
Kemarin Dini melupakan keadaan motornya karena ulah Fryan.
Dan ternyata Fryan sengaja meminta anggotanya untuk mengantarkan langsung motor Dini ke rumah.
Karena perjalanannya lebih lama, Dini berangkat lebih awal agar tidak terjebak macet.
Sebelum berangkat, Dini menyempatkan menyantap menu sarapan nasi goreng buatan ibunya.
''Ayah, Ibu.. Dini jalan dulu ya.. assalamu'alaikum..'' ucapnya.
''Iya hati-hati, wa'alaikumsalam..''
Perjalanan sekitar 50 menit akhirnya tiba di tempat kerjanya dengan aman.
-
''Ke kantin yuk..'' ajak Dira saat jam istirahat tiba.
''Ok Kak, sebentar ya.'' jawab Dini lalu membereskan pekerjaannya.
Ghadira, pernah menikah beberapa bulan sebelum masuk kerja disini, namun karena kecelakaan parah berhasil merenggut nyawa sang suami yang belum terlalu lama menikahinya.
Setidaknya cerita singkat itu yang Dini dengar langsung dari Dira, usia mereka hanya terpaut satu tahun saja, jadi mudah bagi mereka untuk cepat akrab.
Dini sengaja tidak ingin mempertanyakan hal lainnya karena itu merupakan privasi, kecuali Dira sendiri yang berinisiatif untuk bercerita, Dini siap menjadi pendengar dan siap jika dimintai pendapat.
''Eh Kak Dira, apa yang Kakak maksud wanita ular itu si sekretaris seksi?'' tanyanya dengan berbisik.
__ADS_1
''Tau dari mana?'' tanya Dira ikut berbisik.
''Waktu itu dia labrak aku, lucu sih kalau inget haha..'' jawab Dini terkekeh.
''Bilang apa dia? emang kamu bikin salah apa sama dia kok di labrak?'' tanya Dira penasaran.
''Nggak tau deh, masa minta aku jauhin pak Ardi, lah emang aku ngapain.. deket juga enggak, karna dia lihat waktu itu pak Ardi minta temenin makan siang doang Kak, masa dibilang makan siang romantis..'' jelas Dini lalu terkekeh.
''Apa kurang puas dia jadi selirnya tuan besar..'' gumam Dira.
''Apa Kak?'' tanya Dini tidak terlalu mendengar gumaman Dira.
''Oh enggak, mungkin dia suka sama mas Ardi, namanya juga jatuh cinta Din.. yang penting kamu hati-hati aja, dia itu nekat, kalau sudah ada kemauan nggak bisa di bantah.'' Dira memberi peringatan kepada Dini.
Dini menganggukkan kepalanya tanda paham.
Dini dan Dira menyantap menu makan siangnya dengan fokus.
Karena tadi sempat menunggu lama saking antrinya jam makan siang para karyawan.
Dini sudah kenal dengan karyawan lain sejak dia magang di kantor ini, tetapi sejak ia menemani makan siang Ardi waktu itu membuat beberapa perempuan disini menjadi sinis padanya.
Dini tidak peduli dengan sikap sinis mereka, karena faktanya Ardi juga bukan milik salah satu diantara mereka.
''Kerja disini harus kuat mental.''ucap Dira membuyarkan bayangan Dini.
''Oh hehe iya Kak, by the way aku mau bilang makasih banget sama Kak Dira yang selalu kasih support sejak awal.'' ucap Dini.
__ADS_1
''Santai aja, kita sama-sama belajar..'' jawab Dira merendah.
''Iya Kak..''
Dini menatap kagum kepada wanita di hadapannya.
''Kak, apa aku boleh tanya? emm lebih tepatnya minta pendapat dari Kakak?'' tanya Dini.
''Apa nih? jadi nggak enak nih perasaannya hehe..''
''Hehe.. menurut Kakak gimana kalau seorang perempuan memiliki pasangan yang umurnya lebih muda?'' tanya Dini malu-malu.
''Ya nggak papa atuh.. kalau sudah sama-sama cocok soal umur nggak akan dibahas lagi.. toh pada kenyataannya kedewasaan itu nggak bisa diukur dari umur, banyak dari mereka yang jauh diatas kita tetapi kelakuannya kekanak-kanakan, ada yang terlihat masih kecil tapi pemikirannya sangat matang..'' jelas Dira lalu tersenyum kecut.
''Maaf ya Kak..'' ucap Dini tidak enak saat menangkap ekspresi perubahan di wajah Dira.
''Haha aku tidak apa-apa Dini, santai aja..'' jawab Dira lalu mengusap wajahnya Dini gemas.
''Cie cie kamu lagi dekat sama cowo lebih muda ya?'' goda Dira.
''Apa sih Kak, nggak kok.'' jawab Dini canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
''Masa sih? terus kenapa minta pendapat kayak tadi?'' selidik Dira.
''Hehe ya nggak papa Kak, pengen tanya aja.'' jawab Dini salah tingkah.
Dira mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menahan gelak tawa melihat ekspresi salah tingkah Dini.
__ADS_1