
Acara tujuh bulanan Dini sudah siap di mulai, para tamu dari warga sekitar dan undangan untuk sebuah yayasan sudah sudah hadir.
''Cantik sekali istriku memakai kerudung..'' puji Fryan.
''Jangan gitu, aku malu..'' ujar Dini lirih.
''Serius sayang, cantik banget.''
''Berarti biasanya nggak cantik ya?''
''Cantik dong.. sekarang makin cantik.'' jawab Fryan lalu memberikan kecupan manis di kening Dini yang masih berdiri didepan cermin.
''Diihhhh lanjut besok mesra-mesraannya, tuh tamu udah pada ngumpul! buruan keluar!'' seru Nita yang sudah berdiri di tengah pintu kamar.
Dini spontan mendorong lengan Fryan agar memberikan jarak diantara mereka, Nita langsung puas dengan gelak tawanya.
''Iya ini mau ke depan..'' ujar Dini menatap dirinya sekilas dalam cermin lalu melewati suami dan juga Nita.
Dini sudah meninggalkan Nita dan juga Fryan dan langsung menuju ke depan menemui para tamu wanita.
''Hahaha syukurin lu!!'' ejek Nita kepada adik kesayangannya itu.
''Kurang ajar lu jadi Kakak, nggak ngertiin banget sumpah..'' sungut Fryan.
''Gimana? wuenak to akhirnya jebol gawangnya berhasil haha''
Nita masih sibuk menggodai adiknya yang beberapa bulan lagi akan menjadi seorang ayah.
__ADS_1
''Halah awas lu.. LDR-an sama bang Aldo hati-hati halu sama guling lu Kak..'' ledek Fryan ganti.
''Enak aja! normal gue..'' sungut Nita.
Fryan balas terkekeh lalu meninggalkan kakaknya berdiri sendiri.
''Lah gue ditinggal..'' gumam Nita dan langsung menyusul ke depan.
Dini sengaja tidak mau acara tujuh bulanan atas kehamilannya menggunakan banyak tradisi. Ia sendiri takut kelelahan, jadi keputusannya untuk digelar secara sederhana dituruti oleh keluarga. Meskipun saat pertama kali mertua Nita mengetahui langsung melakukan protes karena hal semacamnya menjadi kewajiban dikeluarga dan juga lingkungannya.
Dini tetap bersikekeh dengan keputusannya karena yang menjalani adalah dirinya. Tidak menggunakan tradisi bukan berarti tidak mencintai. Toh, di dalam menu ada lutisan dengan isian tujuh macam buah-buahan. Tujuan utama membuat acara adalah untuk meminta do'a atas rasa bersyukurnya setelah menantikan.
Acara sudah dimulai, seseorang memberikan sambutan untuk para tamu undangan yang telah hadir dan tentunya para keluarga.
Dan selanjutnya pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh salah satu murid perempuan dari sebuah yayasan dan dibacakan tepat di sebelah Dini.
Fryan yang duduk di sebelah sang istri melihat pergerakan itu, ia pun langsung mengusap dengan lembut perut Dini.
Acara yang di gelar pada malam hari itu dipersingkat agar tidak selesai terlalu malam, terlebih mengingat tamu dari yayasan adalah anak-anak.
Setelah sambutan dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an selesai, dan ditutup sedikit tausiyah lalu berdo'a bersama untuk kesehatan Afryan Sanjaya dan Fadila Putri Nandini beserta keluarga besar.
''Alhamdulillah..'' ucap Dini lega setelah seorang ustadz selesai memimpin do'a.
Rangkaian acara ditutup dengan do'a, lalu dilanjutkan dengan menikmati hidangan yang disajikan. Banyak ucapan dan do'a yang diterima oleh Dini dari para tamu undangan. Tentu saja ia sangat bahagia atas segala do'a-do'a baiknya.
Tiga puluh menit para tamu menghabiskan hidangan, beberapa tamu ada yang sudah pulang terlebih dahulu. Panitia yang bertugas membagi souvernir mulai disibukkan.
__ADS_1
''Semoga sehat selalu ya Mbak Dini, lancar lahirannya..'' ucap salah satu tamu yang hendak pamit.
''Aamiin.. terimakasih banyak ya Bu sudah hadir..'' balas Dini.
Satu persatu tamu meninggalkan kediaman ayah Wahyu, hingga tersisakan piring-piring kotor dan lainnya. Seseorang yang sedang bertugas sangat sibuk.
Pukul 23.00 WIB
Dini yang merasakan punggungnya sakit memilih untuk istirahat, meskipun sebenarnya tidak enak dengan yang lain karna masih kumpul.
Ayah Wildan, Nita, serta mertuanya malam ini akan menginap dirumah ayah Wildan. Sekalian menengok karena sudah beberapa bulan tidak ada yang menempati, hanya seseorang yang diberikan tugas untuk membersihkan saja.
''Kenapa Sayang? sakit?'' tanya Fryan khawatir.
Fryan yang tadinya masih mengobrol di depan melihat sang istri berjalan kearah kamar dengan memegangi punggungnya langsung mengikuti.
''Iya, mungkin karena kelamaan duduk..'' jawab Dini.
''Dibawa ke rumah sakit aja ya? takutnya kenapa-kenapa.'' ajak Fryan.
''Enggak mau, aku mau tidur aja, mudah-mudahan besok udah enak.'' tolak Dini.
''Beneran sayang? kamu jangan nahan sakit loh..''
''Iya aku nggak papa, aku mau tidur...''
Fryan tidak mau memaksa, ia membiarkan sang istri merebahkan tubuhnya diatas kasur. Fryan membantu untuk membenarkan posisi bantal yang dipakai Dini agar nyaman, lalu ikut duduk disamping Dini sembari mengusap-usap punggung sang istri dengan sangat lembut.
__ADS_1