
Dini tetap terbangun cepat meski rasanya baru juga tertidur.
''Bu, aku bangunin Fryan dulu..'' ujar Dini.
''Oh iya, iya.." jawab ibu yang sudah mulai berkutat di dapur.
Ia segera melangkahkan kaki menuju kamarnya untuk membangunkan Fryan.
Untung saja tadi malam Fryan sudah merapikan kembali buku-buku Dini yang ia baca.
Jika ketahuan ia tengah memegang buku sang istri, sudah di pastikan Dini akan mengomelinya.
Dini membuka pintu kamar dengan pelan-pelan, lampu masih padam dan suasana hening.
Lalu ia pun masuk ke dalam dan menutup pintunya lagi.
Setelah menyalakan lampu kamar, Dini perlahan mendekat ke arah suaminya yang masih terlelap dengan langkah mengendap-endap karena takut membangunkan tidur suaminya.
''Kapri.. apa kamu beneran cinta sama aku?''
''Apa kamu tetep setia sama aku meskipun aku belum hamil?'' Dini menghela nafasnya pelan lalu menunduk sebentar.
Dini berbicara pelan seraya menatap mata yang masih terpejam itu.
Beberapa detik tatapan itu tak berpaling, ia memandangi setiap inchi wajah sang suami yang ternyata memang tampan.
Dini mengusap wajah suaminya dengan pelan-pelan, menatap wajah tampan yang dulu menjadi adiknya sekarang sudah berubah menjadi seorang pendamping hidupnya.
''Sayang..''
Dini langsung gelagapan saat kepergok suaminya yang tiba-tiba bangun dengan tangannya masih menempel di pipi Fryan.
''Ka-kamu udah bangun?'' tanya Dini menarik tangannya dengan cepat.
''He'em barusan hoaaammm..''
Fryan menggeliat sembari menutup mulutnya yang bau.
''Kangen sayang..''
''Kapriii!!''
''Ssstttttt!!''
Fryan menarik tubuh Dini dan membawa ke pelukannya membuat Dini reflek berteriak. Untung saja dengan sigap Fryan menutup mulut sang istri.
''Aku semalam susah tidur..'' ujar Fryan mengadu kepada istrinya.
''Masaa??''
''Ih kamu nggak percaya kah? beneran sayang, mungkin ini baru se jam tidur..''
''Aku percaya kok, tadi kamu denger aku ngomong apa?'' tanya Dini.
''Tadi kapan?'' tanya Fryan belum connect.
"Huhh untung Fryan nggak denger." batin Dini.
''Sudah lupakan, buruan bangun..''
Dini hendak bangkit, namun kembali di tarik oleh Fryan.
__ADS_1
''Pemanasan aja sayang, ya.. kangen..'' ujar Fryan memelas.
Melihat wajah Fryan yang menyimpan keinginan membuat Dini tak tega, akhirnya ia mengangguk pelan.
Fryan mulai memajukan wajahnya hingga hidung mereka bertemu tanpa jarak.
Meskipun baru bangun tidur, tidak mengurangi rasa yang ingin ia salurkan setelah beberapa hari harus ia tahan.
Bahkan saat ini pun hanya sebuah pemanasan mesin.
Fryan dan Dini mulai berc1uman dengan lembut, hingga semakin lama c1uman itu berubah semakin menuntut.
''Stop Fryan, aku mau bantu ibu di dapur..'' ucap Dini lirih sambil memalingkan wajahnya.
Fryan hanya bisa menghela nafas panjang dan mengiyakan ucapan sang istri.
''Nanti malam di lanjut ya.. cup''
Dini tersenyum lalu kembali menghampiri sang ibu.
..
Meskipun baru tiba di rumah, Dini langsung membawa pakaian kotornya ke mesin cuci.
Ia tidak mau larut dalam kesedihan tentang apa yang memenuhi pikirannya.
''Sayang, kamu nggak mau istirahat dulu?'' tanya Fryan.
''Aku nggak capek.'' jawab Dini sambil memasukkan pakaian kotor lalu mengisi air.
''Ya sudah, kalau capek jangan di paksain ya sayang..''
Dini mengangguk.
Ia menyisakan jeruk untuk di buat jus.
Dengan lihainya, Fryan membuat jus jeruk untuk dirinya dan juga Dini.
''Sayang, sini.. kan masih lama nunggunya.'' panggil Fryan.
