Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 71 : Ungkapan Cinta


__ADS_3

''Kenapa ayah menanyakan perempuan itu di depanku? dan.. ayah tampak sumringah, apa perjodohan itu memang benar-benar bukan suatu candaan..'' batin Dini mengingat pertemuannya dengan Salma waktu itu.


Mendengar ayah mertua menanyakan seseorang kepada Fryan, Dini hanya bisa tersenyum kecut lalu menunduk.


''Apa aku sedang cemburu?'' batin Dini.


Fryan juga menangkap ekspresi di wajah Dini yang berubah, ia takut jika sang istri kembali mendiamkannya dan berpikir negatif.


Namun, ia juga tak mungkin menghindari pertanyaan itu dari ayah Wildan.


''I-iya Yah aku ingat.'' jawab Fryan gugup lalu melirik ke arah Dini yang sudah kembali mengangkat wajahnya.


''Kenapa Yah?'' tanya Fryan.


''Pas banget waktu pagi kamu berangkat, malamnya dia kesini.. ya ampun ayah sampai kaget karna lama nggak ketemu, sudah gadis dan dia lagi mengejar cita-cita jadi model katanya..'' ayah menceritakan dengan antusias, namun Dini menangkapnya dengan perasaan yang susah untuk di jelaskan.


''Salma juga bawain oleh-oleh, nanti kamu juga bawa ya..'' imbuh ayah semangat.


''Nggak usah Yah.'' jawab Fryan cepat.


''Eh maksudnya kan dia bawainnya buat disini, biar disini aja ya Yah.. bagi aja sama Bu Mina.'' imbuh Fryan mengoreksi jawabannya sendiri takut ayah curiga.


''Kita kan juga abis bepergian.'' lanjutnya lagi.


''Beneran enggak?'' tanya ayah meyakinkan.


''Iya Yah.. Oh ya, emm itu kayaknya tadi jemurannya kamu tarok luar kan Yang?'' tanya Fryan melirik sang istri sembari memberikan kode dengan mengedipkan satu matanya.


''Hah? ohh iya iya tadi biar cepet kering hehe.'' jawab Dini canggung.


''Jadi sepertinya kita nggak bisa lama-lama Yah, takut hujan kan kasian kalau mereka pada basah lagi..'' ujar Fryan mencari alasan.


''Baru juga berapa menit.'' protes ayah.


''Maaf ya Ayah..'' ucap Dini merasa tidak enak.


''Iya sayang tidak apa-apa, lain kali kalau mau kesini jangan meninggalkan pekerjaan ya biar bisa lama ngobrolnya.'' pinta ayah.


''Baik Yah..''


''Oh ya, malam Minggu ayah ngundang Salma dan orangtuanya kesini buat makan malam.


Ya mumpung bisa ketemu dan mereka masih disini juga, itu pun kalau kemarin Salma tidak kesini, ayah sudah lupa sama tetangga lama kita itu haha..'' ujar ayah menghentikan pergerakan Fryan yang mau beranjak.


Deg!


''Makan malam?'' batin Dini.


''Aduh Ayaah...'' gerutu Fryan dalam hati.


''Kalian harus datang ya.. wajib.''


''Dulu kami itu bertetangga baik nak, lalu keluarga Salma pindah dan kita juga pindah kesini, jadi ya lama banget nggak ketemu, katanya sih kemarin dia juga nanya-nanya rumah ayah ke tetangga lama.'' imbuh ayah berbicara dengan menantunya.


''Nak Salma baik kok, kamu pasti bisa mudah akrab dengannya.''


''Oh iya Yah, in syaa Allah.'' jawab Dini dengan senyum pahit.


''Maaf Ma aku harus buru-buru.'' ucap Dini.


''Iya sayang tidak apa-apa.'' kata mama Tia lalu ikut jalan keluar mengantar putra putrinya ke depan.

__ADS_1


Dini berpamitan dengan ayah dan mama mertua.


''Mama tau kamu lagi tidak baik-baik saja.'' bisik mama saat memeluk Dini.


''Maaf Ma..'' ucap Dini lirih seraya mengurai pelukan.


Setelah berpamitan dengan mertua, Dini langsung masuk ke dalam mobil dan di ikuti oleh Fryan.


Mereka meninggalkan kediaman ayah Wildan dengan perasaan yang canggung.


Mungkin saja mama juga peka terhadap ekspresi Dini yang tiba-tiba berubah, di tambah Fryan langsung mencari alasan untuk kembali ke rumahnya.


Suasana hening menemani perjalanan Dini dan Fryan, belum ada percakapan di antara mereka sejak keluar dari rumah ayah.


Dini hanya diam saja dan menatap ke arah luar, sedangkan Fryan sesekali melirik sang istri, namun masih bingung harus mengawali perkataan apa.


''Kenapa berhenti?'' tanya Dini menatap ke arah sang suami yang menepikan mobilnya di jalanan yang tidak terlalu ramai.



Fryan menghela nafas.


''Maaf soal bicara ayah tadi.'' ucap Fryan.


''Kenapa harus minta maaf? siapa yang salah dan apa yang harus di salahkan?''


''Sayang, sudahlah jangan terus-terusan membohongi diri sendiri, nggak capek apa?''


