
Perjalanan darat sudah melalui beberapa jam, kini di lanjutkan dengan menyebrangi dari pelabuhan Merak sampai ke pelabuhan Bakauheni dengan menggunakan kapal laut.
Pelabuhan selalu tampak penuh, mulai dari kendaraan pribadi, umum, hingga angkutan barang sudah berbaris rapi.
Fryan tidak membiarkan Dini berjalan sendiri, ia terus menggenggam tangan sang istri.
Sedangkan Bagus sibuk dengan kameranya, ia sering membuat video dan di unggah ke akun youtube miliknya atau sekedar memotret untuk di unggah ke akun sosial medianya yang khusus memamerkan hasil fotonya.
Gelombang air laut yang cukup normal kali ini, biasanya akan mengalami gelombang tinggi pada penghujung tahun.
Dini sangat menikmati perjalanannya.
''Kamu suka?'' tanya Fryan.
''He'em, makasih ya.'' ucap Dini tersenyum ke arah Fryan
''Sama-sama sayang, maaf ya belum bisa kasih yang lebih buat kamu.'' ucap Fryan mengelus rambut Dini.
''Banyakin bersyukur.'' jawab Dini.
''Iya betul sayang.'' tutur Fryan menatap intens bola mata Dini.
Tatapan yang menenangkan dan menyimpan banyak harapan.
Apakah usahanya kali ini sudah bisa berhasil membuat sang istri tidak mengedepankan gengsinya lagi.
Setelah meminta Bagus untuk mengabadikan momen dengan latar belakang lautan.
Fryan mengajak Dini untuk kembali ke tempat duduknya.
Karena perjalanan laut tidaklah sebentar.
Rasa kantuk di mata Dini sudah mulai menyerang saat angin terus berhembus kencang, karena tidurnya di dalam mobil tadi sempat terpotong saat tiba di pelabuhan Merak.
''Aku ngantuk.'' ujar Dini pada Fryan.
''Oh iya, tidur aja sayang, sini..'' Fryan membetulkan posisinya untuk memberikan sandaran di dadanya.
''Aku kan bisa sandaran disini.'' tunjuk Dini pada sandaran kursinya.
''Nggak boleh, sini aja.'' cegah Fryan tetap meminta sang istri bersandar di dadanya.
''Yaudah, maaf ya..'' ucap Dini lirih.
Mendapatkan kata maaf membuat Fryan ingin tertawa. Bagaimana bisa seorang istri harus minta maaf dulu mau bersandar ke dada suaminya sendiri, bahkan sang suamilah yang sudah lebih dulu menawarkan.
''Iya, nggak papa.'' jawab Fryan lalu merengkuh kepala sang istri dengan lembut. Ia tak mau memperpanjang pembahasan, melihat sang istri sudah lebih mengurangi gengsinya sudah lebih dari cukup bagi Fryan.
Dini merasakan kenyamanan itu, ia bisa melanjutkan tidurnya dengan nyenyak. Bahkan tidak melanjutkan untuk memandangi perjalanan lautnya.
''Laut itu sangat luas, tapi, lebih luas lagi cinta ku padamu.. eaaa'' batin Fryan lalu menahan tawanya sendiri.
Belajar menggombal tapi kalau di praktekkan hanya akan mendapatkan respon ''halah''.
(Kasian kasian kasian🤣)
''Yang penting cintaku mung kanggo sliramu, ora ono liyane (hanya untuk dirimu, tidak ada lainnya)" gumam Fryan lalu meng3cup kening istrinya yang sedang tidur.
Melihat istrinya sangat nyenyak, Fryan mengambil ponselnya dan memotret dirinya bersama sang istri.
Senyum terpancar di wajahnya melihat hasil foto yang terlihat romantis.
..
''Sayang..'' panggi Fryan.
__ADS_1
''Hemm..''
''Bangun, kita sudah hampir sampai.'' ucap Fryan.
''Sudah sampai?'' tanya Dini mengangkat kepalanya mengitari sekitarnya. Mengedipkan matanya berkali-kali agar lebih terbuka lebar.
Dini membenarkan rambutnya dan mengusap bibirnya takut ada sesuatu yang menetes disana.
''Iya, kita bisa lihat menara siger yang menjadi kebanggaan masyarakat Lampung, tuh si kembar udah sumringah mau pulang kampung.'' jawab Fryan.
''Wah iya..''
''Loh emang Bagas asal sini?'' tanya Dini baru ngeh.
''Iya, neneknya disini, dulu mereka lahir disini juga katanya, terus orangtuanya yang pindah.'' jelas Fryan sambil berjalan.
''Oh gitu?? pantesan semangat banget mereka, dan bawaannya banyak juga.'' ujar Dini.
''Haha iya, maaf aku juga lupa belum cerita soal ini ke kamu.'' ucap Fryan.
''Nggak papa.'' jawab Dini.
Mereka kembali menaiki mobil dan melanjutkan perjalanan darat menuju kota Bandar Lampung. Pertama akan mencari tempat makan dulu. Rencana mereka untuk malam pertama menginap di hotel, namun tidak untuk Bagas Bagus, mereka di beri kesempatan oleh Fryan untuk bermalam di rumah neneknya.
Keesokan paginya baru mereka melanjutkan ke pelabuhan untuk menyeberang ke pulau dan akan menginap satu malam di pulau tersebut.
