
''Kita pamit ya Yah, Ma..'' ucap Fryan.
''Nggak nginep aja kah?'' tanya mama Tia.
''Lain kali aja ya Ma..''
''Ya sudah hati-hati.''
Mama dan ayah mengantar anak-anaknya ke depan.
''Kamu tadi keren loh..'' ucap mama pada Dini dengan suara lirih saat Fryan dan ayah tengah berbincang sesuatu.
''Hehe.. makasih Mama udah bantu juga.''
Mama Tia tersenyum.
''Harus jadi perempuan yang kuat ya sayang..''
''Berusaha Ma..''
''Yaudah Ma kita pulang dulu, assalamu'alaikum..''
''Hati-hati sayang, wa'alaikumussalam..''
Setelah bersalaman dengan kedua orangtuanya, Fryan dan Dini langsung masuk ke dalam mobil.
Sementara itu, melihat mobil putranya sudah tidak terlihat, ayah menutup gerbang dan kembali masuk ke dalam bersama mama Tia.
''Mas..'' panggil Mama.
''Iya?''
''Kamu kenapa sih?''
''Kenapa apanya?'' tanya ayah belum paham.
''Kamu merasa nggak kalau antusiasmu kemarin itu menceritakan Salma bikin menantu kita sedih?'' tanya mama penasaran karena sejak hari itu belum berani mempertanyakan.
''Ohhh itu..''
''Iya itu apa?''
''Aku cuma ngetest aja gimana reaksi Dini.'' jawab ayah santai.
''ASTAGHFIRULLAH... jadi kamu??''
Mama Tia geregetan dengan sikap suaminya, di tambah ayah malah menjawab dengan santai.
''Sini duduk dulu istriku sayang, aku jelasin..''
Meskipun geregetan, mama tetap menuruti karena memang ingin mendengarkan penjelasan.
''Jadi gini ceritanya.. tau sendiri kan gimana cintanya Fryan ke Dini?
Nah, sebagai ayah kandung Fryan, tentu juga pengen dong melihat kalau anak kita itu juga di cintai. Aku tau selama ini Dini sayang ke Fryan, tapi hanya sebagai kasih sayang dari kakak ke adiknya.
Aku percaya kalau Dini tidak main-main dengan pernikahan ini, sangat percaya. Tapi, kedatangan Salma membuat otakku tiba-tiba mencetuskan sebuah ide yang brilian untuk melihat apakah Dini menunjukkan cemburunya atau tidak.'' ujar ayah membanggakan idenya.
''Ya ampun Mas, Mas.. idemu memang bagus, tapi, apa kamu nggak khawatir mereka berantem.
Apa kamu nggak khawatir Dini benci sama kamu Mas?''
''Mungkin hanya berantem kecil, dan aku lega karena mendapatkan jawaban sesuai ide yang ku cetuskan. Melihat ekspresi Dini aku sudah yakin kalau dia mencintai putraku.
Kamu lihat kan gimana wajah Dini menahan emosi dan air matanya?'' tanya ayah lalu terkekeh.
__ADS_1
''Tapi, tadi keren juga nyali menantuku haha..''
''Kamu tega loh Mas, nggak kasian mereka itu masih muda-muda..''
''Kamu khawatir ya sayang?'' tanya ayah.
''Tentu saja Mas, aku tidak mau mereka berakhir seperti aku dulu.'' jawab mama lalu menundukkan kepalanya karena teringat kisah masalalunya.
Ayah tidak menyangka jika ide yang menurutnya brilian ternyata membuat luka lama sang istri terbuka lagi.
''Aku minta maaf, aku benar-benar nggak ada maksud membuka kisahmu dulu, aku minta maaf sayang, maaf..'' ayah memohon dengan wajahnya yang panik, ayah benar-benar langsung merasa bersalah kepada mama.
''Sudah lupakan, lain kali kalau punya ide kompakan dong..'' sungut mama.
Ayah menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan langsung beranjak mengikuti sang istri.
..
Di kediaman Fryan
''Kamu tadi berani sekali sayangku..'' puji Fryan kepada sang istri.
''Modal nekat tau.'' jawab Dini.
Fryan terkekeh mendengar jawaban sang istri.
''Gimana tuh di ejek punya istri lebih tua?'' tanya Dini.
''Nggak gimana-gimana lah sayang, emangnya harus gimana?'' tanya Fryan balik.
''Nggak malu apa?''
''Nggaklah, malah makin cinta.. cup''
Fryan menghujani c1uman berkali-kali di wajah sang istri, sontak membuat Dini engap karena mendapat serangan mendadak.