''Aku tau kamu tidak nyaman dengan cerita ayah tadi..''


Dini terdiam dan langsung menunduk.


''Hei.. kamu bicara apa? hadap sini..''


Fryan meraih bahu Dini agar menghadapnya.


''Aku tidak pernah mencintai Salma, dulu hanya becandaan orang tua sayang, mungkin hanya lucu-lucuan mereka, aku juga nggak menggubris.. soal ayah yang antusias menceritakan dia, mungkin ya wajarnya orang tiba-tiba ketemu sama seseorang yang sudah lama banget nggak ketemu, aku yakin nggak ada maksud lain, ayah juga nggak mungkin berniat merusak pernikahan anaknya sendiri.


Aku mohon percaya sama aku, aku sangat mencintai kamu.''


''Kamu lihat tadi? Ayah membanggakan perempuan bernama Salma di depan muka ku, haha oh ya-ya aku lupa kalau gadis cantik itu yang menjadi kandidat pertama dan mungkin satu-satunya untuk menjadi istrimu.''


''Dibanding aku? hah siapa aku?'' Dini tersenyum kecut lalu menghela nafas.


Dini berbicara dengan menggebu-gebu, ia bisa pura-pura tertawa, tetapi air mata yang sedari tadi tertumpuk pada pelupuk, sekarang sudah mengalir membasahi pipinya.


Ia belum bisa memastikan perasaannya dengan jelas, tetapi rasanya sangat sakit mendengar dan melihat ayah mertua berbicara seperti tadi di depan matanya.


Apa benar Dini sedang cemburu???


''Sayang.. sayang, please jangan bicara kayak gitu lagi, please..'' kata Fryan memohon.


Fryan hendak memeluk istrinya, tetapi Dini langsung menghindar.


''Oke, nggak papa kamu marah sekarang, nggak papa. Tapi, tolong dengerin aku..''


Fryan menarik nafas dalam-dalam.


''Apa selama ini aku pernah membahas soal Salma? sekalipun itu kak Nita yang juga sama mengenalnya? seingatku tidak pernah."


''Sayang, kalau aku merespon serius candaan orangtua waktu dulu, aku pasti sudah mencari dia, nyatanya kan tidak.

__ADS_1


Bahkan kamu sendiri tau siapa perempuan yang aku tunggu sekian tahun tanpa berpaling.


Tidak mungkin aku akan main-main dengan apa yang sudah aku dapatkan dengan cara yang tidak mudah dan penantian yang tidak sebentar..''


Dini hanya terdiam dan menunduk, air matanya masih saja mengalir.


Ia tau penantian seorang Fryan, ia percaya Fryan sangat mencintainya. Tetapi tetap saja rasa sakit dan khawatir itu ia rasakan.


Sementara Fryan menatap sang istri dengan intens.


''Sayang..''


Fryan langsung meraih bahu Dini dan memeluknya erat.


''Apa kamu mencemaskan sesuatu?'' tanya Fryan.


''A-aku takut pernikahan kita goyah karena orang ketiga, ntah itu hadirnya orang baru atau kembalinya orang lama di kehidupan baru kita.''


Fryan mengurai pelukannya dan menatap lekat Dini yang masih menangis sesenggukan.


''Yang penting aku bisa membuktikan bahwa pernikahan ini tidaklah main-main sayang dan kamu bisa lihat sendiri kan..''


Dini kembali terdiam.


Sedangkan Fryan khawatir kalau sang istri masih marah kepadanya dan juga ayah Wildan.


Ia memilih menunggu Dini berbicara.


Namun, di saat Fryan masih sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba Dini memeluknya erat membuat Fryan sangat terkejut.


''Aku takut kamu ninggalin aku.'' ungkap Dini dalam pelukannya.


''Nggak sayang, nggak.. hanya kematian yang bisa memisahkan kita, dan semoga itu masih lama setelah kita memiliki anak dan cucu yang banyak..''


Dini mendongak menatap mata sang suami.


''A-aku cinta sama kamu Kapri''


''Hah? apa sayang? coba ulang sekali lagi..''


Fryan sangat antusias sang istri mengungkapkan kata cinta secara langsung di depannya.


''AKU CINTA SAMA KAMU, I LOVE YOU MY HUSBAND''


Fryan langsung memeluk sang istri dengan erat.


''AKU SANGAT MENCINTAI KAMU, I LOVE YOU TOO MY WIFE''


Tatapan mereka saling bertemu, senyum mengembang di bibir keduanya.


Sementara itu tangan Fryan meraih tengkuk sang istri lalu menyatukan dengan bibirnya.


Dini memundurkan kepalanya setelah mengingat mereka masih di pinggir jalan.


"Ayo pulang.'' ajaknya.


Fryan terus mengembangkan senyumnya, setelah kekhawatirannya tadi akhirnya sekarang bisa tersenyum bahagia karena mendapatkan ungkapan cinta dari sang istri.


Sebelum memulai perjalanannya, Fryan mencubit pipi sang istri sekilas lalu kembali menghidupkan mesin mobilnya.


"Akhirnya.. terimakasih sayang." ucap Fryan.

__ADS_1


__ADS_2