
^^^Hai hai everyone👋^^^
^^^( Cie gaya ne sok bahasa Inggris🤣 )^^^
^^^Sebelum melanjutkan kisah Afryan dan Nandini, serta lainnya, author mau mengucapkan terimakasih kepada semua yang sudah mampir ke karya receh ini, semoga dari karya receh bisa menjadi karya jutaan^^^
^^^AAMIIN paling serius🤲^^^
^^^Jujur nih author terharu banget, semoga tidak pada bosen ya, do'akan authornya nggak kehabisan ide hehe^^^
^^^Maaf kalau kata-katanya belum terlalu luas, karena authornya menulis sesuai dengan kemampuan author😁^^^
^^^Tapi eh tapiii.. authornya akan terus belajar untuk lebih baik, selalu menerima saran dan kritik dari segala sisi, asalkan jangan di bully ya.. soalnya authornya cengeng nih, lihat ayam di sembelih aja mewek, padahal doyan banget sama dagingnya🤭^^^
^^^eh maapkan malah curhat🤭^^^
^^^Okelah sekian dulu, intinya author mengucapkan banyak-banyak TERIMAKASIIHH 🙏💞^^^
MARKIJUUUTT
MARI KITA LANJUTT 📝
#####
''Pasti bisa..'' Dini memberikan semangat kepada Fryan sebelum masuk ke dalam ruang operasi.
''Kencengin do'a.'' jawab Fryan lalu memberikan senyuman.
Jantungnya terasa semakin kencang berdetak, matanya terasa berat. Namun, ia akan terus terlihat kuat di depan semua orang.
Orangtua Dini dan juga orangtua Nita sudah hadir, mereka langsung meluncur begitu mendapat kabar dari anak-anaknya.
''Ayah, Mama.. maafin Dini ya.'' ujar Dini sesenggukan.
''Sudah-sudah, semua ini musibah, tidak pernah ada yang tau, sekarang kita fokuskan do'a untuk kelancaran operasi Fryan ya..'' ujar ayah Wildan.
__ADS_1
''Kamu juga kelihatan masih pucat, jangan mikir yang berat-berat dulu..'' timpal Mama.
''Sudah Dini, sudah..'' ayah Wahyu mengusap pundak putrinya yang masih sesenggukan.
Sebenarnya kedua pasangan orangtua ini juga di penuhi rasa penasaran dan ingin mendengar penjelasan sejelas-jelasnya, karena kabar yang diberikan Ali dan Nita hanya kabar mentahan saja.
Namun melihat kondisi putra putrinya membuat mereka tidak tega.
''Makan lagi ya..'' ibu kembali menawarkan suapan kepada putrinya, lagi-lagi Dini menggelengkan kepala pelan.
''Kamu harus sehat Dini, katanya mau jagain Fryan..'' timpal Ali.
Perkataan Ali membuat Dini berpikir sejenak.
''Sini piringnya Bu, aku mau makan sendiri..'' pinta Dini.
Dini menyuapkan pelan-pelan makanan ke mulutnya hingga habis tak tersisa.
Semua terlihat senang akhirnya Dini mau menjaga kesehatannya sendiri.
-
Satu jam lebih menunggu kabar Fryan, semua hening dalam pikirannya masing-masing.
Tentu saja rasa khawatir mereka sangat tinggi, terutama untuk Dini, ia yang selalu merasa menjadi penyebab utama terjadinya insiden ini membuatnya tidak tenang.
Tiba-tiba handle pintu ruang operasi terbuka, membuat semua langsung spontan berdiri.
''Gimana dokter?'' tanya ayah Wildan karena posisinya paling dekat dengan pintu.
''Syukur alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar.'' ucap dokter tersebut.
''Alhamdulillaah..'' semua berucap lega.
''Sebentar lagi pasien akan di bawa ke kamar rawat inap ya, mohon bersabar..'' ucap dokter.
__ADS_1
''Baik dokter, terimakasih..''
Dokter tersebut langsung meninggalkan keluarga pasien dan kembali masuk ke dalam.
Beberapa menit kemudian, dua perawat mengantarkan Fryan ke kamar rawatnya, para keluarga hanya bisa mengikuti di belakang.
-
Malam hari di rumah sakit, masih dengan formasi lengkap, belum ada yang hendak meninggalkan.
Makan, minum, beribadah mereka kerjakan di rumah sakit sejak pagi.
''Maaf sebelumnya, saya harus membahas ini..'' ucap Nita memulai perbincangan setelah makan malam.
''Ada apa Nita?'' tanya ayah Wildan.
''Maaf Yah, bukannya aku sama bang Aldo tidak peduli dengan Fryan, tapi, bang Aldo juga memiliki tanggung jawab, begitupun kak Ali.
Kami sudah membahas ini tadi di pagi, ternyata kak Ali juga pulangnya lusa, bahkan sudah pesan tiket pesawat.''
''Iya Yah, aku juga tidak tau jika ada kejadian seperti ini..'' timpal Ali.
''Ayah nanti yang akan menjaga adik kalian, kalian jangan khawatir.'' jawab Ayah santai.
''Kita bisa gantian nak..'' sahut ibu melihat ekspresi tidak tega Nita meninggalkan adiknya.
''Ibu kan juga harus jaga Dini..'' ujar Nita melihat wajah sendu Dini.
''Sudah-sudah jangan pada bingung, aku bentar lagi sehat.'' sahut Fryan.
''Nikahkan aku dengan Fryan.''
''APA??!!''
Semua mata tertuju pada Dini yang sedari tadi terdiam dengan wajah sendu, tiba-tiba mengeluarkan suara yang membagongkan.
__ADS_1