
''Apa sudah waktunya melahirkan Dok?'' tanya Dini yang ditemani oleh Fryan ke dokter kandungan karena sejak pagi Dini merasakan perutnya sakit, namun hanya sebentar lalu hilang, dan beberapa jam kemudian mulai lagi.
''Sepertinya iya sudah mendekati, HPL itu kan hanya perkiraan, bisa maju dan bisa mundur.'' terang dokter.
''Sejak kapan rasa sakitnya terasa?''
''Tadi pagi Dok.'' jawab Dini.
''Oke.. Ibu jangan panik ya, pikiran harus tetap positif, karena itu juga berdampak pada kandungan, dan untuk Bapak juga harus siap siaga mendampingi istri..'' saran dokter.
''Baik Dok..'' jawab Fryan dan Dini bersamaan.
Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter dan beberapa saran, Dini dan Fryan memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.
''Loh ibu sejak kapan datangnya?'' tanya Dini.
''Ayah mana?''
''Baru setengah jam, ayah besok nyusul, Ibu sendirian kesini naik taksi.'' jawab ibu.
''Gimana? kata nak Pryan kamu udah mules-mules..''
Dini langsung melirik sang suami yang sedang nyengir.
''Dini aja nggak tau kalau Fryan ngabari Ibu.. nggak papa kok Bu, memang sudah mendekati, deg-degan hehe..'' ujar Dini.
''Ibu istirahat dulu aja..'' ujar Dini.
''Ibu nggak capek.. ohya, persiapan buat nanti persalinan sudah lengkap kah?'' tanya ibu.
''Sepertinya sih udah Bu, tapi, boleh deh Ibu bantuin ngecek, siapa tau ada yang kurang.''
Fryan menuntun sang istri untuk kembali naik ke kamar, jalannya sudah semakin pelan-pelan karena harus sangat berhati-hati.
Di dalam kamar, Fryan mengeluarkan semua keperluan dan ditunjukkan kepada ibu. Ibu memeriksa satu persatu, dan menyarankan beberapa perlengkapan yang menurutnya kurang.
..
Dini kembali merasakan sakit ditubuhnya saat malam hari, ia semakin tidak bisa tidur, bergerak ke kanan ke kiri dengan isak tangis yang berusaha ia tahan. Ibu tidur di kamar bawah bersama dengan Linda, sehingga tidak mengetahui jika Dini tidak bisa tidur.
''Fryan, Fryan..'' Dini menggoyangkan bahu sang suami agar bangun.
''Hmmm..'' Fryan mengusap kedua matanya yang sangat lengket.
Namun saat melihat sang istri tidak bisa tenang, ia langsung duduk dan panik, sehingga rasa kantuknya hilang.
''Sayang, sakit lagi? ke rumah sakit aja ya..'' ajak Fryan.
''Iya, nggak bisa tidur..'' jawab Dini dengan masih terisak.
Fryan langsung beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka.
''Aku ke bawah bentar ya bangunin Ibu..''
Dini hanya membalas dengan anggukan kepala.
Fryan mempercepat langkahnya untuk turun ke bawah, saat tiba dipijakan terakhir, kebetulan ibu juga pas keluar kamar.
''Ada apa nak?'' tanya ibu.
''Itu Bu, Dini ngerasa sakit lagi, malah nggak bisa tidur, ini rencananya mau aku bawa ke rumah sakit aja, Ibu bisa ikut kan?''
''Yaudah ayok sekarang aja..''
Ibu langsung setengah berlari keatas, Linda yang mendengar suara orang berbicara langsung keluar kamar dan ikut membantu persiapan bosnya akan ke rumah sakit.
''Hati-hati dirumah ya Lin, pintunya dikunci semua..'' ujar Dini.
''Iya Kak.. semoga lancar ya lahirannya..'' ucap Linda.
''Aamiin.. yaudah kita jalan dulu..''
Fryan mengendarai mobilnya sendiri, ibu menemani Dini di bangku belakang. Berusaha menenangkan putrinya yang terus terisak.
Tak dipungkiri jika Fryan sangat panik dan gugup, jika ada teman, pasti dia memilih untuk tidak menyetir. Ibu juga selalu memberi pesan kepada menantunya itu untuk terus fokus dan hati-hati.
