
Dini menangis di dalam kamarnya setelah teringat kembali kejadian yang tidak pernah ia sangka.
Seorang laki-laki yang berusia lebih muda darinya, laki-laki yang sudah ia anggap sebagai adiknya berani melakukan hal yang sangat nekat.
''Apa benar Kapri suka sama aku? dia masih kecil..' gumamnya dengan gusar.
Afryan, adik kandung dari Anita yang merupakan sahabat dekat Nandini.
Afryan dengan setia menyimpan rasa terhadap Dini, ia rela di ledek teman-temannya dikatakan tidak normal karena tidak mau berpacaran.
Fryan memang tidak mengatakan alasannya kepada teman-temannya, ia hanya ingin memantapkan hati untuk Dini.
Fryan memilih menunggu waktu yang tepat, bahkan tanpa sepengetahuan Dini, Fryan sering mengikuti kemanapun Dini pergi disaat tidak bersama Nita.
Tentu saja informasi yang Fryan terima berasal dari Anita.
Laki-laki yang bukan anak kecil lagi, tetapi Dini selalu menganggap Fryan anak kecil, Fryan adalah adik kecilnya.
''Kamu jahat banget sih Pri! Tega!''
Dini mengusap air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.
''Nita, maaf.. sepertinya aku nggak bisa menjalankan apa yang kamu percayakan..'' gumam Dini.
Beberapa pesan dari Fryan hanya diabaikan oleh Dini, ia tidak berniat untuk membalasnya.
Bahkan, mulai malam ini ia bertekat untuk menjaga jarak dengan keluarga Nita, apalagi sahabatnya itu akan segera pindah ke luar kota.
__ADS_1
Afryan :
"Kak Dini, sekali lagi aku mohon maaf karena sudah lancang, tetapi, untuk ucapanku, aku sangat serius, aku cinta sama Kakak..
Tolong balas pesanku Kak, tolong maafkan aku.."
Di lain tempat, Fryan masih sangat tidak tenang memikirkan gadis impiannya, ia belum berani menelpon. Ia merasa sangat takut jika Dini benar-benar marah dan tidak ingin menemuinya lagi.
Dini kembali tak menggubris pesan terakhir di ponselnya.
--
Beberapa hari kemudian
Anita menghubungi sahabatnya.
"Halo Din, hari ini ke cafe ya.. kita harus bahas secepatnya karena minggu depan aku berangkat,'' ujar Nita.
jawab Dini.
''Makasih Din, see you..''
''Iya''
Jam 8 pagi Dini menuju ke cafe dengan memesan ojek online.
''Makasih Pak..'' ucap Dini pada supir ojol yang terlihat seusia dengan ayahnya.
__ADS_1
''Sama-sama Mbak,'' jawabnya ramah lalu pergi.
Dini merapikan rambutnya yang terkena angin lalu bergegas masuk, dilihatnya mobil Aldo sudah terparkir dengan rapi.
''Hai Nit, bang Aldo.. sorry udah nungguin..'' ujar Dini buru-buru duduk.
''Nggak kok, kita belum lama sampai, masih nunggu Fryan juga nih..'' ujar Nita.
sambil celingukan ke arah pintu.
''Hah Fryan?'' tanya Dini reflek seperti terkejut.
''Iyalah, kan waktu itu aku sudah bilang ke kamu.. jangan bilang kamu lupa itu Din..'' selidik Nita.
''Ah enggak, inget.. tapiii..'' Ucapan Dini terasa sangat tercekat.
''Tapi apa Din??'' tanya Nita curiga.
''Maaf Nit, maaf bang Aldo, sepertinya aku nggak bisa lanjut disini..'' ucap Dini lirih lalu menunduk.
Aldo dan Anita terlihat sama-sama terkejut mendengar pernyataan Dini dan mereka saling melempar pandangan.
''Dini, ada apa? kamu bilang ini saksi perjuangan, waktu itu kamu siap.. kenapa sekarang berubah? apa karna kamu bekerja di perusahaan itu?'' tanya Nita.
''Bu-bukan, bukan itu Nit.. aku hanya nggak bisa aja,'' jawab Dini gugup.
''Apa karna gaji kamu disini masih kecil?'' timpal Aldo
__ADS_1
''Bukan bang, bukan itu..'' sanggah Dini dengan cepat.
''Lalu..'' Ucapan Nita terhenti saat pintu ruangan mereka ada yang membuka.