Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 77 : Baunya Nagih


__ADS_3

''Karena aku belum berhasil hamil.'' jawab Dini lirih dan semakin memperdalam tundukannya.


Sebulan yang lalu, mama mertua memberitahukan kabar bahagia kepada anak-anaknya bahwa ia tengah mengandung.


Tampak raut bahagia di wajah Fryan yang secara langsung mendapatkan kabar tersebut.


Bukan Dini tak bahagia atas kabar tersebut, tetapi ia menjadi minder setelah melihat dirinya sendiri yang belum kunjung hamil.


''Hey sayangku..''


''Apa pernah aku menuntutmu untuk segera hamil?'' Fryan meraih dagu sang istri, Dini hanya menggeleng pelan.


''Lalu kenapa kamu merasa bersalah dan seolah-olah aku menargetkan kehamilan padamu?''


''Karena Nita sebentar lagi akan melahirkan, mama Tia juga sedang hamil. Sedangkan aku masih lancar datang bulan, aku lihat kamu sangat bahagia dengan kehamilan mama.'' jelas Dini lirih.


Fryan menangkup kedua pipi Dini dengan kedua tangannya.


''Aku memang bahagia mama sedang hamil, artinya akan ada anggota baru di keluarga kita. Tapi, bukan berarti kebahagiaanku lantas menuntutmu untuk cepat-cepat merasakan seperti yang mama rasa sekarang, semua ada waktunya masing-masing.


Intinya sekarang kita nikmati waktu berdua dulu, yang penting kita udah usaha, jangan sedih ya sayang.'' Fryan mengusap airmata sang istri yang sudah mengalir di pipi mulusnya.


''Terimakasih sudah mengerti.'' ucap Dini langsung memeluk suaminya dengan erat. Ia menenggelamkan kepalanya di dada sang suami.


Fryan meng3cup puncak kepala Dini dengan lembut, memberikan rasa kenyamanan di hati Dini.


Sejak beroperasinya bangunan dua lantai yang sudah di rancang jauh oleh Fryan membuat Dini memiliki aktivitas lagi.


Tidak harus pergi jauh untuk mengisi hari-harinya dalam berkegiatan.


Cafe yang di beri nama "KaDin Cafe" tersebut sudah mulai menjadi tempat beraktivitas Dini dua minggu ini.


Sedangkan Fryan masih kerap wara wiri mengontrol di tempat usaha lainnya, termasuk mengontrol pada usaha sang kakak, Anita.


Bukan tanpa alasan Fryan melarang Dini untuk bekerja di tempat orang lain, ia tidak ingin sesuatu hal yang tidak di inginkan kembali terjadi pada sang istri.


Lokasi tersebut juga sudah di alihkan atas nama sang istri sebagai hadiah pernikahan mereka.


Nama "KaDin" merupakan cetusan yang di lontarkan oleh Dini yaitu singkatan dari Kapri dan Dini.


Sejak grand opening cafe, pengunjung selalu ramai datang di cafe yang terletak di lantai dua dengan konsep outdoor dan indoor tersebut.


Lokasi yang berada di lantai dua membuat pengunjung bisa melihat gemerlap cahaya dan riuhnya kota di malam hari.


Di dalam ruangannya, Dini tengah menyelesaikan laporan harian kemarin.


Sedangkan Fryan yang juga menemani sang istri di ruangan tersebut juga tengah mengerjakan laporannya sendiri.


..


Di tempat lain, ayah dan mama sedang melanjutkan pembahasan mengenai mama Ranti.


''Sepertinya aku sudah mendapatkan keputusan.'' ujar ayah.


Mama sangat deg-degan, ia khawatir ayah tidak menyetujui semua usulannya.


''Jadi gimana Mas?'' tanya mama hati-hati.

__ADS_1


''Aku setuju kita tinggal bersama mama Ranti.''


''Serius Mas?'' tanya mama antusias.


''Iya, aku juga merasakan seperti mu, gimana sakitnya tidak bisa mendampingi orang tua sakit, bahkan dua-duanya hingga detik terakhir nafas mereka. Mungkin ini waktunya kita berbakti pada orang tua.'' jelas ayah.


''Iya Mas, benar.. terimakasih banyak.''


Ayah mengangguk bahagia.


''Lalu, bagaimana dengan rumah ini? sayang sekali jika harus kosong.'' ucap mama lalu mengitari pandangannya.


''Nanti coba aku rundingkan dengan Fryan dan Dini, siapa tau mereka berkenan tinggal disini.''


''Tapikan mereka sudah memiliki tempat tinggal sendiri Mas, apalagi sekarang Dini sudah mulai bekerja. Kalau tinggal disini jadi jauh dong yang tadinya tinggal buka pintu aja.''


Ayah menghembuskan nafasnya.


''Iya juga ya..''


''Ya sudahlah nggak papa kosong, nanti dua hari sekali atau gimana kita nengokin kesini, kalau kita tidak bisa, minta tolong kepada anak-anak.'' usul ayah.


''Yaudah kalau begitu, jadi kapan kita mulai tinggal di rumah mama?''


''Emmmm, besok kita ke rumah Fryan dulu ya, nggak mungkin kan tiba-tiba kita pergi gitu aja tanpa ada obrolan terlebih dahulu sama anak-anak.''


