
Dini memulai aktivitas paginya, membersih kotoran yang ada di dalam rumah.
Sementara Fryan lanjut tidur lagi setelah subuh.
Fryan sudah menawarkan untuk mencari pekerja, tetapi Dini menolak karena merasa dirinya sangat sanggup melakukan hal itu, toh ia juga belum memiliki aktivitas di luar.
Setelah selesai menjemur pakaian di belakang, Dini melihat jam di dinding menunjukkan pukul 7, Fryan belum juga turun.
Dini memutuskan untuk kembali ke atas melihat sang suami.
''Ya Allah.. belum bangun..'' gerutu Dini setelah membuka pintu.
Fryan masih meringkuk di tengah tempat tidur dengan menutupi seluruh tubuhnya.
''Fryan, Fryan..''
''Kaprii..''
Dini menggoyang-goyangkan kaki Fryan, namun tak kunjung bangun.
Akhirnya Dini berpindah dan membuka selimut yang menutupi tubuh suaminya.
''Kapri banguun..'' seru Dini lagi.
Hoaaammm
Fryan menguap sambil menggeliat, lalu menarik Dini untuk ikut ke dalam selimut lagi.
''Eh eh Kapri.. udah siang ini!'' protes Dini.
''Biarin, aku masih kangen.'' ujar Fryan semakin mengeratkan pelukannya
Sebetulnya ia sudah bangun, ia hanya sedang berpura-pura masih tidur untuk menjahili sang istri.
''Fryan.. udah siang, sarapannya keburu dingin, aku juga mau packing..'' gerutu Dini.
Fryan menahan tawanya mendapat laporan bernada gerutuan dari Dini.
''Kiss dulu.'' tunjuk Fryan pada keningnya.
Dini mendengus kesal, namun tetap melakukan meskipun secepat kilat.
''Sini.'' tunjuk Fryan pada pipi kanannya.
''Sini juga biar imbang.'' lanjut Fryan di pipi kirinya.
''Sini.. biar makin kokoh.'' lanjut Fryan sambil memonyongkan bibirnya.
''Lama-lama kamu ngelunjak sama Ka- eh, kamu ih udah.'' gerutu Dini hampir keceplosan menyebut Kakak.
''Ka apa tadi? kok nggak di lanjutin?'' goda Fryan.
''Kawat darurat!'' celetuk Dini.
Hahaha
''Itu gawattttt sayang, gawaaatt.''
''Istriku ternyata pinter ngelawak, buruan ini apa nggak kasian??'' tagih Fryan lanjut memonyongkan bibirnya lagi sambil membuka tutup matanya sendiri.
''Dah.'' seru Dini
''Nggak kerasa, yaudah aku aja.''
Fryan langsung balik menghujani c1uman kepada sang istri, membuat Dini yang tidak siap merasa nafasnya tersengal-sengal.
''Cuci muka sana.'' suruh Dini saat Fryan sudah melepaskan dirinya.
''Udah ya..''
''Lihat nih udah gosok gigi.'' pamer Fryan menunjukkan gigi bersihnya.
__ADS_1
''Berarti tadi iseng ngerjain aku?!'' tuduh Dini.
''Hehe maaf sayang, i love you..'' ucap Fryan merayu.
Karena kesal, Dini tidak merespon ucapan Fryan, ia langsung turun ke bawah lebih dulu meninggalkan suaminya.
Fryan mengetahui jika kesalnya Dini tidak dari hati. Ia hanya masih bingung bagaimana menggambarkan rasa yang sebenarnya.
..
''Yang, kita keluar dulu yuk ngisi BBM sekalian beli cemilan buat di jalan besok, packing nanti siang aku bantuin.'' ajak Fryan.
''Iya.'' jawab Dini nurut.
Dini dan Fryan sudah bersiap-siap menuju ke minimarket yang tidak jauh dari rumahnya.
Begitu tiba di dalam minimarket, Fryan hanya mendorong keranjangnya, sedangkan Dini yang memilih apa yang hendak di butuhkan.
Beberapa makanan ringan, kue, dan minuman rasa sudah ia ambil, tak lupa juga minyak kayu putih untuk jaga-jaga jika masuk angin menyerang.
Sekarang tinggal memesan satu dus air mineral botol tanggung, lalu menghitung jumlah belanja di meja kasir.
''Terimakasih Mbak.'' ucap Dini menerima struk belanjaannya.
Dengan di bantu karyawan minimarket, Fryan membawa belanjaannya ke dalam mobil.
''Terimakasih Mas.'' ucap Fryan kepada karyawan laki-laki tersebut.
''Sama-sama Mas.'' jawabnya sopan.
Fryan melanjutkan laju mobilnya ke SPBU untuk mengisi bahan bakar.
Dini yang tadi mengambil minuman dingin dan juga cemilan, tidak semuanya di taruh belakang.
Ada satu kantong plastik berukuran sedang yang ia pegang.
