Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 55 : Hati Dini Vanaasss


__ADS_3

Tawa puas Fryan terbawa sampai di dalam kamar mandi dan cepat-cepat menyelesaikan guyurannya.


''Sabar ya bro..'' gumam Fryan pada aset kebanggaannya.


Fryan keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk dipinggangnya, niatnya mau menggoda bini, eh orangnya masih dibawah.


''Oh iya kan mau nyuci tadi.. sekalian ngantar baju kotor nih.'' gumam Fryan mendapatkan ide.


Seharusnya ia bisa memakai baju terlebih dahulu kan?? hmmmm


Tetapi karena ada maksud lain, ia sengaja menundanya.


''Sayaaang..'' panggil Fryan.


''Iyaaa di depaann..'' jawab Dini ikut berteriak.


Fryan mencari keberadaan Dini yang tidak berada di belakang.


''Kamu ngapain sih disitu?'' tanya Fryan.


''Main kelereng, ya nyapulah kan lagi megang sapu.'' jawab Dini.


''Udah selesai belum?'' tanya Fryan.


''Bentar lagi.'' jawab Dini tanpa memandang suaminya.


Dini sedang menyapu kotoran yang ada di teras rumah, sedangkan Fryan memilih menunggu di ruang tamu.


''Ih kok nggak pake baju?!'' Dini yang baru berada di pintu langsung menutup mata.


''Diiihhh, dulu juga sering lihat suaminya begini kan?'' goda Fryan.


''Kan beda, dulu masih sakit.'' jawab Dini.


''Sama aja tuh..'' jawab Fryan santai.


''Udah sana buruan pake baju.'' usir Dini sambil mendorong-dorong suaminya.


''Pilihin.''


''Milih sendiri.'' tolak Dini.


''Pilihin atauuuu..'' goda Fryan lalu mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.


''Yaudah iya ayok!'' akhirnya Dini mengalah daripada mendapatkan serangan mendadak.


Fryan tersenyum sumringah sambil merengkuh bahu Dini sambil berjalan ke kamar mereka.


Sesekali Fryan menoel-noel gemas hidung Dini yang mancung.


''Bebas ya..'' ucap Dini di depan lemari.


''Iya sayang.'' jawab Fryan duduk santai di sofa seraya memperhatikan.


''Ini..'' Dini menyerahkan satu set pakaian untuk suaminya.


Fryan menerima sambil beranjak dari duduknya.


''Terimakasih istriku..'' ucapnya lalu menc1um Dini sekilas.


Dini membalas dengan tersenyum.


''YA AMPUUN FRYAANNN!! Nggak malu apa?!'' teriak Dini dan langsung menghadap ke arah lain karena dengan santainya Fryan melepas handuk di depan Dini.


''Nggak tuh, kan di depan istri sendiri.'' jawab Fryan santai sambil memakai c4ngcut.

__ADS_1


Dini hanya bisa menggerutu kesal melihat kelakuan suaminya, sedangkan Fryan kesenangan menjahili sang istri.


''Udah, ayok jalan..'' ujar Fryan.


''Udah pake baju?'' tanya Dini belum mau menghadap suaminya.


''Iya udah ini..'' jawab Fryan.


Dini membuka matanya secara perlahan dan berbalik arah.


Ia tak berucap apapun dan langsung beranjak dari duduknya menuju ke bawah, sedangkan Fryan mengikuti sambil menahan tawa gemas.


''Ohya bentar dulu, tadi kan lagi nyuci.'' ujar Dini lalu berjalan ke belakang.


''Terusin nanti aja sayang, biar di rendam dulu.'' sahut Fryan.


''Iya, cuma ngecek aja.'' jawab Dini lalu kembali menghampiri Fryan.


"I love you.'' ucap Fryan lalu menc1um kening istrinya dengan lembut.


Dini tersenyum mendengar ucapan itu, terasa manis di jiwanya.


''Jangan diacak-acak rambutku!!'' gerutu Dini.


''Gemes sayang hehe.. yaudah ayok jalan.'' ujar Fryan kembali merapikan rambut Dini dengan jarinya.


Fryan memastikan rumahnya terkunci dengan aman sebelum ditinggalkan.


''Belanja sayurannya di pasar aja ya..'' ujar Dini memulai percakapan di dalam mobil.


''Iya sayang, tapi, beli keperluan keringnya dulu ya..''


''Iya.'' Jawab Dini singkat namun memberi senyuman.


''Kamu harus fokus Fryan..'' ujar Dini tidak mau suaminya lengah.


''Aku fokus kok.'' jawab Fryan menatap istrinya lalu kembali fokus ke arah depan.


Tujuan Fryan dan Dini kali ini ke sebuah swalayan.


Fryan mengambil sebuah keranjang dan mendorongnya, sedangkan Dini berjalan di depannya sambil memilih-milih apa yang paling dibutuhkan.


Sebelum berangkat tadi, Dini sudah membuat catatan di kertas kecil, sedangkan lainnya yang belum ingat bisa menyusul.


