
Suasana pagi hari di lantai dasar sudah mulai bising dengan banyaknya kendaraan yang datang dan pergi untuk mencari keperluannya.
Para karyawan yang mengenakan seragamnya selalu cekatan terhadap apa yang di keluhkan para pengendara.
Ada yang hanya mencari sparepart dan ada pula yang membenahi kerusakan.
Dini turun dari lantai dua setelah mengontrol KaDin, sementara saat masih di tangga ia melihat Bagas datang langsung menuju rumah.
Mungkin saja ia tengah memiliki keperluan dengan Fryan. Kebetulan Fryan masih berada di rumah karena sedikit kurang enak badan.
Melihat Bagas turun dari motor, Dini langsung mempercepat langkahnya.
''Hey Bagas..'' sapa Dini.
''Eh.. Hey, Dini.. dari mana?'' tanya Bagas sambil melepaskan helmnya.
''Biasalah main-main di atas.'' tunjuk Dini pada lantai dua.
''Oh, katanya Fryan sakit?''
''Iya, ayo masuk..'' ajak Dini.
''Iya..'' jawab Bagas lalu mengikuti langkah Dini.
Dini mempercepat langkahnya lalu membuka pintu dan langsung mempersilahkan Bagas untuk duduk di sofa.
Sedangkan ia langsung ke kamar memanggil sang suami.
''Fryan..'' panggil Dini pelan.
''Hemm..'' jawab Fryan yang masih berkutat di bawah selimut.
''Ada Bagas, turun bentar yuk ..''
''Males.'' jawab Fryan tetep posisi meringkuk.
''Ehh kok gitu? nggak boleh gitu.. nggak baik juga kan belum ada jam 10 sudah di bawa tidur..'' omel Dini langsung menarik paksa selimut yang menutupi tubuh suaminya.
''Pengen peluk..'' rengek Fryan dengan manjanya.
''Ihhh..''
''Mau nen3n..'' rengeknya lagi langsung berhasil membuat Dini membelalakkan kedua matanya.
''Kapriii!! kamu beneran sakit nggak sih?!''
__ADS_1
''Beneran sayang.. panas nih, nih..'' ujar Fryan membuktikan dengan menempelkan tangan Dini ke kening dan juga pipinya.
Dini menghela nafasnya lalu membuang pelan.
''Ayo turun bentar, kasian Bagas nungguin..'' paksa Dini.
''Gendong..'' rengek Fryan dengan mengatungkan kedua tangannya.
''ASTAGHFIRULLAH HAL'ADZIIM.. nanti aku jatuh Kapriii.. mana kuat..'' gerutu Dini kesal menghadapi manja sang suami.
''Kan udah jatuh.'' jawab Fryan.
Dini mengernyitkan keningnya berfikir.
''Mana ada..'' protes Dini.
''Jatuh cinta sama aku hahaha''
Fryan langsung bergegas turun dari ranjang setelah berhasil menjahili sang istri.
Meskipun kesal dengan sang suami, mendengar perkataan Fryan terasa tidak ada yang salah.
Ia memang sudah jatuh cinta kepada suaminya, ntah sejak kapan rasa itu benar-benar tumbuh di dalam hatinya.
Dini hanya bisa menyimpulkan dari hatinya yang selalu menginginkan Fryan, bahkan sudah siap memiliki keturunan.
Beberapa saat terdiam mematung di tepi ranjangnya, Dini langsung bergegas turun ke bawah untuk membuatkan minuman.
''Sakit apa bos?'' tanya Bagas.
''Demam biasa, kebanyakan asupan gizi haha.'' jawab Fryan lalu diikuti gelak tawanya
''Semprul lu.. pura-pura sakit ya?'' selidik Bagas.
''Enak aja lu! sakit beneranlah.'' sungut Fryan.
''Ada apa lu pagi-pagi udah kesini?''
''Hampir jam 10 ini, bukan pagi, gue kesini jenguk bos kesayangan..''
''Cih dasar! Tapi, kata bini gue ini masih pagi karna belum ada jam 10.''
''Lah jam segini kalau lu pake buat molor ya jelaslah masih pagi, mau nambah sakit apa gimana..'' protes Bagas yang menyetujui perkataan Dini.
''Do'ain yang baik-baik bisa kaliii..'' sungut Fryan.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, Dini datang dan langsung meletakkan dua gelas di atas meja.
''Sayang sini..'' suruh Fryan menepuk sofa kosong di sebelahnya.
''Btw, hasil dokumentasi kalian sudah selesai di edit sama Bagus. Dan sorry banget malam itu gue nggak bisa hadir.'' ujar Bagas.
''Dokumentasi apa? dan kayaknya kita nggak abis bikin acara deh..'' ujar Dini bingung.
''Waktu Fryan nyanyiin buat kamu Din..'' jawab Bagas.
''Ohhh jadi.........'' Dini langsung menepuk paha suaminya yang merencanakan sesuatu dengan sangat berhasil.
''Suka kan??'' tanya Fryan langsung mengusap rambut sang istri.
''Aku beneran nggak tau Gas..'' ujar Dini.
''Namanya juga kejutan Din..''
''Oohh iya juga hehe.''
''Lu sampai sekarang masih jomblo ada bro..'' timpal Fryan.
''Gue santai aja.'' sahut Bagas.
''Ohya, gue tiba-tiba keinget waktu dulu banget kayaknya lu pernah cerita ketemu sama cewek kan dan lu tertarik banget sama tuh cewek. Terus gimana kisah lanjutannya? selama ini udah pernah ketemu lagi apa belum?''
Uhuk uhuk
Pertanyaan Fryan membuat Bagas langsung tersedak oleh minuman yang baru saja ia seruput.
Setelah sekian lamanya pertemuan dan cerita itu, kenapa tiba-tiba Fryan mengingatkannya lagi.
Bahkan momentum yang sangat tidak tepat berhasil membuat Bagas gugup sendiri.
''Lu kenapa dah?'' tanya Fryan.
''Nggak papa, gue udah lupa sama tuh cewek.'' jawab Bagas dengan menatap Fryan dan menatap Dini sekilas.
''Pasti dia cantik dan baik banget ya Gas? sampai-sampai kamu langsung tertarik sama dia.'' timpal Dini, ia benar-benar belum menyadari pertemuannya dengan Bagas hari itu.
''Iya, dia cantik, baik, pinter, selalu peduli sama siapapun.'' jawab Bagas dengan senyuman hambar.
''Ehhh ngapa lu jadi senyum-senyum ke bini gue?'' protes Fryan.
''Kaprii.. kan Bagas lagi jawab pertanyaanku, ya wajar dong kalau sambil senyum, masa sambil marah-marah?'' protes Dini dengan suara lirih.
__ADS_1
''Emang bener gitu?'' tanya Fryan menatap Bagas untuk mencari pembenaran.
''Pastinya.'' jawab Bagas.