''Oh iya-iya kamu benar Mas.''


..


Keesokan paginya, ayah dan mama sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah anaknya.


''Loh Ayah, Mama.. kok nggak bilang-bilang kalau mau kesini.'' ujar Dini yang kebetulan sedang membuka pintu dan langsung menghampiri mertuanya.


''Iya sayang lupa mau telpon, suamimu ada?'' tanya mama.


''Ada Ma, mari masuk dulu Ayah, Mama..''


Ayah dan mama mengikuti langkah Dini yang terlebih dahulu masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Fryan.


''Kapri buruan ada ayah sama mama..'' ujar Dini sembari mengetok pintu kamar mandi.


''Iyaaa..'' seru dari dalam.


Dini kembali ke bawah dan menuju dapur untuk membuat minuman.


Tidak lama kemudian, ia kembali ke depan membawa minuman hangat.


''Fryan masih di kamar mandi Yah, Ma..'' ujar Dini sambil meletakkan gelas di atas meja.


''Ohh, ya nggak apa-apa kami tunggu.''


''Silahkan di minum dulu Ma, Ayah..''


''Terimakasih sayang..''


Bersamaan dengan ayah dan mama menyeruput minumnya, Fryan yang sedang di tunggu akhirnya muncul juga dan langsung menjabat tangan kedua orangtuanya.

__ADS_1


Mereka mengobrol ringan terlebih dahulu dengan menanyakan perkembangan usaha baru sang anak.


''Fryan, Dini.. jadi tujuan ayah dan mamamu kesini ada yang akan kami sampaikan.


Oma Ranti kan sedang sakit, sedangkan beliau tidak mau kami ajak ikut ke rumah, sedangkan disana oma hanya berdua dengan mbak Nina. Karna sebenarnya mamamu ingin sekali merawat oma, tetapi karena oma menolak tinggal di rumah kita, jadi kami memutuskan untuk tinggal di rumah oma.''


''Ya nggak apa-apa Yah, yang terbaik aja untuk Ayah sama Mama. Berarti rumah Ayah kosong?'' ujar Fryan.


''Iya, sebenarnya ayah sangat ingin kalian menempati rumah itu.'' ujar ayah.


Fryan dan Dini langsung saling melempar pandangan.


''Emm, itu Yah..'' ucap Dini terbata-bata.


''Ayah paham kok kalian sudah ada tempat tinggal sendiri, ayah nggak maksa. Nanti ayah akan datang beberapa hari sekali kalau pas libur atau tidak banyak kerjaan, dan kalau kalian nggak keberatan, kalau ayah tidak sempat datang, ayah minta tolong kalian yang datang ya..'' pinta ayah lalu merogoh sakunya mengambil sesuatu.


''Oh iya Yah boleh.'' jawab Fryan dan di setujui oleh Dini.


''Ini kunci cadangan untuk kalian pegang.''


Fryan menerima kunci tersebut dan langsung memasukkan ke dalam sakunya.


''Gimana dengan bu Mina, Yah?'' tanya Dini.


''Ohh iya soal bu Mina ayah belum sempat berbicara, karena keputusan ini benar-benar baru tadi malam, nanti setelah dari sini ayah akan langsung berbicara dengan beliau.''


''Yasudah karna kalian sudah sepakat, kami mau langsung kembali ke rumah.'' ujar ayah.


Fryan dan Dini mengantar ke depan.


''Sehat-sehat adik sayang..'' bisik Dini di perut mertuanya.


''Aamiin Kakak..'' jawab mama lalu membuat mereka tertawa kecil.


''Kamu yang sabar ya, kita nunggu giliran biar nggak mepet jadwal lahirannya.'' goda mama Tia lalu tertawa.


''Hehe iya Ma..''


''Hati-hati Mama..''


Senyum yang tadi mengembang lebar kini kian mennciut saat mobil yang di kendarai ayah sudah tidak nampak lagi.


''Apa kata mama?'' tanya Fryan seraya merengkuh pinggang sang istri lalu kembali mengajak masuk ke dalam rumah.


''Kata mama harus sabar, nunggu giliran biar lahirannya nggak mepet. Bener juga sih.. kalau aku sama mama waktu itu langsung hamil, jadwalnya bener-bener mepet sama Nita.'' tutur Dini mengingat jadwal pernikahan mereka yang berdekatan.


''Kalau mama sih bisa aja mepet sama kak Nita, lah kita nggak mungkin..''


''Kok gitu?'' protes Dini.


''Gimana mau langsung hamil kalau baru di c1um aja langsung nabok haha.'' ejek Fryan.


''Kapriiii.'' pekik Dini lalu mengerucutkan bibirnya.


''Haha udaahh jangan di ulangi lagi ngambeknya.. pokoknya sekarang kita nikmati dulu masa pacaran kita, oke sayang cup.''


''Mandi dulu sana, bauk..'' protes Dini setelah di beri kecup4n di bibirnya.

__ADS_1


''Baunya nagih.'' goda Fryan mengedipkan satu matanya dan langsung bergegas pergi ke kamar mandi.


Sementara Dini mengulum senyumnya dengan memegang bibir yang baru di kecup oleh sang suami.


__ADS_2