
Dini sudah bisa menutupi cara gerak jalannya agar tampak normal seperti biasanya, meskipun rasa nyeri di bagian sensitifnya masih terasa.
''Huuhhh dasar kacang KAPRI!!'' sungut Dini dalam hati.
''Apa masih sakit?'' bisik Fryan.
''Hah? emm iya dikit.'' jawab Dini juga ikut berbisik.
''Woy ada orang disini, jangan bisik-bisik..'' seru Bagas.
Hehehehe
Fryan dan Dini kompak salah tingkah, namun, dengan cepat Fryan bersikap biasa saja.
''Dini sakit kah? kok pucat?'' tanya Bagas.
''Kagak, lagi adaptasi sama cuaca aja jadi pucat.'' jawab Dini beralasan.
''Bisa gitu ya?'' tanya Bagas.
''Ya bisa.''
''Eh eh lu kepo aja sama bini gue!'' sungut Fryan langsung mendorong Bagas agar segera masuk ke dalam mobil.
''Hayolooohhh cie cieeee...'' goda Bagas lalu langsung berhambur masuk ke dalam mobil.
Fryan tidak menggubris Bagas, ia langsung memapah Dini agar segera masuk ke dalam mobil dan segera ke penyebrangan untuk menuju Pulau Pahawang.
Meskipun faktanya Dini merasa lemas, ia tetap semangat karena memang sudah memiliki keinginan yang besar untuk menginjakkan kaki di pulau tersebut.
Pulau indah yang tengah viral tersebut berada di kecamatan Marga Punduh, kabupaten Pesawaran, Lampung.
Bagus yang menguasai bahasa daerah mampu melakukan negosiasi kepada para oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, keindahan yang ada di Lampung tercoreng karena ulah segelintir oknum.
''Ngomong apa lu tadi?'' tanya Fryan penasaran.
''Ada deh, yang penting berangkat..'' jawab Bagus.
''Haha kurang ajar, tapi, thankyou loh Gus..'' ucap Fryan menepuk bahu Bagus.
"Sama-sama, kembali kasih haha.." jawab Bagus.
Perahu sudah mulai berjalan, tidak terlalu ramai karena memang belum waktunya liburan.
Biasanya tempat-tempat wisata akan mengalami lonjakan pengunjung saat akhir pekan atau liburan anak sekolah.
Bagus memainkan kameranya, mengabadikan momen dengan membuat video.
Setelah beberapa saat perahu berjalan, dari kejauhan sudah terlihat pulau, semakin dekat semakin nampak sekumpulan villa-villa unik yang berjejer dan menghadap langsung ke arah laut, villa tersebut di kenal dengan "Villa Lombok".
Villa unik tersebut juga menjadi salah satu incaran para wisatawan untuk menjadikannya sebagai latar belakang spot foto yang unik.
Perahu sudah mengantarkan mereka berempat dengan selamat.
Dini mengitari pandangannya melihat surga dunia di depan mata.
Pantai yang tenang, air yang bersih membuat betah para pengunjung.
"Semoga pulau ini akan selalu di jaga biar tetap bagus, bahkan semakin bagus.'' ucap Dini pada Fryan.
"Aamiin.." jawab Fryan meng3cup kening Dini.
__ADS_1
"Tahan kali bos.. lanjut nanti malam aja." seru Bagas yang berada di belakang Fryan dan Dini.
"Iri bilang boossss... pappale pappale hahaha''
Bagas mendengus kesal di ejek oleh teman sekaligus bosnya itu.
Bagus sudah memesan villa untuk tempat mereka menginap, mereka akan bermalam di pulau ini.
..
Dini sendirian berada di dalam villa, mereka bertiga tengah snorkeling menuju wisata taman Nemo yang masih berada di perairan Pulau Pahawang.
Jika biasanya kita hanya bisa melihat Nemo di dalam sebuah film, maka, mereka tengah mengunjungi secara langsung ke habitatnya.
Merasa bosan di dalam, Dini keluar menuju pinggiran pantai bermain pasir yang putih bersih.
Meskipun sinar matahari semakin menyengat, Dini tetap bertahan sembari menunggu suaminya yang juga belum muncul ke permukaan.
Tampak beberapa pengunjung lain, namun, tak ada yang saling mengenali.
Dini mengambil satu batang kayu kecil dan membuat tulisan di atas pasir.
''I LOVE KAPRI''
Dini memotret sekilas lalu tersenyum menatap hasil karyanya.
''Eh eh!!''
Dini lalu menepuk-nepuk pipinya dan cekatan menghapus tulisan tersebut.
