa lagi melanjutkan perkataannya karena Fryan lebih cepat melahap bibir mungilnya dengan lembut.
Fryan terus menahan tangan Dini yang ingin menghindari.
Dini tidak membalas ciuman itu, perasaannya kembali shock.
Fryan melepas pugutannya, tetapi hanya beberapa senti tanpa melepaskan rengkuhannya.
''Lihat Kak, aku sudah bisa melakukan yang pria dewasa lain lakukan kan? masih bilang aku anak kecil? kalau Kak Dini mau bukti ayok aku siap lakukan lebih dari ini..'' ucap Fryan dengan suara berat lalu kembali memajukan wajahnya.
Dini dengan cepat menutup bibirnya dan berusaha untuk menghindari.
''Oh ****!!'' umpatnya.
Dini malah tersandung kakinya sendiri saat hendak beranjak dari duduknya, jangankan untuk pergi menghindari Fryan, ia malah terjatuh dengan posisi tengkurap di sudut sofa.
Fryan terkekeh melihat tingkah Dini yang menggemaskan, ia berjongkok di samping Dini sambil membalikkan badan Dini agar tidak tengkurap lagi.
__ADS_1
''Ini tandanya alam tidak memihak Kakak untuk lari.'' Fryan langsung duduk.
Dini hanya mendengus kesal dengan kedua tangan yang menyilang di depannya.
''Kamu gila Fryan!''
''Iya aku gila, dan penyebabnya kamu sayang, maka dengan itu.. sembuhkan kegilaanku..'' senyum seringai nakal di sudut bibir Fryan.
Dini semakin tidak mengerti kenapa Fryan si adik kecilnya ternyata bisa seperti ini.
''Jangan heran Kakak sayang, bukan selama ini aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya sedang menahannya saja..'' Fryan mengelus pipi Dini dengan lembut.
Posisi Dini yang terhimpit di sofa menjadi susah untuk bergerak.
Fryan menatap wajah mulus Dini dengan lekat, gadis ini sudah membuatnya candu.
Tak lama kemudian ia mengungkung tubuh Dini hingga deru nafas mereka kembali saling beradu.
CUP
Fryan mencium kening Dini.
''Semua ini hanya untukmu sayang.''
Fryan mengusap bibir Dini dengan ibu jarinya lalu kembali mengulum bibir manis itu dengan rakus.
''Awwhh'' pekik Dini kesakitan, ia berusaha berontak tetapi tenaganya kalah dengan Fryan.
Melihat bibir Dini terbuka karena memekik sakit, Fryan langsung melakukan aksinya, kini lidahnya bermain di dalamnya.
''Hmmmpppp'' Dini melakukan pemberontakan tetapi tenaganya sudah lemas, apalagi kedua tangan Fryan terus menguncinya.
Haagghh
Fryan melepaskan lumatannya lalu menghela nafas.
Dengan kondisi rambut yang sudah acak-acakan karena ikatan rambut melorot.
Dini melihat kesempatan itu untuk langsung beranjak dengan cepat, tetapi tangannya lebih dulu diraih dengan cepat oleh Fryan yang membuat Dini tak bisa melaju.
Fryan ikut beranjak dari duduknya sambil tersenyum manis yang membuat Dini bergidik ngeri.
''Aku tidak akan melakukan lebih dari ini sebelum adanya pernikahan di antara kita, jadi Kakak jangan takut, sekarang Kakak bisa buktikan sendiri kalau aku bukan anak kecil lagi kan?'' ujar Fryan sambil menyisir rambut Dini dengan jemarinya.
''Kamu itu nyebelin!'' pekik Dini.
__ADS_1
''Nyebelin tapi bikin nyaman kan?'' sindir Fryan.
Dini langsung mendengus kesal.
Fryan semakin gemas melihat Dini yang sedang manyun.
''Aaa Fryan turunin!!'' seru Dini sambil memukul-mukul dada Fryan yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya.
''Nggak mau.'' tolak Fryan lalu menciumi wajah gadis itu dengan semangat.
Dini yang merasa risih menutupi bibir Fryan dengan kedua telapak tangannya.
''Fryan mau kemana?!!'' seru Dini.
''Hmm hmmm hmmm'' Fryan yang mulutnya di bekap tidak bisa menjawab dengan jelas.
Fryan menggendong tubuh Dini seperti gaya pengantin dan membawanya ke kamar pribadi.
Dini yang menyadari hal itu semakin dibuat bergidik ngeri lalu melepaskan bekapannya.
''Jangan macam-macam!!'' ancam Dini dengan menatap tajam.
Fryan tidak menjawab, ia membawa Dini duduk di sofa yang ada di kamarnya dengan posisi Dini di pangkuannya.
''I love you..'' ucap Fryan sambil menatap Dini dengan penuh senyum.
''Aku nggak peduli kak Dini akan membenciku setelah ini, aku cuma ingin Kakak tau, sentuhanku bukan untuk mempermainkan Kakak, tapi murni rasa cintaku, dulu semua tertahan, sekarang aku rasa kita sudah sama-sama mengerti hal ini, bahkan Kakak jauh lebih paham karena tiap hari nonton drakor yang isinya seperti tadi, daripada Kakak baper tidak ada lawan main, bersyukurlah karena ada aku yang membantu haha..'' ujar Fryan bangga.
''FRYAAN!! pekik Dini sambil memukul-mukul dada bidang Fryan.
''Haha maaf sayang.. cup'' Fryan kembali mencium bibir manis Dini sekilas yang sudah menjadi candu baginya.
''Yasudah tunggu sebentar, habis itu kita pulang, eh cari makan dulu, soalnya kak Dini berat, encok dan laper jadi satu haha.'' ledek Fryan sambil menurunkan tubuh Dini dari pangkuannya.
''FRYAAANNNN!!!''
Fryan langsung berlari ke dalam kamar mandi.
''Shitt!! kapan kak Dini mau gue nikahin biar pensil gue yang tajem ini masuk ke rautan aslinya bukan mainan sabun..'' gerutu Fryan.
Beberapa saat Fryan sudah menuntaskannya keperluannya dan langsung keluar.
''Ayok pulang!'' Dini langsung beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu.
''Iya sayang, sabar..''
__ADS_1
Mereka langsung bergegas menuju arah pulang, sebelum tiba di tempat untuk mencari makan siang yang kelewat, ternyata Dini sudah terlelap dan akhirnya Fryan memesan makanan untuk di bungkus, serta tambahan untuk ia bawakan ke orangtua Dini.