''Oke thanks ya Gas, Gus.. jangan lupa besok jemput kita sesuai jadwal.'' ujar Fryan saat mereka tiba di hotel.
Hotel tempat menginap Fryan dan Dini juga sudah termasuk dalam kepengurusan Bagus.
''Oke, selamat berbulan madu..'' ujar Bagas lalu terkekeh.
''Haha apa lu sok tau bulan madu aja.'' canda Fryan.
''Yaudah salam buat nenek kakek kalian.'' lanjut Fryan.
''Oke, duluan ya..''
Bagas kembali tancap gas meninggalkan Fryan dan Dini yang menginap di sebuah hotel dan menuju ke rumah nenek tercinta.
Sementara itu, dengan petunjuk dari petugas hotel, Fryan dan Dini di antar menuju kamar yang sudah di pesan oleh Bagus.
Hotel mewah yang berada di kota Bandar Lampung
''Kenapa aku deg-degan ya..'' batin Dini.
Ia mengikuti langkah petugas hotel tersebut dengan tangannya menggandeng sang suami.
Petugas menghentikan langkahnya di depan sebuah kamar, lalu membukakan pintu kamar tersebut.
''Silahkan..'' ucapnya ramah.
Setelah mereka sudah di masuk ke dalam, kedua mata Dini terbelalak tidak percaya dengan pemandangan yang ada di depan matanya.
Ranjang kamar hotel tersebut benar-benar dibuat layaknya untuk pasangan pengantin yang sedang berbulan madu seperti yang ia lihat di sosial media para selebriti.
Dini mendongak ke arah suaminya yang nampak biasa saja, tidak ada ekspresi keterkejutan dari wajah Fryan.
''Kok bisa begini?'' tanya Dini penasaran.
''Pasti bisa sayang.'' jawab Fryan santai.
Jantung Dini kembali berdetak lebih kencang, pikirannya sudah jauh kemana-mana.
Petugas tersebut menjelaskan beberapa hal kepada Fryan dan Dini.
__ADS_1
''Baiklah kalau begitu, silahkan hubungi pihak hotel jika ada yang anda butuhkan.'' ucapnya.
''Baik Kak.'' jawab Fryan.
''Selamat menikmati bulan madu penuh kesan di hotel kami, permisi..'' ucapnya lagi.
Fryan mengangguk tanpa ragu, sedangkan Dini masih berkelit di pikirannya sendiri.
''Sayang.'' panggil Fryan setelah petugas hotel pergi.
''Hah iya..'' jawab Dini kaget membuat Fryan terkekeh.
''Kamu kenapa sayang? kaget ya?'' goda Fryan.
''Yaa-ya pastilah aku kaget, kenapa bisa begini..'' jawab Dini gugup.
Fryan mengembangkan senyumnya, lalu membuka tirai dan memperlihatkan suasana kota yang masih sore yang cerah.
''Bisa sayang, karna kamu istriku.''
Dini masih diam merenung, bermonolog dalam pikirannya.
''Kamu nggak suka ya?'' tanya Fryan memegang bahu Dini.
''Aku suka kok, tempatnya bagus banget, aku cuma masih kaget aja, maaf ya..'' ucap Dini merasa tidak enak.
Fryan langsung memeluk sang istri dengan erat, perlahan Dini pun membalas pelukan dari suaminya.
''Terimakasih sayang.'' ucap Fryan mendaratkan c1uman di kening istrinya berkali-kali.
''Iya.'' jawab Dini lirih.
Tiba-tiba bola mata Fryan berkaca-kaca, ia merindukan sosok ibunya yang sudah lama kembali kepada Sang Pencipta.
''Kamu nangis?'' tanya Dini saat mendongak menatap suaminya.
''Kenapa? aku bikin kesalahan ya? aku minta maaf..'' cerca Dini.
Fryan menggeleng cepat lalu tersenyum.
''Nggak sayang, kamu nggak salah, aku sedang bersyukur karena Tuhan mengirimkan kamu buat aku, terimakasih ya..'' ucap Fryan.
''Serius karena itu?'' tanya Dini lagi karena takut ia membuat kesalahan yang tidak ia sadari.
''Iya sayang.'' jawab Fryan lalu memajukan wajahnya.
Spontan Dini memejamkan kedua matanya, menerima sentuhan dari sang suami hingga semakin dalam dan membuat Dini sampai hampir kehabisan nafas.
Fryan mengulum senyumnya, mengusap air perpaduan yang sampai keluar ke sudut bibir sang istri.
''Manis sayang.'' ucap Fryan diikuti senyuman menggodanya.
Dini langsung menunduk karena wajahnya langsung merona merah.
''Ihh merah loh mukanya, malu ya..'' goda Fryan.
''Apasih..'' sungut Dini lalu menepuk lengan Fryan yang tampak sumringah menggodanya.
''Istirahat dulu ya sayang.. kamu pasti capek kan?'' tanya Fryan sudah berhenti menggoda Dini.
''Cuma pegel kakinya.'' jawab Dini.
Fryan langsung membawa sang istri ke sofa, memberikan pijitan agar kaki Dini membaik.
(Hayo part selanjutnya jebol gawang nggak niih🤣🤭)
__ADS_1