Dini melangkah tanpa menjawab sepatah kata.
''Aku buat jus, semoga rasanya enak.'' Fryan menyodorkan satu gelas jus.
''Makasih.'' ucap Dini.
''Gimana? enak?'' tanya Fryan
''Enak, rasanya jeruk.'' jawab Dini datar.
''Hahaha..''
Namun tiba-tiba tawa Fryan terhenti saat sang istri tetap dengan wajah datarnya sambil menatap jus yang masih setengah.
''Sayang..''
''Iya..''
''Ada apa?'' selidik Fryan, sebenarnya ia sudah merasakan keanehan sang istri dari kemarin saat perjalanan pulang, karena saat masih di rumah Nita, sang istri masih bersikap biasa-biasa saja.
Ia belum mendengar tentang pertemuan Dini dan ibu-ibu hari itu.
__ADS_1
Kemarin Fryan mencoba berfikir positif jika diamnya Dini karena lelah.
''Apanya?'' tanya Dini balik.
''Sayang, aku sudah bilang kalau ada apa-apa jangan ada yang di tutup-tutupi..''
''Nggak kok.''
''Terus kenapa diam terus?'' tanya Fryan.
''Karena lagi nggak ngomong.'' jawab Dini sekenanya.
''Aww!!'' pekik Dini karena Fryan mencubit hidungnya.
''Kamu tuh bikin gemes.'' ungkap Fryan yang sudah menggeser kursinya.
Namun, tangannya langsung di tepis oleh Dini yang melengos.
Fryan menahan bahu Dini agar menghadapnya.
''Aku nggak akan lepasin tangan kalau kamu nggak mau jujur.'' tatap Fryan serius.
''Aku nggak papa Fryan..''
''Bohong!'' seru Fryan.
''Ma-maaf aku nggak bermaksud bentak kamu.'' ucap Fryan merasa bersalah karena membuat mata Dini berkaca-kaca.
Padahal yang Dini rasakan bukan karena seruan Fryan, ia merasakan bingung harus berbicara mulai darimana.
Fryan memeluk sang istri dengan erat, merasa sangat bersalah atas sikapnya.
''Oke nggak papa kalau kamu belum siap ngomong, tapi, aku mohon jangan ada yang di tutup-tutupi lagi..'' pinta Fryan.
''A-aku takut kamu ninggalin aku.'' ucap Dini.
Fryan mengurai pelukannya dan menatap mata sang istri dengan tatapan terkejut.
''Kenapa kamu bicara seperti itu lagi? apa aku sangat meragukan?'' selidik Fryan.
''Tidak, aku cuma takut.. aku takut tidak seperti perempuan normal lainnya, aku takut ucapan ibu-ibu itu benar kalau aku kosong.'' lirih Dini semakin menunduk.
''Ibu-ibu?''
''Ohh jadi pas di rumah kak Nita kamu di cela sama ibu-ibu disana? iya?'' selidik Fryan mengangkat dagu Dini.
Dini menyeka air matanya tanpa menjawab pertanyaan dari Fryan.
''Ok kalau tebakanku benar, mulai sekarang kamu tidak boleh bertemu sama orang-orang yang belum kamu kenal, sekalipun masih ada sangkutan saudara..'' ujar Fryan tegas.
''Sayang, aku sudah bilang sama kamu kalau aku nggak nuntut, kita ini masih di beri waktu untuk pacaran.
Sudahlah sekarang kamu harus fokus sama orang-orang terdekat yang memang benar-benar sayang dan peduli sama kita, jangan kemakan omongan orang-orang macam itu. Nanti kalau sudah waktunya, kita bisa cetak anak lima belas.'' ujar Fryan panjang lebar.
''Lima belas kebanyakan Kapri!! kamu enak tinggal nyetrum aja!'' sungut Dini membuat Fryan tidak bisa menahan gelak tawanya.
''Sudah sekarang jangan tiba-tiba diem, nggak takut kesambet kah?'' ejek Fryan membuat Dini langsung reflek mencubit pinggang sang suami.
''Enak aja!'' sungut Dini.
''Jangan diem-diem lagi ya sayang, aku selalu berdo'a untuk kita selalu menua bersama sampai melihat anak cucu sampai cicit kita sukses.''
__ADS_1
''Aamiin.. maaf.'' ucap Dini.
''I love you.. cup'' ucap Fryan lalu mendaratkan kecup4n di kening Dini dengan lembut.