Melihat suaminya yang masih fokus dengan kemudi, Dini memiliki sebuah inisiatif.
''Ohh terimakasih sayang..'' ucap Fryan terkejut campur senang.
Sebuah senyuman tersimpul di bibir manis Dini, membuat Fryan semakin gemas.
''Fokus lihat jalan.'' ujar Dini.
''Kamu bikin aku tergila-gila.'' ungkap Fryan menggombal.
''Berarti aku nikah sama orang gila dong?'' ledek Dini.
''Hahaha ya nggak gitu konsepnya.. duh salah ngomong, auk ah yang penting aku cinta kamu.'' ucap Fryan lalu membelokkan ke SPBU dan mengantri, karena masih ada tiga mobil di depannya.
''Anak kecil gaya ngomong cinta-cintaan.'' ledek Dini lagi.
''Apa?'' tanya Fryan pura-pura tidak mendengar.
''Nggak jadi.''
''Hayo apa?''
''Kapri ih.. geli, Kapriii..''
''Hayo apaa?'' Fryan menggelitiki pinggang Dini hingga tidak bisa menahan gelak tawanya.
''Kapri ampuunn"
Tin tiiinn
Suara klakson menghentikan aktivitas Fryan yang sedang menjahili istrinya.
''Tuh kan! kamu nih.'' gerutu Dini.
Fryan masih terkekeh dan belum puas, ia kembali tancap gas untuk maju mendekat ke arah mesin dispenser.
__ADS_1
''Penuh Mbak.'' ujar Fryan yang sudah berada di luar mobil.
Operator tersebut langsung melancarkan tugasnya, sesekali melirik ke arah monitor dengan tangan satu memegangi nozzle.
Fryan membayar dengan lembaran merah kepada petugas tersebut.
''Kembalinya buat Mbak aja, beli seblak.'' ujar Fryan.
''Terimakasih Mas.'' ucap operator tersebut sumringah.
Fryan mengucapkan terimakasih juga dan langsung kembali masuk ke dalam mobil.
''Ehm, ketemu cewe cantik.'' sindir Dini setelah sudah keluar dari area SPBU dan melanjutkan arah pulang ke rumah.
''Tiap hari juga ketemu cewe cantik pake banget malahan.'' jawab Fryan yang menyadari istrinya tengah cemburu.
''Siapa?'' tanya Dini tidak mau kepedean.
''Itu anaknya pak Wahyu sama bu Hasni..'' jawab Fryan dengan senyum di tahan.
Dini yang tadinya mau ngambek menjadi langsung melengos karena takut ketahuan sedang menahan senyumnya.
Fryan mengulum senyumnya lalu mengusap rambut Dini lembut.
..
Setibanya di rumah, mereka langsung masuk ke dalam rumah, membiarkan belanjaannya yang akan di bawa besok tetap berada di dalam mobil.
''Aku mau langsung packing, biar nanti malem tinggal istirahat.'' ujar Dini.
''Yaudah ayok.''
Fryan mengambil koper yang berada di atas lemari, sedangkan Dini mengeluarkan beberapa pakaian yang akan di bawanya.
''Jangan bawa celana di atas lutut.'' ucap Fryan.
''Lah emang aku punya celana segitu?'' tanya Dini.
''Siapa tau diam-diam kamu punya.'' ujar Fryan.
''Dih nuduh.''
''Iya maaf.. aku cuma nggak mau badan kamu di lihat laki-laki lain sayang..''
Dini memilih melanjutkan untuk menyusun pakaian ke dalam koper.
''Sayang, kamu nggak penasaran sama isinya itu?'' tanya Fryan menjahili sang istri yang sedang menyusun pakaian dalamnya.
''Fryan diem aja deh!'' protes Dini menutupi rasa malunya karena ulah Fryan.
''Isinya bagus loh Yang, original made in Indonesia haha.'' ujar Fryan langsung terkekeh sendiri.
Dini yang sudah selesai packing langsung menutup koper dan meletakkan di pinggir agar tidak menghalangi jalan.
''Yaahhh di kacangin.'' keluh Fryan yang selesai tertawa sendiri.
''Haha syukurin.'' gantian Dini melepas tawa yang sedari tadi ia tahan.
''Ohh mulai jahil ya istriku, hemmm mau di apain ini??''
Fryan tidak mau kalah, ia langsung menggelitiki perut istrinya hingga Dini sampai menangis.
''Maaf.. aku becanda sayang.'' Fryan langsung memeluk Dini yang sedang menangis, ia tidak tega dan tidak bermaksud membuat sang istri menangis.
''Maafin aku ya..''
Dini terus terisak, sebenarnya ia juga tidak apa-apa, hanya geli seperti orang lain. Namun, ntah kenapa Dini selalu berujung menangis saat di gelitiki.
''Udah aku nggak papa.'' ujar Dini.
''Maaf.'' ucap Fryan lagi dengan mendaratkan kecup4n di kening Dini.
__ADS_1