Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 70 : Wuenak Puol


__ADS_3

''Jam berapa ini?''


Fryan mengusap matanya berkali-kali dan melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 06.45, cahaya sinar matahari sudah nampak masuk dari celah-celah gorden kamarnya.


Kemudian Fryan menatap sang istri yang tumben belum bangun, mungkin faktor kelelahan di perjalanan yang membuat mereka melewati subuh hingga matahari sudah terbit.


''Sayang.. sayang..''


Fryan membangunkan Dini dengan menggoyangkan bahunya pelan.


''Hemmm''


Mata Dini yang masih terasa lengket, masih berat untuk di buka.


''Sayang bangun, udah jam 7.''


Perlahan Dini membuka kedua matanya dan melihat di sekeliling.


''Kok bisa sih?'' Dini langsung terbangun dan duduk.


''Aku juga baru bangun sayang, mungkin faktor kecapean jadi kita kesiangan.'' ujar Fryan.


Dini mengusap wajahnya.


''Iya mungkin.'' balas Dini.


..


Karena tidak memiliki stok nasi yang akan di buat nasi goreng, jika mau masak dulu harus nunggu lama.


Akhirnya Fryan memutuskan membeli menu sarapan untuk mengisi tenaga mereka.


''Kamu beneran udah sehat?'' tanya Fryan.


''Iya.''


''Syukurlah.. beneran kan?'' tanya Fryan lagi.


''Iyaaa Kapriii..''


Fryan mengusap pipi Dini sekilas.


''Maaf ya sudah bikin kamu sakit.'' ujar Fryan.


''Iya, jangan di ulangi lagi ya penyebabnya.'' pinta Dini, namun tiba-tiba ia menahan tawanya.


''Eh ehh mana bisa gitu.. kalau sering-sering malah bikin kamu makin sehat loh sayang, kemarin itu kan baru grand opening haha..'' ujar Fryan diikuti gelak tawanya sampai hampir tersedak makanannya sendiri.


''Emangnya toko..'' sahut Dini lalu kembali menyuap makanannya.


Fryan masih terkekeh sendiri, antara percaya dan tidak jika ia sudah berhasil mendapatkan haknya.


''Wuenak puol ya Yang?'' goda Fryan.


''Apasih..'' gumam Dini lalu fokus kembali ke makanannya, wajahnya sudah memerah karena perkataan dari suaminya.


Sama halnya dengan sang suami, Dini juga masih belum percaya jika ia sudah memberikan apa yang seharusnya Fryan dapatkan.


Perasaannya malu sendiri jika kembali teringat malam itu, momen di saat ia dan suaminya berkeringat bersama.


Fryan mengulum senyumnya melihat wajah sang istri yang sudah merah merona.


Sedangkan Dini tidak mau menatap Fryan dulu dan memilih fokus menghabiskan makanannya.


..


''Sayang, ini baginya gimana?'' seru Fryan yang sudah mengeluarkan hasil belanjaannya.


Dini yang masih di depan mesin cuci melangkah mendekat ke arah Fryan.

__ADS_1


''Di bagi rata aja.'' jawab Dini lalu bergegas membagi oleh-oleh untuk orangtua mereka dan juga Nita.


''Langsung di antar hari ini aja ya..'' imbuhnya.


''Kamu nggak capek?'' tanya Fryan khawatir.


''Nggak kok, kan udah istirahat.'' jawab Dini seraya tersenyum.


''Yaudah iya, agak siangan aja ya sayang..''


Dini mengangguk setuju.


''Oh ya, ini yang buat Nita tolong kamu packing ya, sekalian nanti kita antar ke j*e." pinta Dini.


''Siap sayangku, cintaku, nafasku..'' jawab Fryan menggombali Dini.


''Apasih lebay deh..'' celetuk Dini, namun ia berusaha menahan senyumnya.


''Haha.. yaudah bentar aku ambil gunting sama lakban dulu.'' ujar Fryan lalu beranjak dari duduknya.


Sementara itu, Dini meletakkan oleh-oleh yang sudah di bagi untuk orang tuanya di atas meja.


Beberapa pajangan dinding yang ia beli untuk dirinya sudah ia simpan di dalam bufet karena Fryan belum sempat memasang sekarang.


''Loh mana?'' tanya Fryan celingukan mencari barang yang akan ia kemas.


''Oh itu di meja.'' tunjuk Dini lalu ikut menghampiri.


''Bentar-bentar, di pisah loh ini, nanti bajunya jadi bau makanan.'' ujar Dini lalu mengambil baju yang untuk Nita dan Aldo.


''Iya sayang, tapi nanti tetap di jadikan satu di satu kardus, masa mau pisah-pisah ngirimnya..'' protes Fryan.


