Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 18 : Sejuta Persen Serius


__ADS_3

''Tumben pagi-pagi di hari Minggu udah rapi..'' sindir ayah Wildan lalu menyeruput kopi hitamnya.


''Mau ajak jalan calon bini nih Yah..'' jawab Fryan sambil menyemprotkan parfum.


Ayah langsung memicingkan matanya.


''Siapa?''


''Kak Dini lah..''


''Hah? Buahaha kepedean..'' ledek ayah dengan gelak tawanya karena menganggap putranya tengah bergurau saja.


''Kasian sekali kak Dinimu, duh, duuhhh.. haha '' lanjutnya masih dengan gelak tawa.


Fryan yang merasa tersinggung dengan ledekan ayah langsung menghampiri ayah.


''Apa Ayah masih melihatku sebagai anak kecil yang belum bisa memiliki keseriusan?'' tanya Fryan dengan tatapan serius.


''Apa maksudmu Fryan?''


''Apa Ayah lupa kalau aku bukan anak kecil lagi, aku sudah bisa mencintai seorang gadis Yah, siapapun itu, sekalipun gadis itu adalah kak Dini, apa itu salah?'' tanya Fryan.


Sejenak Ayah terkejut dengan perkataan Fryan yang tak biasa ini.


''Apa kamu serius dengan perkatanmu itu?'' tanya ayah.


''Sejuta persen serius, bahkan tak terhingga angkanya.'' jawab Fryan.


''Bagaimana kalau Dini tau? apa dia mau sama kamu? Dini selalu menganggap kamu itu adiknya sendiri, Fryan.. sepertinya sulit.'' keluh ayah.


''Makanya ayah support dong, jangan patahin semangatku..'' gerutu Fryan.


''Haduh anak kecilnya ayah ngambek lagi.'' ledek ayah.


''Dahlah, Fryan mau jalan dulu..'' pamit Fryan


''Iya hati-hati, semangat anak bujang..'' ujar ayah sambil mengangkat jempolnya.

__ADS_1


''Siap ayahku, ayah juga semangat kenalin calon ibu sambung haha..'' kata Fryan langsung berlari keluar rumah.


''Apa maksudmu Fryan, hey tunggu.. dasar anak kecil..'' seru ayah.


Fryan hanya cekikikan diluar karena berhasil meledek ayahnya.


Ia sendiri juga tidak menyangka, ternyata hatinya bisa mencair juga untuk urusan pribadi sang ayah.


Bahkan Fryan sendiri tak menyadari sejak kapan hal itu bermula, ia hanya merasakan tidak timbul amarah lagi ketika sang ayah sering membahas tentang ibu sambung bersama ARTnya meskipun dengan guyonan.


Iya, semenjak Nita menikah dan di boyong oleh sang suami, terpaksa sang ayah mencari pekerja untuk bekerja dari pagi hingga sore saja dan diliburkan jika akhir pekan, seorang wanita paruh baya yang rumahnya tidak jauh dari kediamannya.


''Haha ayah, ayah..''


Di perjalanan, Fryan masih saja terbayang ekspresi kekesalan sang ayah karena ulahnya.


-


''Assalamu'alaikum..''


''Wa'alaikumussalam..''


''Nggak sabar ya jalan sama bocil cakep?'' tanya Fryan sambil mendekatkan wajahnya.


''Idih kepedean, laki-laki tuh yang di pegang omongannya, KONSISTEN!!'' kata Dini diakhiri penekanan.


''Iya maaf Kakak sayang, nanti deh aku jelasin sambil jalan.'' bisik Fryan.


''Kok nggak disuruh masuk to yaaa??'' seru Ibu dari dalam.


''Ini Bu-'' ucapan Fryan terpotong karena di bungkam oleh Dini.


''Nggak perlu Bu, mau langsung jalan aja, assalamu'alaikum..'' teriak Dini dari depan.


''Wa'alaikumussalam..'' jawab ibu dengan berteriak karena tengah sibuk dengan pesanan kue dan tak bisa meninggalkan para senjatanya.


Dini masih membungkam mulut Fryan dengan tangan satunya menyeret lengan Fryan.

__ADS_1


Bukannya melawan, Fryan justru pasrah sambil memandangi yang sedang menyeretnya.


''IH JOROKKK!!!'' Bentak Dini.


''KENAPA DIN??'' Teriak Ibu.


''Nggak papa Bu, ada ulet.'' jawab Dini ikut berteriak.


Fryan hanya cekikikan lalu membukakan pintu untuk Dini.


''Silakan nyonya Afryan hehe'' ujarnya.


Dini langsung masuk dengan ekspresi wajah yang kesal karena telapak tangannya dijilat oleh Fryan.


''Bau ya Kak? Hum hum iya bau nih..'' godanya dengan menarik paksa telapak tangan Dini dan menghirupnya.


Fryan mengambil tisu basah yang ada di dasbornya.


''Sebagai adik yang baik hati dan bertanggung jawab lahir bathin.. sini di elap dulu biar wangi.'' ujarnya.


''Bawa sini tisunya, bisa ngelap sendiri.'' tolak Dini.


''No no.. dilarang keras untuk menolak sebuah pertanggungjawaban.''


''Yaudah buruan..''


''Sabar sayang.''


Fryan mengambil selembar tisu basah dan membersihkan telapak tangan Dini yang terdapat bekas jilatannya sendiri, meskipun dalam hatinya cekikikan.


''Haahh wanginyaaa... huummmm..'' Fryan menghirupnya lagi dan sesaat kemudian Dini menarik tangannya dengan cepat.


''Perasaan macam apa ini? kenapa aku jadi deg-degan?'' batin Dini kesal, ditambah melihat Fryan yang senyum-senyum terus tanpa rasa berdosa.


''Ini jadi jalan apa mau disini aja?'' protes Dini.


''Siaaap, mari kita jalan..''

__ADS_1


Fryan menghidupkan mesin mobilnya dan melaju ke arah tujuannya.


__ADS_2