''Huuhhh untung aja belum ada yang lihat.'' Dini merutuki dirinya sendiri.
''Kenapa juga ini tangan bisa lempeng aja nulis kayak gitu..'' gerutu Dini.
''Iya itu cinta.''
''Kaprii! bikin kaget aja!'' sungut Dini.
''Kamu ngapain panas-panas disini? istirahat yuk.. kamu jangan capek-capek sayang.'' ujar Fryan membantu Dini berdiri.
''Ingat ada yang mau masuk goa lagi.'' goda Fryan lalu mengedipkan satu matanya.
Dini langsung merinding mendengar kalimat Fryan.
''Jangan ngomongin itu, malu tau..'' gerutu Dini.
''Yang penting pas waktunya nggak boleh malu ya.'' goda Fryan lagi dan langsung di tepuk lengannya oleh Dini.
''Kamu kok tadi tiba-tiba muncul? sejak kapan?'' tanya Dini mengalihkan pembahasan horor suaminya.
''Sejak jaman masa penjajahan Belanda.'' jawab Frya membuat Dini terkekeh.
''Haha aku serius..''
''Iya tadi aku lihat kamu jalan kesini, aku udah naik.''
''Ohh''
''Yaudah sekarang kamu bersih-bersih dulu, abis itu kita makan ya sayang.''
Dini mengangguk lalu kembali ke dalam villa bersama dengan sang suami.
__ADS_1
..
Kunjungan mereka benar-benar mendapat restu dari sang Pencipta, mereka datang tepat dengan cuaca yang sangat bersahabat.
Sore ini mereka tengah menikmati sunset sembari menunggu waktu Maghrib.
Bagus sudah mendapatkan banyak gambar, terutama foto Fryan dan Dini yang sangat mesra berlatar belakang villa, pantai, dan matahari terbenam.
''Emang paling bener gue ngajakin Bagus, terimakasih pokoknya..'' puji Fryan.
''Sama-sama bro, gue juga seneng bisa liburan gratis haha''
''Cih sodara kembar emang kompak.''
''Wajib doong..'' sahut Bagas di ikuti dengan gelak tawanya.
Waktu terus bergeser hingga malam hari, teras villa yang luas bisa di gunakan untuk Bbq-an.
Bagus sudah memesankan semuanya untuk acara malam hari ini.
Mereka membolak-balik daging sembari menikmati udara malam yang dingin karena hembusan angin kencang.
Meskipun hanya berempat, mereka tetap tampak seru, apalagi banyolan Fryan dan Bagas yang seperti kucing dan tikus.
Waktu sudah jam sebelas malam, selain karena kekenyangan, mereka juga sangat kelelahan sehingga rasa kantuk terus menyerang.
''Gue besok yang nyetir, jadi gue mau tidur duluan.'' ujar Bagas.
Karena sama-sama mengantuk, acaranya juga sudah selesai dan tinggal istirahat ke tempat masing-masing.
Fryan menutup pintu kamar lalu menghampiri sang istri.
''Kamu capek ya?'' tanya Fryan lalu menc1umi pipi Dini.
''Geli Kaprii.. iya aku capek, boleh nggak kalau aku langsung tidur aja.'' pinta Dini.
Fryan menatap lesu.
''Satu ronde aja ya sayang, please.. aku yang memegang kendali.'' mohon Fryan.
Dini menghela nafas, lalu berakhir mengiyakan permohonan suaminya yang memelas.
''Beneran ya jangan lama-lama, maaf bukannya aku nolak, tapi, beneran badanku sakit semua.'' pinta Dini.
''Iya sayang, janji..''
Fryan menuntun pada posisi yang pas, di mulai dengan saling menatap dan menyimpulkan senyum.
Aset Fryan yang sudah menegang membuat Fryan tak mau berlama-lama, ia memegang kendali dengan lembut.
Semburan hangat yang berhasil tersalurkan membuat Dini tidak bisa menahan suaranya.
Fryan langsung menyusup ke bibir Dini dan menyapukan di dalam sana.
Des4han keras Fryan menyudahi pacuannya, lalu memeluk sang istri dengan erat, Dini juga menghadapnya
''Terimakasih sayang.'' ucapan yang tak pernah bosan bagi Fryan.
Dini tersenyum lalu membalas pelukan Fryan dengan erat.
''Bersihin dulu yuk, abis itu kita tidur..'' ajak Fryan mengusap rambut sang istri.
__ADS_1
''Iya.'' jawab Dini lalu ikut beranjak dari ranjang.