Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 91 : Apa Jangan-jangan?


__ADS_3

Dalam dua minggu ini, Fryan benar-benar disibukkan dengan kegiatan di luar kota bersama ayah Wildan.


Jarak tempuh dari rumah ke kota tersebut kurang lebih sekitar dua jam.


Sedangkan Dini di rumah bersama dengan Mila, selama Fryan masih wara wiri, Mila di minta untuk menginap di rumah mereka karena Fryan selalu tiba di rumah jika sudah malam. Namun, jika siang ia bisa izin pulang sebentar ke rumahnya.


Beberapa hari ini Dini merasakan ada yang berbeda dalam dirinya. Moodnya kerap terjadi naik turun, nafsu makannya sering hilang, dan tiba-tiba menginginkan sesuatu yang tidak ada di rumah.


Namun, Fryan yang masih sibuk tidak menyadari hal itu. Di lain itu juga, Dini memang masih berusaha biasa saja.


''Apa jangan-jangan?'' gumam Dini.


Dini terbelalak teringat sesuatu dan langsung melihat kalender di bufet.


''Biasanya di tanggal ini aku datang bulan, maju mundurnya paling sehari aja, ini sudah lebih seminggu.'' ujar Dini lirih, sesaat kemudian ia tersenyum.


Dini meletakkan kembali kalender ke atas bufet, ia akan ke atas mengambil ponselnya.


Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti.


Dini menarik nafasnya sesaat.


''Tenang Dini, jangan gegabah, pastikan dulu..'' gumamnya.


Senyuman yang tadi sempat terpasang di wajahnya kini perlahan meredup kembali.


Beberapa waktu yang lalu, ia pernah beberapa kali semangat melakukan testpack dan hasilnya negatif, tentu saja hal itu membuatnya bersedih dan kecewa.


Dini melanjutkan langkahnya ke kamar, ia akan menghubungi Mila yang izin pulang ke rumahnya.


''Iya Kak?'' jawab Mila dari sambungan telepon.


''Mila, bisakah kamu temani Kakak?'' tanya Dini.


''Aduh Kak, maaf banget aku baru bisa kesana agak sorean, soalnya sakitnya ibu agak lumayan dan harus di bantuin makan dan lainnya, jadi nunggu ayah pulang kerja dan sekalian ayah mau ngajuin izin.'' jelas Mila. Ia menangkap permintaan Dini untuk menemani di rumah, bukan lainnya.


''Sudah di bawa ke rumah sakit kah?''

__ADS_1


''Sudah di bawa ke dokter kemarin Kak, maaf ya Kak..'' ucap Mila merasa tidak enak.


''Iya Mila nggak papa, salam untuk ibumu ya, semoga lekas sembuh.'' ucap Dini.


''Aamiin, terimakasih Kak..''


Setelah menjawab ucapan Mila, Dini menutup teleponnya.


Dini masih memikirkan akan keluar dengan siapa, testpack yang ia beli ternyata sudah habis.


Akhirnya Dini memutuskan untuk memesan taksi online, ia mempertimbangkan itu akan lebih aman daripada ia memaksa menyetir sendiri tanpa teman. Apalagi sudah sangat lama ia tidak membawa mobil sendiri, itupun biasanya di dampingi ayahnya.


Sedangkan motor milik Fryan merupakan motor besar, Dini belum menguasai, motor maticnya yang dulu selalu setia menemani sudah ia serahkan kembali kepada ibunya agar tidak nganggur.


Dini siap-siap sebentar lalu turun ke bawah sembari menunggu taksi online pesanannya dengan menenteng tas simpel berukuran sedang yang berwarna cream.


Tak berselang lama, taksi yang ia pesan sudah tiba, Dini langsung masuk ke dalam mobil tersebut dan akan menuju sebuah klinik.


Ia tak mau nanggung, ia ingin mengetahui secara jelas, takutnya testpack bisa salah.


''Woke..'' sahutnya singkat sambil mengacungkan jempol.


Dini langsung menutup pintu mobil setelah berpamitan.


''Langsung aja Pak..'' pinta Dini pada pak supir.


''Baik Mbak, ke klinik ya..''


''Iya Pak..''


Sesekali bapaknya mengajak mengobrol, bapak tersebut mungkin usianya tidak jauh dengan ayah Wahyu, orangnya juga sangat ramah.


''Cafe itu baru ya Mbak?'' tanya pak supir.


''Iya Pak baru beberapa bulan yang lalu.'' jawab Dini.


''Iya saya itu sering lewat sini loh Mbak kalo malam, kadang ada orderan juga tujuannya kesini, pasti rame terus.'' tutur pak supir.

__ADS_1


''Wahh alhamdulillah Pak, ini semua juga di luar ekspektasi saya dan suami Pak, nggak nyangka juga.''


Rona bahagia muncul di wajah Dini saat mendengar cerita pak supir.


Ia benar-benar bersyukur dengan apa yang sudah di capainya.


''Saya salut loh Mbak.'' puji pak supir tanpa ragu.


Sebelumnya, Dini sudah berpesan agar bapak supir melajukan mobilnya dengan santai.


''Terimakasih Pak, banyak pihak yang terlibat, terutama buat para pengunjung yang sering kembali lagi, keluarga kami juga bantu, dan tim yang luar biasa hehe..'' jelas Dini.


''Betul seka-''


''Pak, Pak, boleh menepi sebentar!'' potong Dini seraya menepuk-nepuk sandaran kursi pak supir.


Sedari tadi ia merasakan mual dan sedikit pusing, namun masih bisa ia tahan.


Tetapi saat memasuki mobil, rasa itu semakin menjadi-jadi, padahal kliniknya tidak jauh lagi, namun rasa mual dan pusing tidak bisa ia tahan.


Pak supir langsung panik dan segera menepikan mobilnya, untung saja sedang tidak ramai kendaraan.


Dini langsung keluar dari mobil dengan cepat, sementara pak supir mengikuti Dini keluar, beliau bingung harus berbuat apa.


Mungkin saja Dini seusia dengan putrinya, sehingga melihat Dini seperti melihat anaknya sendiri, beliau juga ikut khawatir dan panik, namun bingung apa yang harus dilakukan.


Dini lemas, ia menjadikan lutut sebagai penopang tubuhnya, ia memuntahkan isi perutnya ke got sembari memijit tengkuknya sendiri.


''Pake ini Mbak.'' pak supir memberikan minyak kayu putih kepada Dini.


Dini tidak menjawab, ia langsung mengambil minyak itu. Air matanya terus keluar karena masih belum selesai.


Ia terduduk lemas di tepi jalan dengan di temani pak supir yang panik tapi bingung.


Tiba-tiba dari arah belakang, muncul sepeda motor mendekati mereka.


''Dini!'' serunya.

__ADS_1


__ADS_2