Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 86 : Kalau Mesin Udah Panas


__ADS_3

''Eh bentar-bentar, lu tadi bilang dia selalu peduli?''


Fryan menatap intens kepada Bagas yang duduk tidak jauh darinya.


''Berarti waktu itu bukan pertemuan pertama dan terakhir dong? pasti kalian udah kenal jauh dong? lu gitu Gas ..'' cerca Fryan kepo.


Bagas langsung balik menatap dengan terkejut, namun secepat mungkin mengubah ekspresi wajahnya agar tidak terlihat gugup.


''Kan gue ngarang bos, cuma ngira-ngira aja dari gesture tubuhnya waktu itu, kayak orang baik, buktinya dia ramah ke gue yang baru ketemu..'' jawab Bagas.


''Oohhh iya-iya, lu emang orangnya peka sih sama sifat seseorang, makanya gue percaya sama lu..'' ujar Fryan tanpa menaruh curiga.


Bagas tersenyum lega.


''Huuhh syukurlah Fryan percaya, bisa-bisanya gue nggak ngontrol omongan, sorry Bro.'' gerutu Bagas dalam hati.


''Lagian lu sakit beneran apa nggak sih bos?''


Fryan langsung melempar bantal sofa ke arah Bagas, untung saja Bagas sigap menangkapnya.


''Semprul lu! panas badan gue.. nih!!'' sungut Fryan yang langsung membungkukkan kepalanya agar Bagas membuktikannya sendiri.


''Iya iya gue percaya kali bos.. tadi becanda, baper aja lu..'' ledek Bagas.


''Mau di antar ke dokter nggak nih?'' tawar Bagas.


''Nggak ah males, gue udah minum obat penurun demam, makanya gue tuh ngantuk banget nih hawanya.'' adu Fryan.


''Serah lu dah, yaudah gue mau balik kerja dulu ya bos, kalau ada apa-apa silahkan kabari langsung.'' ujar Bagas.


''Hahaha siaapp..'' jawab Fryan dengan gelak tawanya.


''Din, balik dulu ya.. baek-baek jaga bayi gedenya.'' ledek Bagas langsung bergegas beranjak dari duduknya karena was-was di timpuk lagi oleh Fryan.


''Oke Gas haha..''


''Udah-udah pergi sana, gangguin gue aja lu!'' sungut Fryan yang membuat Bagas tersenyum senang menjahili teman baiknya itu.


Setelah memastikan Bagas sudah tidak terlihat lagi, Dini langsung menutup dan mengunci pintu kembali, lalu mendekati sang suami yang masih duduk di sofa.

__ADS_1


Dini menempelkan tangannya di kening lalu berpindah ke leher sang suami, ternyata masih panas.


Untung saja stock obat penurun panas masih ada di persediaan, sehingga tidak perlu harus keluar karena sejauh ini Fryan masih melarang Dini keluar seorang diri.


''Ke dokter aja ya..'' ujar Dini setelah memastikan badan suaminya yang masih panas.


''Nggak mau.'' tolak Fryan.


''Biar cepet sembuh, selain itu juga biar jelas kamu sakit apa..''


''Aku cuma panas biasa sayang, udah deh jangan gitu.. iya aku tau kok kalau kamu khawatiir banget, kamu cinta banget sama aku, kamu nggak mau aku kenapa-kenapa, iya kan?'' goda Fryan berhasil mendapatkan cubitan kecil di lengannya.


''Aww sayang, sakit tau..'' gerutu Fryan.


''Emang enaakkk.. wlee'' ledek Dini.


Meskipun sedang tidak enak badan, tetapi jiwanya tetaplah normal seperti biasanya.


Melihat sang istri menjulurkan lidah karena meledek dirinya, membuat jiwa kelakian Fryan tertantang.


''Kapriii..''


''Hahaha''


''Katanya sakit, tapi, masih aja mesum!'' gerutu Dini sambil menggumam.


Fryan langsung memeluk Dini dengan erat, ia selalu merasa tenang dengan pelukan itu.


Jika tidak memikirkan aktivitas lainnya, mungkin ia sudah memutuskan untuk tetap berada di kamar menikmati moment berdua dan membuat jiwa reader yang jomblo merana. Ehh🤭


''Aku cinta banget sama kamu..'' ucap Fryan.


''Iya, iya aku percaya, tapi, tolong agak dikurangi boleh ya, soalnya engap Pak..'' pinta Dini yang sudah kesusahan bernafas.


''OH HEHE''


Fryan cengengesan sendiri karena sedari tadi tidak menyadari sudah membuat sang istri hampir kehabisan nafas gara-gara pelukannya.


''Lain kali pake rem ya Pak..'' gerutu Dini lalu menghembuskan nafas sambil melengos.

__ADS_1


''Maaf sayang hehe''


''Kamu mau makan apa? kalau kamu belum sembuh, harus tanya dulu kamu mau makan apa biar nggak mubazir.''


''Emmm..'' Fryan masih memegangi dagunya seraya berfikir.


Sedangkan Dini masih setia menunggu jawaban dari sang suami.


Bukannya langsung menjawab, Fryan justru senyum-senyum penuh arti sambil mengedipkan matanya berkali-kali.


''Mau makan apa..'' tanya Dini lagi yang sudah mulai kesal.


''Maunya makan kamu aja sayang, boleh kan?'' goda Fryan dengan suara lirih tapi di buat-buat.


Tanpa menunggu persetujuan dari Dini, Fryan langsung menyusupkan bibirnya di leher sang istri dan menggerakkannya dengan lembut sehingga membuat Dini berusaha keras menahan suara dengan menggigit bibir bawahnya.


''Kap-hmmp''


Hanya beberapa detik berlangsung, Dini langsung memaksa melepaskan saat tangan sang suami sudah mulai menerobos dari t-shirt yang ia kenakan.


''Nanti kalau ada orang gimana? ini ruang tamu..'' protes Dini.


''Nggak mungkin sayang, kan pintunya udah di kunci.. kamu nih kalau mesin udah panas suka nggak fokus deh.'' goda Fryan.


Dini langsung melotot kepada suaminya dengan wajah yang sudah memerah, sedangkan Fryan semakin senang karena berhasil menggoda sang istri.


''Tolong masakin aku sup sayuran aja ya sayang, nanti kalau udah kenyang kita lanjutin..'' ujar Fryan lalu mengedipkan satu matanya.


Tanpa menjawab, Dini yang sudah malu sendiri karena terus di goda oleh suaminya langsung melenggang ke dapur untuk mempersiapkan makan siang.


Melihat sang istri sudah merona, Fryan menahan tawanya sendiri lalu kemudian menyusul Dini yang sudah mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk makan siang.


"Kamu duduk disitu aja." suruh Dini saat menyadari sang suami menyusulnya.


Bukan tanpa alasan, jika sang suami mendekati, tentu saja waktu memasaknya akan lebih lama lagi.


"Padahal aku mau bantu-bantu loh sayang.."


"Nggak boleh! orang sakit duduk diam aja disitu.." suruh Dini tegas.

__ADS_1


"Iya sayangku, iya.. semangat ya masaknya." ujar Fryan.


"Hemmm.."


__ADS_2