''Iya maksudku juga gitu.''


''Ohhh hehe''


''Oke sayang, i love you.. muaahh''


Fryan menc1um ala sosial distancing karena ia posisi duduk dan Dini sudah melangkahkan kakinya.


Dini langsung tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya.


''Kenapa sih jadi deg-degan gini..'' ujar Dini dalam hati.


..


Setelah dari kantor ekspedisi jn*, Fryan kembali melanjutkan ke rumah mertuanya terlebih dahulu.


Setibanya di kediaman orangtua Dini, di rumah hanya ada ibu.


Sedangkan ayah masih ada kegiatan di luar.


''Terimakasih loh pake repot-repot di bawain oleh-oleh.'' ucap ibu.


''Sama-sama Bu, nggak repot kok..'' jawab Fryan.


''Itu khas daerah banget loh Bu..'' timpal Dini.


''Ohhh iya-iya, ibu juga pernah lihat videonya.''


''Dan sebetulnya ibu tuh cuma pengen satu oleh-oleh.'' imbuhnya lirih.


''Apa itu Bu?'' tanya Fryan penasaran.


Sedangkan Dini sudah menatap curiga kepada sang ibu.


''Cucu.'' jawab ibu cepat.


''Ibuuuu..'' pekik Dini.

__ADS_1


''Masih dalam proses Bu, mohon do'anya ya..'' timpal Fryan lalu tersenyum ke arah sang istri.


''Pasti nak, pasti.. Ibu selalu mendo'akan yang terbaik untuk kalian.''


Setelah menghabiskan waktu hingga makan siang dan dzuhur di kediaman ibu Hasni, sekarang mereka melanjutkan perjalanan ke rumah ayah Wildan.


''Serasa jadi kang paket haha..'' celetuk Fryan.


''Pantes juga kok.'' sahut Dini lalu menutup mulutnya karena menahan tawanya.


''Tapi, ini paket spesial dari orang spesial.''


''Widiihhh pedenya..''


''Harus doong haha..''


Tidak lama kemudian mereka tiba di kediaman ayah Wildan.


Sebelumnya Fryan juga sudah mengabari kepada ayah bahwa ia dan sang istri akan datang.


''Wajah-wajah bahagia habis honeymoon niih..'' goda ayah membuat wajah Dini langsung memerah.


''Apa nih kok repot-repot..'' timpal mama Tia.


''Nggak repot kok Ma.'' ujar Dini.


''Terimakasih sayang..'' ucapnya.


''Sama-sama Ma..''


''Kok kalian bentar banget pergi bulan madunya..'' protes ayah.


''Takut duit abis Yah, haha..'' canda Fryan.


''Dasar anak kecil..'' celetuk ayah.


''Aku sudah bukan anak kecil lagi loh Yah, coba tanyakan sama istriku.. iya kan sayang?'' Fryan mencari pembelaan, sedangkan Dini langsung gugup mau menjawab apa karena ia paham apa yang di maksud oleh Fryan.


''Hehe..''


Dini ingin rasanya mencubit sang suami yang suka seenaknya berbicara tanpa memikirkan perasaannya.


''Awas aja nanti aku cubit.'' batin Dini lalu tersenyum dengan paksa.


''Ah kamu ini, tetap anak kecil Ayah haha..'' ledek ayah lagi.


''Terserah ayah ajalah, nanti kalau anakku lahir baru kebukti bahwa si tampan Afryan bukanlah anak kecil lagi..'' ujar Fryan membanggakan dirinya.


Dini langsung melotot ke arah sang suami yang semakin tidak mengontrol perkataannya.


''Emang Dini hamil?'' tanya mama Tia dengan menatap Dini.


Dini menggeleng cepat.


''Enggak Ma.''


''Jangan bilang nggak, beluum..'' ujar Mama mengoreksi.


''Hehe iya maksudnya belum Ma, maaf tadi salah nyebut..'' kata Dini sambil nyengir memperlihatkan giginya.


''Oke ayah tunggu kalau cucu ayah sudah lahir, baru terbukti anak kecil ini sudah berubah menjadi dewasa.'' ledek ayah lagi.


''Ini ayah sama anak lagi kenapa siiihhh..'' batin Dini meronta-ronta.


''Ohya Fry, kamu ingat teman masa kecilmu si Salma?'' tanya ayah langsung mengejutkan Fryan dan Dini.


Fryan yang masih ingin becanda langsung memasang mimik wajah yang berubah, ia menatap sang istri yang juga tengah menatapnya.


Tatapan mereka sama-sama terkejut, tetapi ayah menunjukkan senyumnya saat mempertanyakan sosok itu kepada putranya.

__ADS_1


__ADS_2