
BUG
Ardi terhuyung saat tiba-tiba mendapatkan serangan mendadak pada wajahnya.
Posisi yang tidak siap membuatnya hampir tersungkur ke samping.
Dini yang tengah berdiri di depannya juga sangat terkejut dan langsung memastikan keadaan Ardi.
''Pak Ardi nggak papa?'' tanyanya khawatir.
''Nggak papa-papa Dini.'' jawab Ardi lirih sambil mengusap sudut bibirnya yang yang keluar sedikit darah, kemudian menunjukkan senyum kembali kepada Dini.
''Fryan??'' Dini mendongak dan melihat Fryan berdiri dengan tatapan penuh dendam.
Fryan yang merasa semakin cemburu saat Dini memegang pundak laki-laki itu langsung menarik lengan Dini dengan paksa agar tidak jauh darinya.
''Fryan! kamu kenapa sih? ada masalah apa kamu sama Pak Ardi? lepasin tangan Kakak! malu!'' protes Dini sambil celingukan memperhatikan keadaan sekitar.
Fryan hanya menatap Dini sebentar lalu menatap Ardi kembali. Tak ada senyum dan tengilnya.
''Saya peringatkan kepada anda untuk tidak mendekati kak Dini lagi!'' ucap Fryan dengan menekan ucapannya dan menunjuk jarinya di depan wajah Ardi yang sudah kembali posisi berdiri .
''Ohh jadi anda mencintai Dini? sampah sekali cara anda.. mari bersaing secara sehat.'' Ardi menyunggingkan sudut bibirnya seakan meremehkan.
__ADS_1
Fryan sudah mengepalkan tangannya lalu melangkah untuk bersiap menghajar laki-laki itu.
''STOP! STOP! kamu apa-apaan sih Fryan? sudah semuanya, malu diliatin orang-orang!'' omel Dini ikut emosi.
Hampir saja perkelahian terjadi di depan mata Dini, sungguh hal yang sangat memalukan untuk dirinya jika sampai benar-benar terjadi.
''Pak Ardi, saya mohon anda segera pergi dari sini dan maaf atas kejadian yang tidak terduga ini.'' ujar Dini sembari menunduk sekilas.
''Jaga baik-baik Dini..'' ucap Ardi lalu menatap penuh arti kepada Fryan sekilas.
Dini menatap kepergian Ardi yang sudah meninggalkan mereka.
''Ikut aku Kak.'' lirih Fryan.
''Harus ikut aku! ada hal penting!'' ujar Fryan dengan tatapan serius.
''Nggak mau Fryan! Kakak mau pulang bawa motor Kakak sendiri!'' tolak Dini lagi.
''Motor Kakak nggak akan hilang, ikut aku..'' tenaga Fryan yang tentu jauh lebih kuat tidak mungkin bisa di kendalikan oleh Dini.
Sekuat apa pun Dini berontak, ia tetap tidak bisa melepaskan cengkraman Fryan di pergelangan tangannya.
Fryan berhasil membawa Dini masuk ke dalam mobilnya setelah mendapatkan peringatan dari petugas keamanan.
__ADS_1
''Kamu kenapa sih?'' Dini masih tidak mengerti kenapa sikap Fryan seperti kerasukan.
Fryan hanya diam, ia fokus dengan kemudinya dan melaju agar segera keluar dari lingkungan tempat kerja Dini, tatapan matanya menunjukkan sebuah amarah yang tertahan.
''FRYAN!'' seru Dini memulai bersuara.
Dua menit kemudian
''FRYAN! KAMU BUDEG KAH?!'' bentak Dini lagi karena masih belum mendapatkan respon.
Fryan melaju ke tempat yang tidak begitu banyak kendaraan lalu-lalang.
Mobil berhenti, Dini masih menatap Fryan dengan sebal karena tidak di respon. Sedangkan Fryan masih memegang kemudinya dan diam menatap ke arah depan.
''Fryan? kamu kenapa? ada masalah apa sama pak Ardi? Kakak bener-bener nggak ngerti.'' keluh Dini.
''Jadi pria itu yang menjadi alasan Kakak nggak nerima aku?'' tanya Fryan menatap lekat Dini.
''Maksudnya?''
"Kenapa Kakak nggak jujur aja kalau sudah punya pacar?''
''Pacar? pak Ardi bukan pacar Kakak, Fryan..'' jelas Dini.
__ADS_1
''Ini apa?'' Fryan menunjukkan sebuah foto yang terdapat Ardi dan Dini tengah dinner di sebuah restoran mewah, dan Ardi memegang sudut bibir Dini.