
"Jatuh cinta perlu kepercayaan diri, dan aku cinta sama Kak Dini dari dulu, sekarang, hingga nanti.. percaya kalau suatu hari nanti kak Dini juga akan mencintaiku." kata Fryan menatap Dini seraya mengusap puncak kepalanya sekilas dan kembali fokus pada kemudinya.
Dini terdiam mencerna ucapan Fryan.
**
''Nitaaaaa.. sumpah kangen pake banget..'' Dini langsung memeluk Anita yang sudah di beritahu jika hampir tiba.
''Samaaa.. makin cantik aja calon---'' Nita menggantungkan kata-katanya karena mendapat tatapan tajam dari sang adik.
"Calon apa?'' tanya Dini mengurai pelukan mereka.
"Calon orang sukses doong..'' jawab Nita cekatan, Fryan langsung mengacungkan jempol kepada kakaknya.
''Oh..AAMIIIINNN..'' kata Dini.
''Huhhh.. untung langsung nemu jawaban yang masuk akal.'' batin Nita lega.
Nita langsung mengajak Dini untuk masuk ke dalam, menemui Aldo dan juga ayahnya.
''Lamanya nggak ketemu..'' kata ayah.
''Hehe iya Yah, Nita sih pake di bawa menjauh sama bang Aldo.'' sindir Dini lalu melirik Aldo.
''Namanya istri patuh suami ya kayak gitu Din..'' seru Aldo.
''Nanti kamu juga gitu kalau sudah nikah haha..'' imbuhnya.
''Bener tuh..'' sahut Ayah.
''Apa sih kok malah balik ke Dini, bahas yang lain aja..'' Dini merasa canggung, apalagi Fryan malah terpantau sumringah.
--
''Ayah jalan dulu ya..''
''Ok yah, hati-hati..'' jawab Nita.
Ayah berangkat terlebih dahulu karena harus menjemput seseorang, sedangkan Dini dan Nita tengah berdandan tipis-tipis.
''Kita semobil aja kan?'' tanya Aldo.
''Iya sayang.'' jawab Nita.
''Idiih sayang- sayangan di depan jomblo, nggak sopan, kasian tuh kak Dini udah mau nangis..'' celetuk Fryan sengaja menggoda Dini.
''Enak aja, kamu sendiri tuh yang mau nangis..'' sahut Dini tidak terima.
''Kak Dini.. wleee''
__ADS_1
''Kapri.. wleee''
''Dini, Fryan.. kenapa jadi pada kayak bocah..'' seru Nita.
''Tau tuh kak Dini..''
''Kamu..''
''Kak Dini..''
''Kamu..''
''Hoee udah!! ayok jalan atau gue nikahkan sekarang juga nih kalian berdua..'' seru Aldo membuat keduanya langsung terdiam.
''Aku sih yes..'' kata Fryan santai.
''Aw!'' pekik Fryan mendapat timpukan di lengannya.
''Ayo Nit jalan sekarang..'' ajak Dini.
Nita menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dini dan Fryan, tetapi lebih suka melihat seperti ini daripada saat Dini menjadi dingin.
--
Mereka tengah berada di salah satu restoran di pusat kota.
Mereka saling berkenalan satu per satu, awal perjumpaan wanita itu sudah terlihat aura bersahabat.
''Semoga memang pilihan yang tepat untuk ayah.'' batin Fryan.
''Ohya, maaf Tante, menurut cerita dari Ayah.. katanya Tante memilik seorang putri ya?'' tanya Nita.
''Iya betul, dia belum ada jadwal libur, dan tidak disini juga..'' jawab wanita bernama Mutia itu.
''Oh gitu.. semoga lain waktu bisa ketemu ya Tan..'' kata Nita.
''Aamiin.. pasti kalau liburan nanti Tante ajak kesini.'' jawabnya seraya tersenyum.
''Aura Tante Mutia sangat meneduhkan, pantas saja ayah Wildan langsung tertarik, semoga ini jodoh yang memang dipersiapkan Tuhan untuk ayah..'' batin Dini menatap wanita itu yang tengah tersenyum.
Dini hampir saja berteriak saat tiba-tiba ada yang menarik tangannya, siapa lagi pelakunya jika bukan si kacang kapri.
Dini sedang fokus memperhatikan perbincangan mereka dengan meletakkan tangan di pangkuannya, tetapi saat itu Fryan malah sengaja meraih tangan Dini dan menggenggam erat.
Hampir saja berteriak, beruntung dengan sigap ia menetralkan ekspresi wajahnya seolah tidak ada apa-apa.
Dini hanya bisa pasrah ketika Fryan menggenggam tangannya dan mengusap lembut daripada ketahuan yang lain.
''Andaikan setiap hari bisa menggenggam tanganmu tanpa harus melalui sebuah paksaan..'' batin Fryan.
__ADS_1
--
Acara makan malam sudah selesai, tanpa sepengetahuan Dini, Nita sudah mengabari kedua orangtua Dini bahwa putrinya akan menginap di rumah ayah Wildan karena sedang ada acara dan selesai malam.
''Din, nginep di rumah aja ya? ini udah malem, kasian ibu nungguin, aku juga udah ngabarin sih kalau kamu nginep di rumah, besok pagi kita antar, sekalian temu kangen sama ibu..'' ujar Nita.
''Kalau aku nggak mau gimana?''
''Diiin.. pleaseeee..''ucap Nita memohon.
''Haha iya deh iya..'' jawab Dini.
''Makasiihhh my lovely sister...'' ucap Nita gembira.
"Terus apa jawab ibu pas kamu bilang aku nginep? kok kamu nggak izin dulu sih.." tanya Dini pura-pura cemberut.
"Maafff Din, inikan udah malem, terus kamu kan pasti mau nginep di rumah hehe.. kata ibu sih nggak papa, di tunggu besok, maafin ya.."
"Haha iya-iya, kayak nggak paham aja." Dini dan Nita langsung berpelukan di bangku belakang.
"Dih peluk-pelukan.. bang, peluk gue bang.." Fryan menengadahkan tangan kepada Aldo.
"OGAH!! mending meluk bini gue lah.." seru Aldo langsung mengedipkan matanya ke arah Nita.
"Ishh jangan gitu sayaang, kasian dua manusia jomblo ini.." sahut Nita.
"Mulai deehh.." gerutu Dini.
"Kagak dengeeeerrr." Fryan langsung menaikkan volume musik, sedangkan Aldo dan Nita menahan gelak tawanya.
Setelah acara makan malam selesai, mereka melanjutkan pergi nonton berempat.
Menghabiskan waktu sebelum Nita pulang.
Beberapa menit di perjalanan, kebiasaan Dini yang sering merasa ngantuk jika berada di dalam akhirnya tertidur.
Ia duduk berdampingan dengan Nita, sedangkan Fryan yang memegang kemudi, karena tadi berangkatnya sudah Aldo.
''Enak bener nih anak udah ngorok..'' ujar Nita.
''Eh eh calon bini gue jangan di ganggu!'' kata Fryan menengok sekilas.
''Dih siapa yang ganggu, cuma ngomong.. fokus aja nyetirnya biar calon adik ipar nggak kejedug.'' sahut Nita.
''Kakak adik sama aja gede halunya, awas loh yang di omongin lagi pura-pura tidur..'' timpal Aldo.
''Ssttt iya bener, hati-hati kalau ngomong hihi.'' bisik Nita.
Fryan juga langsung terdiam dan fokus dengan kemudinya menuju arah pulang ke rumah.
__ADS_1