Fryan mendudukkan tubuh Dini di pangkuannya dan memandangi wajah sang istri.
''Yaudah sekarang gantian kamu yang tium-tium muka aku, seribu kali juga boyeh..'' ujar Fryan dengan nada manjanya.
Dini langsung terkekeh mendengar suara manja sang suami yang benar-benar seperti anak kecil.
''Geli tau..'' protes Dini.
Fryan semakin iseng dan pura-pura cemberut.
''Mama mau nen3n.. mau nen3n..hua hua..'' pintanya lagi dengan suara rengekan yang di buat-buat seperti anak bayi.
''Ku jewer ya ini..'' protes Dini sudah menempelkan jarinya di telinga Fryan.
''Buahahaha ampuuunnn''
Meskipun berteriak ampun, bukannya menghindari justru Fryan memeluk erat tubuh Dini dan menelusupkan kepalanya di tengah-tengah aset kembar sang istri sambil menc1uminya.
''Mari kita berproduksi sayang..'' bisik Fryan menggoda Dini.
Fryan menidurkan sang istri dengan ia berada di atas, menjadikan satu tangannya untuk penopang tubuhnya.
Sedangkan tangan satunya sudah mulai membuka satu persatu kancing piyama Dini.
Wajah Fryan yang semakin mendekat membuat hembusan nafasnya terasa di wajah Dini.
Pemanasan langsung di mulai dengan lembut oleh Fryan, gairahnya semakin memuncak.
Fryan dan Dini saling memugut dan memperdalam c1um4n.
__ADS_1
''Stop.. stop..''
Tiba-tiba Dini memaksa melepaskan bibirnya sambil mengatur nafas membuat Fryan mengerutkan keningnya karena bingung.
''Ada apa sayang?''
''Maaf.. sepertinya-'' Dini ragu ingin menyampaikan sesuatu yang ia rasakan.
Fryan menempelkan tangannya di kening Dini untuk memastikan.
''Apa kamu sakit? tapi, nggak panas..''
Dini menggeleng.
Posisi Fryan masih berada di atas sang istri dan menunggu jawaban.
Bahkan ia sudah tidak fokus lagi dengan aset kembar sang istri yang terpampang nyata.
''Kayaknya aku haid.'' ujar Dini cepat dan langsung berusaha untuk turun dari ranjang.
''Hah?''
Fryan terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Dini, ia langsung duduk di sisi ranjang dan memperhatikan sang istri yang sudah berdiri menghadapnya.
Dini kembali mendekati ranjang dan memastikan sesuatu.
"Tembus." gumam Dini.
Fryan langsung spontan menoleh dan mengikuti arah mata sang istri.
Di waktu yang bersamaan, Dini juga memutar pandangan menatap suaminya.
"Maaf..'' ucap Dini lirih.
Tampak raut kekecewaan di wajah Fryan, karena ia tengah merasakan gairah yang tinggi.
Bahkan aset kebanggaannya sudah meronta-ronta untuk masuk ke dalam kandang.
Namun, apa boleh dibuat jika sang istri tengah kedatangan tamu bulanannya.
Mau tak mau harus di tunda sampai tamunya pulang.
"Gatot dong.." ucap Fryan sedih.
"Sabar ya broh.." ucap Fryan sambil menimang bro-nya yang sudah menjulang tinggi.
Melihat Fryan yang menahan rasa kecewanya, tentu saja perasaan Dini menjadi tidak enak.
Ia merasa sangat kasian dengan suaminya ini, tapi, ya mau gimana lagi.
"Kamu kesana dulu ya, aku mau nyopot spray nya." ujar Dini.
"Biar aku aja sayang, kamu ganti pakaianmu aja, nanti keburu nambah banyak." jawab Fryan yang melihat di celana Dini sudah nampak jelas tembusan merah.
Dini reflek menoleh ke arah celananya yang sulit ia lihat.
"Yaudah makasih ya.. aku mau ganti dulu." ujar Dini lalu bergegas membuka lemari untuk mengambil pembalut dan juga pakaian ganti.
Fryan mengangguk lalu melepaskan spray dan mengambil gantinya di dalam lemari.
Dini keluar dari kamar mandi, melihat suaminya sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan spray yang sudah di ganti.
Dini menyusul ke atas dengan langkah hati-hati. Saat baru menarik selimutnya ke atas, Fryan berbalik arah menghadapnya.
"Kirain udah tidur." ucap Dini.
__ADS_1
"Belum tenang sayang." jawab Fryan.
Fryan kembali melanjutkan pugutannya yang sempat terhenti, meskipun gagal berproduksi, pemanasannya dulu juga tak apa-apa.