RSIA
Pemeriksaan awal telah dilakukan oleh dokter dan timnya, waktu yang sangat tepat Fryan membawa Dini ke rumah sakit meskipun keadaan masih tengah malam yaitu jam 23.45 tiba di rumah sakit.
''Iya ini sudah waktunya, yakin mau secara normal?'' tanya dokter memastikan.
Dini mengangguk tanpa ragu.
__ADS_1
''Iya Dok, saya usahakan normal karena setiap periksa tidak ada kendala apapun.'' jawab Dini.
''Baiklah.. karena Ibu tetap yakin untuk melahirkan secara normal, jadi yang harus dilakukan saat ini adalah menjaga pola pikir agar tidak panik berlebihan, dibawa gerak-gerak ringan dulu..'' ujar dokter cantik yang berhijab itu.
''Baik Dok..''
Fryan selalu setia mendampingi sang istri untuk menggerakkan tubuhnya di depan ruang bersalin. Meskipun rasa kantuknya masih menyerang, Fryan tetap semangat, bahkan ia tidak mengizinkan ibu untuk bergantian karena kasian juga.
Satu jam kemudian, rasa ngilu yang campur aduk semakin Dini rasakan. Ia menangis tersedu-sedu merasakannya.
Seorang dokter yang memeriksa dan memastikan Dini akan segera melahirkan langsung memanggil timnya yang sudah siap dengan peralatan medis mereka.
Ibu menunggu diluar ruangan bersalin karena memang tidak diizinkan untuk masuk, sedangkan Fryan diberi izin untuk mendampingi sang istri yang tengah berjuang di ruang bersalin.
Tak henti-hentinya Fryan menggenggam tangan sang istri sembari mengusap-usap rambutnya dengan lembut.
''Kuat sayang.. kuat ya..'' Fryan sendiri sudah tidak bisa menahan rasa harunya.
''Aaaaaaaa... huuuhhh huuuuuuhh..''
''Ayo tarik nafas lagi Bu.. pelan-pelan..'' ucap dokter.
Beberapa tarikan nafas belum berhasil mengeluarkan bayi yang dikandung oleh Dini.
''Kuat sayang..'' lirih Fryan.
''Kepalanya sudah keluar..'' ucap dokter.
Sesaat kemudian Dini menghentikan tarikan nafasnya lega.
''Alhamdulillah..''
Pukul 03.49 WIB Dini melahirkan bayi pertamanya.
Bayi mungil berjenis kelamin perempuan telah berhasil Dini lahirkan dengan lancar dan sehat.
Tak henti-hentinya Fryan dan Dini menangis terharu atas kepercayaan ini. Bayi perempuan yang cantik dengan berat badan 3,1 gr dan panjang 52 cm.
Tak lama kemudian, baby sudah selesai dibersihkan dan Fryan bersiap-siap untuk adzan.
''Assalamu'alaikum Nak..'' ucap Fryan lirih, airmata haru sudah memenuhi pelupuk matanya.
Selama mengumandangkan adzan, Fryan bersuara dengan sangat gemetar.
--
Kia yang izin dari sekolah dan pesantrennya sangat senang karena bisa menghadiri acara syukuran dirumah kakaknya.
''Namanya siapa Kak?'' tanya Kia penasaran.
''Eiitttss nggak boleh dibocorin, nanti aja haha..'' sahut Fryan melarang sang istri menjawab pertanyaan dari Kia.
''Ante Kia penasaran ya.. sabar dulu ya Ante cantikk..'' ujar Dini menirukan suara anak kecil.
Kia tidak henti mengajak baby untuk bermain, mengajaknya berbicara meskipun diterjemahkan sendiri apa jawaban dari baby.
Di halaman, tenda sudah dipasang dengan rapi, sedangkan di dapur cafe tengah disibukkan dengan aktivitas memasak untuk menu hidangan para tamu.
''Yaampun lucu banget sih ponakan gue..'' puji Nita gemas.
''Makasih Bude..'' jawab Dini.
''Bude banget nggak tuuhhh..''
''Lah iya emang Bude kan haha..'' ejek Fryan.
''Tua banget deh kesannya, panggil Tante jugalah..'' protes Nita.
''Dih nawar..'' protes Fryan.
''Udah-udah, panggilan aja pada ribut.. biar adil panggil aja Oma..'' ucap Dini santai.
''Parah nih emaknya bayi, sapa dah namanya???'' Nita ikut penasaran.
''Haha nantilah..''
