
Cukup lama Fryan memeluk sang istri dan membiarkan Dini menenggelamkan kepalanya di dadanya.
''Sayang, maaf kalau aku belum bisa menjadi imam yang baik untuk kamu.'' ucap Fryan seraya mengusap rambut Dini dengan lembut.
''Aku juga minta maaf kalau belum bisa jadi makmum yang baik.'' jawab Dini lalu mendongak menatap sang suami.
''Kita masih sama-sama belajar.'' imbuhnya.
''Iya sayang.''
''Emm, kamu baca buku apa sih?'' tanya Fryan.
''Tentang bisnis untuk pemula.'' jawab Dini.
''Rajin banget sih istriku.. semoga kita semakin maju ya.'' puji Fryan.
''Aamiin..''
Fryan dan Dini sama-sama langsung menangkupkan kedua tangannya.
''Sayang, ngomong-ngomong soal buku, emm maaf ya hehe.. waktu kita nginep di rumah ibu, aku lihat hasil tulisan kamu, boleh juga.'' tutur Fryan.
''Ihh kamu lihat-lihat, malu tau..'' gerutu Dini.
''Kenapa malu? tulisan kamu rapi sayang, tapi nggak pake Ahmad.''
''Hah?'' Dini masih belum nangkap.
''Rapi Ahmad sayaang..'' sahut Fryan lalu mencubit gemas hidung istrinya.
''Awwhhh sakiitt!!!!'' seru Dini.
''Abisnya kamu malah bingung..'' ujar Fryan sambil mengusap hidung Dini yang sudah memerah.
''Ya lupa kok..'' kata Dini mencari pembelaan.
Fryan terkekeh mendengarnya.
''Sayang, kisah cinta kita kalau di buat film atau novel gitu bagus kali ya.. coba kapan-kapan kamu bikin sayang, kan banyak tuh novel online yang sering muncul iklannya di youtube.'' usul Fryan.
''Tapi, judulnya apa ya yang cocok?'' imbuh Fryan seakan-akan sudah mendapatkan persetujuan dari sang istri.
''MENIKAH DENGAN ADIK SAHABATKU''
Dini spontan membuat judul untuk menjawab pertanyaan dari Fryan.
''Hahaha ide bagus tuh sayang, boleh-boleh..'' jawab Fryan setuju dengan ide istrinya.
''Nggak ah, judul itu sudah ada yang punya.'' balas Dini.
''Iya kah? yaahhhh sayang dong udah keduluan sama orang lain. Ngomong-ngomong kamu kok tau Yang? udah punya bukunya kah?'' tanya Fryan penasaran.
__ADS_1
Dini menggeleng.
''Novel di platform online.'' jawab Dini.
''Ohh gitu..'' Fryan menganggukkan kepalanya paham.
''Iya, novelnya bisa sih terbit cetak kalau popularitasnya sudah tinggi, sudah jutaan pembaca.'' ujar Dini.
''Kalau sampai terbit, kamu mau beli?'' tanya Fryan kepo.
''Pastinya.'' jawab Dini cepat.
''Penulis yang pakai nama pena "Cimai" itu walaupun belum terkenal kayak penulis lainnya, tapi, cukup bagus untuk ukuran seseorang yang tinggal di kampung yang hanya modal hobi, semoga aja bisa nyusul sukses kayak penulis lainnya.'' imbuh Dini.
''Aamiin..'' jawab Fryan.
Dua minggu kemudian
Ayah Wildan sudah bersiap-siap untuk menjemput putranya yang sebelumnya sudah membuat janji.
''Hati-hati ya di rumah, ayah berangkat dulu.'' pamit ayah pada mama Tia.
''Iya Mas, hati-hati ya..'' jawab mama lalu mencium punggung tangan suaminya.
Setelah berpamitan dengan mama, ayah langsung beralih ke mama mertua yang sedang duduk di kamarnya karena masih subuh.
''Hati-hati Wildan, jangan ngebut.''
''Baik Ma..''
Ayah langsung mengambil kunci mobil dan bergegas menuju ke garasi.
Menyusuri jalanan yang masih di sinari dengan sorot lampu jalan raya, belum ada kendaraan pribadi yang lewat.
Sedangkan kendaraan besar yang mengangkut berbagai barang dan lainnya sudah wara wiri sejak tadi.
Setelah menyusuri perjalanan dari masih lumayan gelap, saat ini tiba di kediaman sang putra yang sudah tampak sinar matahari meskipun baru terbit.
''Ayah..'' sapa Dini sambil membuka pintu, melihat sang mertua baru turun dari mobil.
Dini langsung bergegas menghampiri ayah mertuanya.
''Iya sayang, gimana sehat kan?'' tanya ayah.
''Alhamdulillah sehat Yah, mama sama oma juga sehat kan Yah?'' tanya Dini.
''Sehat nak, sekarang mama kalian sudah nggak teler lagi.'' jawab ayah.
''Alhamdulillah kalau gitu, masuk dulu Yah..'' titah Dini.
__ADS_1
''Iya Nak sebentar.''
Ayah kembali masuk ke dalam mobil sebentar lalu keluar lagi membawa sesuatu lalu berjalan ke dalam rumah.
''Ini untuk sarapan kamu, buat suamimu biar nanti aja sekalian sama Ayah.'' ujar ayah.
''Terimakasih Ayah, tapi, Fryan udah sarapan tadi hehe..'' ujar Dini.
''Walah cepat sekali kamu Nak, pantesan perut suamimu makin buncit..'' ejek ayah.
''Cuma bikin nasi goreng aja kok Yah.. kalau buncit kata Fryan karena sekarang nggak sempet olahraga.'' jawab Dini.
''Ya ampun anakkuu..'' gumam ayah sambil menggelengkan kepalanya kemudian terkekeh.
''Kenapa Yah?'' tanya Dini.
''Nggak papa sayang.'' jawab ayah masih berusaha menahan tawanya.
Dini menggaruk tengkuknya heran kenapa ayah mertuanya tertawa, padahal menurutnya tidak ada hal yang lucu.
Kebiasaan Fryan ketika hendak bepergian adalah membuang sesuatu terlebih dahulu yang telah menumpuk di dalam perutnya.
''Eh Ayah..''
''Ayo langsung aja..'' ujar ayah.
''Siap komandan..'' jawab Fryan.
''Hati-hati di rumah ya sayang, emm kalau emang ada hal penting banget mau keluar, ajak Mila, nggak boleh sendiri..'' ujar Fryan.
''Iyaaa..'' jawab Dini lirih.
''Jalan dulu ya..'' pamit Fryan.
''Iya hati-hati..'' jawab Dini mencium punggung tangan suaminya.
''Udah-udah, masih banyak waktu..'' potong ayah saat melihat putranya menc1um kening Dini lembut.
Dini langsung reflek mendorong tubuh Fryan membuat ayah kembali terkekeh.
''Kamu ih.'' gerutu Dini.
Hahaha
Ayah tidak bisa menahan tawanya melihat wajah malu sang menantu.
''Ayah nih nggak pengertian..'' gerutu Fryan sambil berjalan keluar rumah.
''Hati-hati di rumah ya Nak, kami jalan dulu..'' ujar ayah.
''Iya Ayah..'' jawab Dini lalu mengikuti ayah dan suaminya ke depan.
__ADS_1