Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 51 : I Love You


__ADS_3

Sekarang Dini dan Fryan benar-benar berada di bawah atap yang sama dan hanya berdua.


''Sekarang Bagas dimana? katamu rumah ini di jaga sama dia.'' tanya Dini setelah orangtua mereka sudah pulang satu jam yang lalu.


''Aku usir dong.. masa iya dia jadi nyamuk, kan kasian Sayang.''


''Kok kamu tega banget sih Kapri..'' tuduh Dini.


''Jadi kamu lebih sayang Bagas daripada suamimu?'' tanya Fryan.


''Nggak dua-duanya.'' jawab Dini lalu berjalan ke dapur.


Dini akan mencuci piring setelah mereka makan siang tadi bersama orangtua.


Fryan terkekeh gemas melihat mimik wajah Dini yang tiba-tiba manyun, ingin rasanya langsung melahapnya sekarang juga.


''Mau di bantuin nggak?'' tanya Fryan tiba-tiba berdiri di belakang Dini dan melingkarkan tangannya di perut Dini.


Dini terkejut dengan sentuhan itu dan membuat tubuhnya bergidik ngeri, untung saja sendok dan piring yang sedang ia pegang tidak melayang ke wajah sang suami yang menelusup ke lehernya.


''Kapri! Kalau aku kaget terus piring ini melayang gimana?'' seru Dini.


''Tanggung jawab dong.'' jawab Fryan santai tanpa bergeser sedikitpun.


''Ishh minggir dulu, ini susah geraknya!'' gerutu Dini sambil mengangkat-angkat bahunya agar Fryan memundurkan kepalanya.


Bukannya merasa bersalah, Fryan justru semakin mengeratkan pelukannya dan menciumi leher sang istri.


''Ini juga susah tuh, nggak mau pergi.'' bisik Fryan dengan suara menggoda Dini.


Sebagai manusia normal, tentu saja Dini merasakan tubuhnya ter4ngsang. Tetapi sampai detik ini bibirnya selalu mudah menolak karena selalu terbayang menjadi sosok kakak untuk Fryan.


Demi menghindari tubuhnya yang merinding, Dini cepat-cepat menyelesaikan tugasnya agar bisa terlepas dari pelukan suami.


Setelah selesai, Dini mengeringkan tangannya dengan kain lap khusus yang tergantung di depannya dan bersiap-siap kabur.


''Hayoloo mau kabur kemana haha..'' tanya Fryan yang tidak bisa menahan gelak tawanya karena berhasil menahan tubuh sang istri.


Dini mendengus kesal karena gagal, tetapi tetap dengan berusaha melepaskan lingkaran tangan Fryan di perutnya.

__ADS_1


''Kakak mau bersih-bersih, lepasin Kaprii!'' pekik Dini.


Mendengar kata yang sudah dilarangnya membuat Fryan merasa memiliki kesempatan untuk menjahili sang istri lagi, ia memutar tubuh Dini agar berbalik menghadapnya.


''Biasa aja kali nggak perlu di tutup pake tangan gitu.'' protes Fryan saat melihat Dini menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


''Kamu kenapa sih nemplok terus, kayak cicak..'' gerutu Dini tanpa menatap suaminya.


''Karena ada yang harus menerima hukuman.'' jawab Fryan.


''Hah hukuman? siapa?'' tanya Dini bingung.


''Siapa yang ngebolehin nyebut Kakak lagi hem?'' tanya Fryan langsung memajukan wajahnya.


''Aku nggak bilang gitu.'' jawab Dini takut.


''Kamu ngarang!'' imbuhnya.


''Oooo nggak ngaku.. hukumannya ditambah.'' kata Fryan.


''Apaan hukuman-hukuman, aku nggak sadar, mungkin keceplosan Fryan, maaf..'' ucap Dini was-was mendapatkan serangan.


''Kamu kenapa sih kayak anak kecil?'' gerutu Dini lalu mendengus kesal dengan kelakuan suaminya.


''Emmmm tentunya karna mau manja sama istri, terus mauuu... ohh kan anak kecil ya?? jadi aku mau nen3n biar cepet gede.'' kata Fryan sambil mengedipkan kedua bola mata berkali-kali ke aset kembar sang istri yang tertutup.


Benar-benar seperti anak kecil yang meminta jatah ke emaknya.


Menjahili sang istri membuat imunnya terasa terus membaik.


''KAPRIIIIIIIIII!!!'' seru Dini membuat Fryan langsung menutup kedua telinganya karena seruan Dini kali ini sangat keras.


''Awas ya kalau macem-macem!'' ancam Dini kemudian berjalan menuju kamar.


Fryan berusaha menahan gelak tawanya karena berhasil menjahili Dini.


Melihat istri berjalan ke arah kamar, Fryan langsung menyusul.


''Sekarang jahil-jahil dulu, nanti beneran hihi..'' gumam Fryan lalu membuka pintu kamar.

__ADS_1


Dini hanya melirik sekilas melihat suaminya masuk ke dalam kamar, lalu kembali fokus melihat ponselnya.


Fryan langsung menghampiri sang istri yang duduk di sofa dengan wajah di tekuk.


''Sayaang..''


''APA''


''Udahan ngambeknya, damai please.. maafin aku ya.'' pinta Fryan.


Dini hanya melirik sekilas dan tetap terdiam.


''Sayang, sampai kapan kita kayak gini terus? beneran kan mau serius sama pernikahan ini?'' tanya Fryan mengubah nada bicaranya menjadi serius.


Dini terhenyak mendengar pertanyaan sang suami, memang salahnya karena menolak melakukan kewajibannya untuk memberikan pelayanan kepada suami.


Tapi, kenapa rasa itu masih sangat berat, rasanya masih seperti kakak yang menyakiti seorang adik. Bayangan itu selalu memenuhi pikiran Dini.


''Sayang..'' panggil Fryan lagi.


''Hah iya maaf, maafkan aku..'' kata Dini.


Fryan tersenyum lalu meraih dan menggenggam tangan Dini.


''Aku maklumi perasaan kamu, tapi, perlu digarisbawahi, jangan terus-terusan menuruti bayangan kalau aku seorang adik, aku sekarang suamimu, aku milikmu seutuhnya, begitupun juga kamu.. semua yang ada di dirimu itu tanggungjawab dan hakku.''


''Bukankah hal yang wajar kalau aku meminta hakku sebagai seorang suami?'' tanya Fryan menatap lekat.


''Tapi..''


''Iya aku tau itu masih berat, tapi, tolong jangan selalu berontak sayang, terima semua itu pelan-pelan, aku tau bibirmu selalu menolak, tetapi reaksi tubuhmu itu berbeda, jangan siksa diri kamu sendiri sayang.


Apa mungkin kita menjalani rumah tangga selamanya tanpa berhubungan layaknya suami istri? apa kamu nggak pengen punya keturunan hem?''


Dini menghela nafas panjang mendengar kalimat suaminya yang sangat penuh makna.


''Maaf..'' hanya kata itu yang mampu keluar di bibir Dini karena ia menyadari memang kesalahannya, tak terasa airmata sudah memenuhi pelupuk matanya.


''Udah-udah jangan nangis, aku akan nunggu sampai kamu bener-bener siap. Maafin aku ya.. udah ya nangisnya.'' Fryan mengusap pipi Dini yang mulai basah dan langsung membawa ke pelukannya.

__ADS_1


''I love you..'' ucap Fryan di sela-sela menenangkan sang istri yang masih terisak di dalam pelukannya.


__ADS_2