''Dek, jangan ikutin kakak-kakakmu yang nggak bener ini..'' ujar Nita kepada Kia.
''Hehe Kakak-kakak lucu kok, rame..'' jawab Kia.
''Gemesin kan??'' tanya Fryan pede.
''Baby nya yang gemesin hehe.'' jawab Kia.
__ADS_1
Buahaha
Upss..
Nita dan Dini langsung menutup mulutnya karena kelepasan tidak bisa menahan gelak tawanya.
''Jujur banget adekku, good...'' puji Nita kepada Kia dengan mengacungkan jempolnya.
--
Acara syukuran pemberian nama sudah dimulai. Fryan menggendong putrinya dan membawa ke depan untuk dilakukan potong rambut. Do'a dan harapan tercurahkan untuk baby A.
...''ASHILLA NAHLA SANJAYA''...
Nama putri pertama dari Afryan Sanjaya dan Fadila Putri Nandini.
''Sorry banget bos, Din.. gue telat.. ban motor gue bocor waktu perjalanan kesini.." ucap Bagas yang datangnya super telat, disaat semua rangkaian acara sudah selesai, tinggal sesi makan-makan.
"Pinter lu datengnya pas tinggal makan.." canda Fryan.
"Woiya kah? beuuhh pinter banget motor gue.."
"Yaampun anak lu cakep bener.. padahal bapaknya biasa aja, untuk emaknya cakep ya sayang.." seloroh Bagas menatap baby yang masih digendong oleh Fryan. Rasanya ingin menggendong karena gemas, tapi, masih takut.
"Bisa aja lu.." sahut Fryan.
"Selamat ya kalian udah jadi emak bapak.." ucap Bagas.
"Terimakasih ya Gas.." jawab Dini.
"Kak, ini tisunya.." Kia menyerahkan tisu kepada Dini yang tadi meminta tolong untuk diambilkan.
"Loh?"
"Loh?"
Bagas dan Kia saling terkejut. Melihat ekspresi itu, Fryan dan Dini pun ikut saling memandang untuk mencari jawaban.
"Kenal?" Tanya Dini kepada Kia dan Bagas.
Keduanya langsung menggeleng.
"Kakak ini yang pernah Kia ceritain, yang bayarin minuman di cafe waktu hujan.." jawab Kia.
Bagas menahan rasa malunya karena pasti akan menjadi sasaran candaan Fryan.
"Kia itu adek gue, anak dari mama Tia. Awas lu jangan macem-macem!" ancam Fryan.
"Kagak Boss.. 1 macam aja boleh ya Dek." Bagas mengedipkan satu matanya dan langsung ditimpuk wadah tisu oleh Dini.
"Masih sekolah, masih mondok.." ujar Dini.
"Kakak tunggu sampai cukup umur Dek, asal kakak-kakakmu ini merestui.." ujar Bagas.
Kia tidak menjawab apapun selain hanya tersenyum malu-malu sembari menunduk.
"Restu selalu ada untuk lu Bro, asal bukan sama bini gue, apalagi nungguin anak gue.." ungkap Fryan menepuk bahu sahabatnya itu.
"Sialan lu.. tua banget gue nungguin anak lu.." sungut Bagas.
Dini dan Fryan langsung terkekeh, sedangkan Kia masih sangat malu-malu.
Semoga Kia adalah jawaban dari do'a-do'a baiknya Bagas selama ini, begitupun sebaliknya🤲
...####################################...
Hay Hay..
Alhamdulillah terimakasiihh sebanyak-banyaknya atas respon baiknya untuk tulisan receh Cimai. Kisah "Menikah Dengan Adik Sahabatku" sudah selesai ya🙏
Cimai pertama kali mempublikasikan tulisan pada tanggal 04 November 2021, sekarang tulisan ini dirilis pada tanggal 05 Maret 2022, tidak mudah ya karena sering kehabisan ide wkwk😂 mohon maaf karena selalu slow update. Selain ide, tugas di real life juga sering menyita waktu. Intinya author bersyukur bisa menyelesaikannya meskipun masih banyak sekali kekurangan, mohon dimaafkan ya😁 Luv ❤️
...###########...
Novel kedua Cimai sudah up ya 🙏
Mari mampir dan jangan lupa like nya 😍
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Janda Kembang Pilihan CEO Duda, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1782638&\_language\=id&\_app\_id\=2
__ADS_1