''Fryan kan?'' sapa seseorang membuat Fryan dan Dini langsung menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang.


''Salma?'' tanya Fryan.


Salma langsung memeluk Fryan tanpa memperhatikan sosok Dini didekatnya.


''Lama sekali nggak ketemu, apa kabar?'' tanya Salma antusias.


''Baik, alhamdulilah, kamu apa kabar?'' tanya Fryan balik.


''Aku juga baik.. ya ampun semenjak kelulusan SD kita sudah nggak pernah ketemu lagi ya.. makin ganteng aja kamu.'' ujar Salma.


Dini yang merasa dianggurkan langsung beralih memilih-milih belanjaan lagi.


''Kenapa hatiku sakit?'' batin Dini.


''Fryan juga kenapa sih akrab banget sama cewek itu? apa lupa kalau ada istrinya.''


''Ohya, kenalin, loh sayang sini..'' panggil Fryan baru menyadari istrinya sudah bergeser.


Dengan langkah malas, Dini kembali menghampiri suaminya.

__ADS_1


''Siapa Fryan? pacar kamu?'' tanya Salma lalu menatap Dini dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.


''Bukan, ini istri aku Sal.. aku sudah menikah, kenalin..'' jawab Fryan lalu menatap Dini dan Salma bergantian.


''Ohh istri...'' ucap Salma sambil manggut-manggut.


Dini terpaksa menunjukkan senyum kecutnya sembari mengulurkan tangan.


''Hay, Dini..'' ucap Dini dengan berusaha sambil tersenyum.


''Ah iya aku Salma.'' jawab Salma menerima uluran tangan Dini.


''Aku teman baik Fryan dari kecil, kita dulu tetanggaan, mainan bareng, bahkan orangtua kita dulu sempat mau menjodohkan kita ya? haha lucu deh kalau inget itu, ayahmu juga manjain aku, ah sayangnya kita nggak jodoh.'' lanjut Salma bercerita.


Vanas vanaaasss... hati Dini vanaaaassssss


Air mana aiiirrrrr


''Ya namanya dulu cuma candaan orangtua Sal.'' bantah Fryan melihat ekspresi wajah Dini yang berubah.


''Nggak kok, kalau dulu aku nggak pindah ke Makassar, mungkin kita sekarang bisa bersatu.'' sahut Salma.


''Iya memang takdirnya Fryan sama aku sih, malah dia nungguin udah bertahun-tahun, bucin banget dia ke aku, cinta pertama dan in syaa Allah cinta terakhir, iya kan sayang?'' timpal Dini lalu mencubit pipi suaminya agak keras.


''Tentu saja sayang.'' jawab Fryan tersenyum sambil meringis karena cubitan itu bukan cubitan gemas, lebih seperti cubitan dendam.


''Ehm, kalau gitu aku duluan ya, itu sepupuku sudah manggil..'' ujar Salma.


''Ohh gitu? hati-hati Salma.. daaaaa''


Dini melambaikan tangannya ke arah Salma, sedangkan Salma tampak tersenyum kecut menahan rasa kecewa.


Begitu Salma sudah tidak nampak dari pandangannya, Dini kembali melanjutkan memilih-milih tanpa mengajak Fryan.


''Sayang tunggu.'' panggil Fryan lalu meraih lengan istrinya.


''Apa?'' tanya Dini malas.


''Cemburu ya?'' goda Fryan.


''Dih, kepedean!'' ketus Dini.


Hampir satu jam Fryan dan Dini menghabiskan waktu di swalayan tersebut, lalu melanjutkan ke pasar tradisional.


Dini lebih suka belanja keperluan memasak ke pasar karena menurutnya lebih segar.


Dini masih saja memasang wajah musamnya dan selalu ketus menjawab pertanyaan sang suami.


''Kemana lagi sayang?'' tanya Fryan setelah memasukkan belanjaan pasar ke bagasi.


''PULANG.'' jawab Dini lalu masuk ke dalam mobil.


Dengan langkah cepat, Fryan mengikuti istrinya yang diam-diam sedang ngambek.


''Jangan marah, maaf ya sayang..'' ucap Fryan lalu mengelus pipi Dini lembut.


Dini tidak menjawab, ia menepis tangan Fryan dan melengos ke samping.


Fryan tidak mau berdebat, ia memilih membiarkan istrinya meredam terlebih dahulu.


Sekarang ia fokus dengan kemudinya dan menuju arah pulang ke rumah.


Tidak sampai 20 menit, mereka sudah tiba di rumah, meskipun masih cemberut, Dini tetap mengeluarkan hasil belanjaannya hari ini dan membawanya masuk ke dalam rumah untuk segera di tata.


Niatnya tadi pulang mau langsung masak buat makan siang, tapi, karena hatinya lagi badmood, setelah selesai membereskan belanjaan, Dini langsung naik ke atas tanpa berbicara apapun kepada suaminya, bahkan ia juga lupa dengan rendamannya.

__ADS_1


__ADS_2